Tafsir Al-Qur'an
Surah At-Takatsur
Oleh Inayatullah Hasyim, Lc, MA (Divisi Dakwah dan Pendidikan IKADI Kota Bogor)
http://pedomanku.files.wordpress.com/2010/09/102-at-takatsur.jpg
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (1) sampai kamu masuk ke dalam kubur. (2) Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (3) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (4) Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (5) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, (6) dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, (7). kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).(8)
Surah At-Takatsur termasuk dalam kategori surah Makkiyah. Artinya, ia diturunkan ketika Rasuallah saw berada di kota Makkah. Pada saat itu, bangsa Arab tengah dimabuk harta. Setiap orang berlomba-lomba mengumpulkan dan memupuk harta sebanyak-banyaknya, bahkan tak jarang saling adu pertunjukkan harta. Menurut Syeikh An-Naisaburi, surah ini diturunkan Allah swt ketika kaum Quraisy Makkah saling membanggakan harta yang mereka miliki. Tepatnya, ketika keturunan keluarga Abdul Manaf bersaing dengan keturunan keluarga Saham. Kedua keluarga itu dikenal sebagai golongan kaya yang merajai masyarakat kafir Qureisy saat itu. Hanya saja, harta yang mereka miliki hanya untuk kesombongan dan keangkuhan.
Saat ini, kita menyaksikan fenomena yang kurang lebih sama. Bahkan dengan skala yang lebih luas. Bila sebelumnya penyakit itu hanya menjangkiti masyarakat kafir di kota Makkah, kini merasuki hampir semua umat Islam di berbagai belahan dunia. Lihatlah, bagaimana para penguasa di negeri-negeri muslim hidup bermegah-megah saat rakyatnya kelaparan. Lihatlah, saat jutaan bangsa ini belum mendapat tempat tinggal yang layak, sebagian lainnya justru membangun rumah megah, memiliki apartemen mewah, memborong vila-vila di Puncak dan seterusnya. Padahal, asset itu tidak menjadi keperluan hidupnya.
Lihatlah pula pada daftar negara-negara terkorup di dunia yang dikeluarkan oleh lembaga Transparancy International dimana sebagian besar adalah negara-negara berpenduduk muslim.Sampai saat ini, Indonesia termasuk dalam daftar Sepuluh Besar negara-negara terkorup di dunia, bersama-sama dengan Bangladesh, Burma, Haiti, Chad, dan Turkmenistan. Naudzubillah.
Allah swt berfirman,
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.(1)
Kata “alhakum” memiliki kesamaan makna dengan kata “syagalakum”. Kata ini telah diserap menjadi bahasa Indonesia, masygul yang berarti sibuk. Mengapa kalian disibukkan dengan mengejar harta sehingga melupakan ketaatan kepada Allah swt? Ibn Katsir mengatakan, diriwayatkan dari Ibn Abi Hatim dari Zayid bin Aslam dari bapaknya yang berkata, telah bersabda Rasulallah saw, “Alhakumut takatsur, dari ketaatan, hatta zurtumul maqabir, sampai maut datang menjemputmu”
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah dimana dia berkata, telah bersabda Rasulallah saw “seorang hamba biasa berkata, inilah hartaku, inilah hartaku. Sesungguhnya, harta bagi seseorang itu hanya pada tiga hal. Apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu menjadi usang, apa yang ia sedekahkan, itulah yang kekal. Selain itu semua, pasti akan berlalu dan ia tinggalkan buat orang lain.” Diriwayatkan pula dari Imam Ahmad dari Matruf dari bapaknya berkata, aku datang kepada Rasulallah saw, dan beliau bersabda, “Alhakumut takatsur, anak cucu Adam biasa mengklaim, ini hartaku, ini hartaku, tidaklah sesuatu menjadi hartamu, kecuali apa yang kamu makan lalu habis, apa yang kamu pakai lalu menjadi usang dan apa yang kamu sedekahkan, itulah yang kekal.”
Sementara kata “At-Takatsur” (bermegah-megah) memiliki kesamaan akar kata dengan kata “katsir” yang berarti “banyak.” Bila kita belajar bahasa Arab, umumnya diajarkan untuk mengucapkan, “syukran katsir” (terima kasih banyak). Atau, jazakumullahu khairan katsir (semoga Allah memberimu kabaikan yang lebih banyak). Banyak hartapun tidak akan kita membawanya hingga ke liang lahat. Hal ini diingatkan oleh Rasulallah saw, sebagaiman diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik berkata, telah bersabda Rasulallah saw,“Akan menyertai seorang mayit tiga hal, dua kembali dan hanya satu yang tinggal bersamanya; keluarganya, hartanya dan amalnya. Niscaya akan akan kembali keluarga dan hartanya, hanya amalnya yang menyertainya.”
Bermegah-megahan telah menjadi ciri masyarakat Arab saat itu. Sehingga Allah swt ingatkan dengan firman-Nya.
Sampai kamu masuk ke dalam kubur. (2)
Kata maqabir adalah bentuk plural dari kata qabr yang berarti kuburan. Di dalam kitab suci al- Qur’an hanya ada sekali penyebutan kata maqabir ini. Sehingga, para ulama mengatakan, ziarah kubur merupakan obat hati di kala kita sedang alpa atau lengah dengan kematian. Nabi saw bersabda, “Aku pernah melarang kalian ziarah kubur. Maka (sekarang) ziarah kuburlah. Karena yang demikian itu membuat kalian zuhud di dunia, dan selalu ingat akhirat.”(HR Ibn Majah). Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, “Maka sesungguhnya (ziarah kubur itu) mengingatkan kalian tentang kematian”. Dari penjabaran ini, tak heran bila kemudian terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama hukum ziarah kubur, terutama bagi kaum wanita. Perbedaan pendapat tersebut dapat dirangkum berikut ini:
Pertama, sebagian ulama mengatakan ziarah kubur dikhususkan bagi kaum pria saja. Hal ini mengingat kaum pria tidak mudah tersulut emosinya saat mengunjungi makam orangorang yang disayanginya.
Lain halnya kaum wanita, mereka boleh jadi akan menangis saat melihat pusara ibu, kakak, adik atau anaknya sendiri. Menangis sebagai ungkapan emosi tentu tak ada yang melarang. Tetapi menangis di depan kuburan dapat mempengaruhi nilai keimanan seseorang. Karena, boleh jadi, ia akan meraung-raung dan meratapi keperguan sanak familinya serta melupakan bahwa semua kita milik Allah, dan hanya kepada-Nya kita akan kembali.
Kedua, sebagian mengatakan hukumnya makruh. Pendapat ini mendasari pada ungkapan hadits yang bersifat umum, di mana Rasulallah saw tidak memilah anjurannya untuk ziarah kubur. Yaitu bagi kaum pria dan wanita. Bukankah fungsi ziarah kubur adalah mengingatkan kematian, dan kematian pasti terjadi juga pada kaum wanita juga. Karena itu, menurut pendapat ini, ziarah kubur bagi wanita hendaklah dilakukan dari tempat yang agak jauh. Bila ia berbentuk pemakaman umum, kaum wanita bisa melakukannya dari balik gerbang kuburan itu sendiri.
Tentang bentuk kuburan, kita memang patut prihatin dengan umat ini. Lihatlah, berbagai bentuk kuburan yang ada di Indonesia di mana sebagian besar tak memenuhi standar syariat Islam. Ada kuburan yang dibangun dengan sangat wah, berkreamik, dibuatkan rumah, diletakan topi baja (terutama pada taman makam pahlawan) dan bahkan dijadikan mushola. Allah melaknat orang-orang Yahudi, sabda baginda Nabi saw, karena mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat shalat. Ditambah pula, ziarah kubur yang dilakukan dengan sangat keliru. Banyak di antara umat Islam yang mendatangi kuburan, membawa air di dalam kendi, meletakkannya selama sekian waktu, membawanya pulang dan meminumnya seraya mengharapkan keberkahan dari air itu. Naudzubillah.
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (3) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (4)
Dua ayat di atas menegaskan kepada kaum kafir bahwa perbuatan mereka itu (menimbun harta), pasti akan mereka lihat akibatnya. Allah swt sampai mengulang dua kali peringatan-Nya dalam surah ini. Para mufassir mengatakan, jika suatu peringatan Allah (wa’id) diulang, maka hal itu menunjukaan penegasan yang amat dahsyat.
Lalu, Allah swt berfirman,
Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (5) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, (6) dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, (7)
Tiga ayat ini bercerita lebih jauh tentang kepastian akan kematian yang menutup seluruh rangkaian nikmat dunia. Allah swt menyebutkan dengan kata, “Kalla” yang berarti “sekali-kali kalian akan melihatnya”, suatu penegasan yang telah diulang di dua ayat sebelumnya. Dengan kata lain, kaum kafir Qureish waktu itu enggan sekali menyadari bahwa kematian pasti menutup seluruh rangkaian dunia yang mereka kejar.
Oleh sebab itu, sebagian ulama menafsirkan kata “yaqin” dalam ayat ini berarti kematian. Jadi, terjemahan yang paling tepat harusnya berbunyi, Janganlah begitu, jika kamu mengetahuinya saat kematian telah datang. Untuk itulah, kita mendapati ayat Allah lainnya yang menyebutkan kata yaqin yang berarti kematian. Allah swt berfirman,
Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu kematian yang pasti terjadi. (QS:Al-Waqiah:95).
Kemudian, Allah swt menegaskan sekali lagi dengan sumpah-Nya pada ayat diatas. Dalam kaidah bahasa Arab, huruf lam adalah salah satu huruf yang i sumpah apabila diikuti dengan kata kerja aktif. Pada ayat ini, Allah bersumpah kepada kaum kafir bahwa mereka semua pasti akan melihat neraka Jahim. Suatu neraka yang diperuntukan bagi mereka yang mengingkari keimanan kepada Allah swt.
Dalam suatu hadits diceritakan bahwa pada saat manusia melintasi neraka, sebagian ada yang melintasinya dengan sangat cepat, secepat kilat menyambar. Sebagian lain secepat angin bertiup, sebagian lain laksana orang yang sedang beralari, berjalan bahkan ada yang merangkak. Mereka semua akan melihat neraka Jahim. Neraka yang didalamnya terhimpun para pendusta agama Allah swt. Allah swt berfirman,
kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah- megahkan di dunia itu). (8)
Ketika menafsirkan ayat ini, Imam al-Qurthubi merujuk pada satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Sahabat Nabi saw itu berkata bahwa pada suatu hari Rasulallah saw keluar rumah, kemudian beliau menjumpai Abu Bakar dan Umar. Rasulallah saw bertanya, “Apa yang membuat kalian keluar dari rumah kalian pada jam seperti ini?” Keduanya menjawab, “Rasa lapar, ya Rasulallah.” Rasulallah saw berkata, “Demi Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Rasa lapar juga membuat aku keluar seperti kalian. Berdirilah. Maka keduanya pun berdiri. Mereka kemudian mendatangi rumah seseorang dari kaum Anshar. Hanya saja, pemilik rumah tak ada di tempat. Istrinya kemudian berkata, “Marhaban wa Ahlan”. Rasulallah saw lalu bertanya, “di mana si fulan ini?” “Ia sedang mengambil air bersih untuk kami, ya Rasulallah”.
Tak lama kemudian, laki-laki Anshar itu datang. Ia memandangi Rasulallah dan dua sahabatnya seraya berkata, “Alhamdulillah, tak ada seorangpun tamu yang lebih mulia bagiku pada hari ini. Ia kemudian permisi sebentar. Rupanya, laki-laki itu datang dengan membawa setangkai buah kurma. “Makanlah dari buah-buah ini.” Ia kemudian mengambil pisau. Rasulallah saw berkata,“Tak usahlah kau menyembelih domba perahanmu itu.” Ia malah menyembelihnya dan memasaknya kemudian menghidangkannya pada Rasulallah saw.
Setelah menikmati hidangan itu, Rasulallah saw bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Demi Allah, yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kalian akan ditanya tentang kenikmatan hari ini, pada hari kiamat kelak. Kalian keluar dari rumah dalam keadaan lapar, kemudian kalian tak kembali sampai menjumpai kenikmatan ini.” Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan, “Demi Allah, yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya. Di antara nikmat Allah yang akan dimintai pertanggungannya pada hari kiamat adalah tempat berteduh yang sejuk, kurma (muda) yang baik dan air yang dingin.”
Kabarnya, laki-laki Anshar yang dikunjungi Rasulallah saw dan dua sahabatnya itu adalah Abu Haitsan bin Taihan. Menurut al-Qurtubi, Abu Haitsan adalah kuniyah dari seseorang yang bernama asli Malik bin Taihan.
Menyikapi ayat di atas, dan kisah dalam hadits barusan, para ulama kemudian berbeda pendapat tentang nikmat-nikmat yang akan kita pertanggung-jawabkan di hari akhir kelak. Perbedaan pendapat itu terangkum dalam keterangan berikut ini.
Pertama, nikmat sehat dan waktu luang. Demikian dikatakan oleh Sa’id bin Zubair. Dasarnya adalah hadits Rasulallah saw, “Ada dua nikmat dari berbagai nikmat Allah yang orang seringkali tertipu; nikmat sehat dan waktu luang.”
Kedua, nikmat pandangan dan pendengaran. Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS: Al-Isra’: 36)
Ketiga: kenikmatan makanan dan minuman, demikian dikatakan oleh Jabir bin Abdullah al-Anshari.
Keempat: perut yang kenyang, minuman yang menyegarkan, tempat tinggal yang sejuk, tidur yang lelap dan kesempurnaan penciptaan. Demikian dikatakan oleh Imam al-Mawardi dalam kitab tafsirnya. Demikianlah kira-kira nikmat-nikmat dunia yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah swt kelak. Tentu saja, semua terpulang pada kita, apakah kita pandai mensyukuri nikmat atau sebaliknya. Jangan sampai, kita hanya sibuk menumpuk-numpuk harta dan tak pernah mau mendermakannya pada jalan kebaikan.
Wallahua’lam bis showab.
AlFaqir H.AHMAD SYAIKHUDDIN bin M.DJAELANI ALKHUDRY
Private Blog's H.Ahmad Saichudin
Senin, Desember 26, 2011
Sikap Resmi NU dan Muhammadiyah tentang Natal, Doa Bersama, Menjaga Gereja dll
Dari milist keadilan4all. Syukran utk akh Satriyo yang sudah memposting.
Wassalam, Asc
Sikap Resmi NU dan Muhammadiyah tentang Natal, Doa Bersama, Menjaga Gereja dll.
Sent: Dec 27, 2011 10:47
Salam,
Berikut ada artikel menarik dan sangat bermanfaat. Silakan disebar-luaskan!
salam,
--
Satriyo
"Don't be so quick to judge, you never know when you might just find
yourself walking in that person's shoes"
Saya copas bila memang attachment tidak bisa diterima milis.
*SIKAP NU DAN MUHAMMADIYAH *
*Tentang*
*Doa Bersama Lintas Agama, Natal Bersama, Ucapan Selamat Natal, Menjaga
Gereja, dll. *
*
*
*
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*
* *
*Rahmatan Lil-‘Alamin** **d**an Toleransi *
Oleh: Muhammad Idrus Ramli
(Pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr PWNU Jawa Timur)
Umat Islam tentu meyakini misi *rahmatan lil-‘alamin*, sebab istilah *rahmatan
lil-‘alamin* telah dinyatakan oleh al-Qur’an. Istilah *rahmatan
lil-‘alamin*dipetik dari salah satu ayat al-Qur’an,
*“Ma maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).”* (QS
al-Anbiya’ : 107).
Dalam ayat itu, “*rahmatan lil-‘alamin**”* secara tegas dikaitkan dengan
kerasulan Nabi Muhammad saw. Artinya, Allah tidaklah menjadikan Nabi saw
sebagai rasul, kecuali karena kerasulan beliau menjadi rahmat bagi semesta
alam. Karena rahmat yang diberikan Allah kepada semesta alam ini dikaitkan
dengan kerasulan Nabi saw, maka umat manusia dalam menerima bagian dari
rahmat tersebut berbeda-beda. Ada yang menerima rahmat tersebut dengan
sempurna, dan ada pula yang menerima rahmat tersebut tidak sempurna.
Ibnu Abbas *radhiyallahu ‘anhuma, *sahabat Nabi saw, pakar dalam Ilmu Tafsir
menyatakan: “Orang yang beriman kepada Nabi saw, maka akan memperoleh
rahmat Allah dengan sempurna di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang
tidak beriman kepada Nabi saw, maka akan diselamatkan dari azab yang
ditimpakan kepada umat-umat terdahulu ketika masih di dunia seperti dirubah
menjadi hewan atau dilemparkan batu dari langit.” Demikian penafsiran yang
dinilai paling kuat oleh al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi dalam
tafsirnya, *al-Durr
al-Mantsur*.
Penafsiran di atas diperkuat dengan hadits shahih yang menegaskan
bahwa *rahmatan
lil-‘alamin* telah menjadi karakteristik Nabi saw dalam dakwahnya. Ketika
sebagian sahabat mengusulkan kepada beliau, agar mendoakan keburukan bagi
orang-orang Musyrik, Nabi saw menjawab: *“Aku diutus bukanlah sebagai
pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat.” *(HR. Muslim).
Penafsiran di atas memberikan gambaran, bahwa karakter *rahmatan lil-‘alamin
* memiliki keterkaitan sangat erat dengan kerasulan Nabi saw. Dalam
kitab-kitab Tafsir, tidak ditemukan keterkaitan makna *rahmatan
lil-‘alamin*dengan sikap toleransi yang berlebih-lebihan dengan
komunitas
non-Muslim. Ini berangkat dari kenyataan bahwa *rahmatan
lil-‘alamin*sangat erat kaitannya dengan kerasulan Nabi saw,
yakni penyampaian ajaran Islam kepada umatnya.
*Maka seorang Muslim, dalam menghayati dan menerapkan pesan Islam rahmatan
lil-‘alamin tidak boleh menghilangkan misi dakwah yang dibawa oleh Islam
itu sendiri**. Misalnya, **memberikan khotbah dalam acara kebaktian agama
lain, menjaga keamanan tempat ibadah **agama lain **dan acara ritual agama
lain, atau doa bersama lintas agama dengan alasan **itu adalah
“**Islam rahmatan
lil-‘alamin**”**. ** Kegiatan-kegiatan semacam itu justru **mengaburkan
makna rahmatan lil-‘alamin yang berkaitan erat dengan misi dakwah Islam**.**
*
Sebagaimana dimaklumi, selain sebagai *rahmatan lil-‘alamin*, Nabi saw
diutus juga bertugas sebagai *basyiiran wa nadziiran
lil-‘aalamiin*(pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada
seluruh alam).
*“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada
hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”* (QS.
al-Furqan : 1). *“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat
manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan (basyiiran wa nadziiran), tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahui.” *(QS. Saba’ : 28). Sebagai pengejawantahan dari ayat-ayat ini,
seorang Muslim dalam interaksinya dengan orang lain, selain harus
menerapkan watak *rahmatan lil-‘alamin*, juga bertanggungjawab menyebarkan
misi *basyiran wa nadziran lil-‘alamin*.
Islam tidak melarang umatnya berinteraksi dengan komunitas agama lain.
Rahmat Allah yang diberikan melalui Islam, tidak mungkin dapat disampaikan
kepada umat lain, jika komunikasi dengan mereka tidak berjalan baik. Karena
itu, para ulama fuqaha dari berbagai madzhab membolehkan seorang Muslim
memberikan sedekah sunnah kepada non Muslim yang bukan *kafir harbi*.
Demikian pula sebaliknya, seorang Muslim diperbolehkan menerima bantuan dan
hadiah yang diberikan oleh non Muslim. Para ulama fuqaha juga mewajibkan
seorang Muslim memberi nafkah kepada istri, orang tua dan anak-anak yang
non Muslim.
Di sisi lain, karena seorang Muslim bertanggungjawab menerapkan *basyiran
wa nadziran lil-‘alamin*, Islam melarang umatnya berinteraksi dengan non
Muslim dalam hal-hal yang dapat menghapus misi dakwah Islam terhadap
mereka. Mayoritas ulama fuqaha tidak memperbolehkan seorang Muslim menjadi
pekerja tempat ibadah agama lain, seperti menjadi tukang kayu, pekerja
bangunan dan lain sebagainya, karena hal itu termasuk menolong orang lain
dalam hal kemaksiatan, ciri khas dan syiar agama mereka yang salah dalam
pandangan Islam. *“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
berat siksa-Nya.” *(QS. al-Ma’idah : 2).
* *
*Doa Lintas Agama*
Doa bersama lintas agama, dewasa ini juga agak marak dilakukan.
Sebagian beralasan
Islam *rahmatan lil-‘alamin*. Padahal, karakter *rahmatan
lil-‘alamin*, sebenarnya
tidak ada kaitannya dengan doa bersama lintas agama. Sebagaimana dimaklumi,
doa merupakan inti dari pada ibadah (*mukhkhul ‘ibadah*), yang dilakukan
oleh seorang hamba kepada Tuhan. Tidak jarang, seorang Muslim berdoa kepada
Allah, dengan harapan memperoleh pertolongan agar segera keluar dari
kesulitan yang sedang dihadapi. Tentu saja, ketika seseorang berharap agar
Allah segera mengabulkan doanya, ia harus lebih berhati-hati, memperbanyak
ibadah, bersedekah, bertaubat dan melakukan kebajikan-kebajikan lainnya.
Dalam hal ini, semakin baik jika ia memohon doa kepada orang-orang saleh
yang dekat kepada Allah. Hal ini sebagaimana telah dikupas secara mendalam
oleh para ulama fuqaha dalam bab *shalat istisqa’* (mohon diturunkannya
hujan) dalam kitab-kitab fiqih.
Ada dua pendapat di kalangan ulama fuqaha, tentang hukum menghadirkan kaum
non Muslim untuk doa bersama dalam shalat istisqa’. *Pertama*, menurut
mayoritas ulama (madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali), tidak dianjurkan dan
makruh menghadirkan non Muslim dalam doa bersama dalam shalat istisqa’.
Hanya saja, seandainya mereka menghadiri acara tersebut dengan inisiatif
sendiri dan tempat mereka tidak berkumpul dengan umat Islam, maka itu tidak
berhak dilarang.
*Kedua*, menurut madzhab Hanafi dan sebagian pengikut Maliki, bahwa non
Muslim tidak boleh dihadirkan atau hadir sendiri dalam acara doa bersama
shalat istisqa’, karena mereka tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah
dengan berdoa. Doa *istisqa’* ditujukan untuk memohon turunnya rahmat dari
Allah, sedangkan rahmat Allah tidak akan turun kepada mereka. Demikian
kesimpulan pendapat ulama fuqaha dalam kitab-kitab fiqih. Maka, jika doa
diharapkan mendatangkan rahmat dari Allah, sebaiknya didatangkan orang-orang
saleh yang dekat kepada Allah, bukan mendatangkan orang-orang yang yang
jauh dari kebenaran.
Forum *Bahtsul Masail al-Diniyah al-Waqi’iyyah* Muktamar NU di PP Lirboyo
Kediri, 21-27 November 1999, menyatakan, bahwa “*Doa Bersama Antar Umat
Beragama*” hukumnya haram. Diantara dalil yang mendasarinya: Kitab *Mughnil
Muhtaj*, Juz I hal. 232:* “Wa laa yajuuzu an-yuammina ‘alaa du’aa-ihim
kamaa qaalahu ar-Rauyani li-anna du’aal kaafiri ghairul maqbuuli.” *(Lebih
jauh, lihat: *Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam:
Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), *penerbit:
Lajtah Ta’lif wan-Nasyr, NU Jatim, cet.ke-3, 2007, hal. 532-534). (*Wallahu
a’lam**)*. (***)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Tas**â**muh**: Dulu dan Kini *
Oleh: Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.
*Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah*
* *
* *
Baik secara konsep maupun aplikasi dalam sejarah, Islam mengajarkan
toleransi yang luhur atas dasar tanggungjawab di hadapan Allah SWT.
Al-Quran mengajarkan: “*Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena
itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, Maka
Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tak
kan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.*”( QS
Al-Baqarah:256). ”*Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka
sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui
batas tanpa pengetahuan.” (*QS. Al-An’am:108)
Prinsip-prinsip keadilan dan apresiasi yang tinggi terhadap fakta pluralitas
masyarakat telah menjadikan masyarakat profetik Madinah tampil melampaui
zamannya yang sarat dengan tribalisme Arab. Terhadap hak-hak non muslim *
dzimmi*, Rasulullah saw bersabda: “*Barang siapa menzalimi non muslim yang
terikat perjanjian dengan Islam, menghinakannya, membebaninya di luar batas
kemampuannya, atau mengambil hartanya tanpa kerelaannya maka, akulah
lawannya pada hari kiamat kelak”* (HR Abu Dawud). “*Barangsiapa membunuh
sesorang dari ahli dzimmah, ia takkan mendapatkan wangi surga, padahal
wanginya bisa didapatkan dari jarak perjalanan selama tujuhpuluh tahun”*
(HR.Nasa’i).
Sikap toleran dan ketegasan dalam prinsip-prinsip Islam pernah ditunjukkan
oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah yang kini memasuki
usianya ke-102 tahun. Afiliasi dan keberpihakannya kepada Islam sangatlah
jelas. Dalam konteks hubungan antar agama dan umat beragama beliau bukanlah
pengusung faham Pluralisme ataupun sekularisme. Bahkan menurut Alwi Shihab,
Muhammadiyah didirikan justeru sebagai respon terhadap praktek keagamaan
yang menyimpang, gerakan Kristenisasi dan gerakan Freemason yang mengusung
slogan kebebasan dengan jargonnya : *liberty, egality* dan *fraternity.*(Alwi
Shihab:1998).* *
Tidak dinafikan, KH Ahmad Dahlan merupakan sosok yang berpikiran maju,
terbuka dan toleran. Hal tersebut membuat Dokter Soetomo, seorang elite
priyayi Jawa dan salah seorang pemimpin Budi Utomo kepincut dengan
Muhammadiyah dan bersedia menjadi advisor *Hooft Bestuur* Muhammadiyah masa
itu. Beliau juga sering berdialog pemuka agama Kristen. Diantaranya ialah;
Pastur van Lith, Pastur van Driesse dan Domine Bekker. Keterbukaan beliau
memang luar biasa, namun perlu dicatat secara adil sikap tegas KH Ahmad
Dahlan dalam beraqidah.
Dalam dialognya bersama KH Ahmad Dahlan, Domine Bekker selalu
berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya dan akhirnya pendiri
Muhammadiyah ini mengajukan tantangan kepada pemuka Kristen untuk keluar
dari agama masing-masing lalu mencari dan menyelidiki agama masing-masing.
Demikian pula dialog terbuka Kyai Dahlan dengan seorang pemuka gereja, Dr.
Lamberton yang akhirnya berujar, ”*Maaf, saya tetap berpegang kepada agama
jang dipeluk oleh nenek mojang saya, karena ini menjadi kewajiban
saya. *(Yusron
Asrofi:*Kyai AhmadDahlan: Pemikiran & Kepemimpinannya, 2005*).
Pada 1969, tokoh Muhammadiyah KH Ahmad Azhar Basyir, MA menyampaikan kuliah
tentang Muhammadiyah di Akademi Kateketik Katolik Yogyakarta. Secara tulus
Kyai Azhar Basyir menyampaikan ucapan terima kasih, bahkan merasa mendapat
kehormatan dengan undangan dari Institusi Katolik tersebut. Ketika itu,
Kyai Azhar Basyir menyampaikan ceramah dengan judul: “*Mengapa Muhammadiyah
Muhammadijah berjuang menegakkan tauhid jang murni?”.*
Kata Sang Kyai, “Karena Muhammadijah yakin benar-benar, dan ini adalah
keyakinan seluruh umat Islam, bahwa tauhid jang murni adalah ajaran Allah
sendiri. Segala ajaran jang bertendensi menanamkan kepercayaan “Tuhan
berbilang” bertentangan dengan ajaran Allah. Dan oleh karena keyakinan
“Tuhan berbilang” itu menyinggung keesaan Tuhan jang mutlak, maka keyakinan
“Tuhan berbilang” itu benar-benar dimurkai Allah. Tauhid murni mengajarkan
keesaan Tuhan secara mutlak. Kepercayaan bahwa sesuatu atau seseorang
selain Allah mempunjai sifat ke-Tuhanan, disebut “syirik”. Syirik adalah
perbuatan dosa terbesar jang tidak diampuni Allah.”
Sikap toleran, keterbukaan dan keteguhan iman KH Ahmad Dahlan, dan KH Ahmad
Azhar Basyir terbaca di atas seharusnya menjadi referensi keteladanan ya
Wassalam, Asc
Sikap Resmi NU dan Muhammadiyah tentang Natal, Doa Bersama, Menjaga Gereja dll.
Sent: Dec 27, 2011 10:47
Salam,
Berikut ada artikel menarik dan sangat bermanfaat. Silakan disebar-luaskan!
salam,
--
Satriyo
"Don't be so quick to judge, you never know when you might just find
yourself walking in that person's shoes"
Saya copas bila memang attachment tidak bisa diterima milis.
*SIKAP NU DAN MUHAMMADIYAH *
*Tentang*
*Doa Bersama Lintas Agama, Natal Bersama, Ucapan Selamat Natal, Menjaga
Gereja, dll. *
*
*
*
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*
* *
*Rahmatan Lil-‘Alamin** **d**an Toleransi *
Oleh: Muhammad Idrus Ramli
(Pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr PWNU Jawa Timur)
Umat Islam tentu meyakini misi *rahmatan lil-‘alamin*, sebab istilah *rahmatan
lil-‘alamin* telah dinyatakan oleh al-Qur’an. Istilah *rahmatan
lil-‘alamin*dipetik dari salah satu ayat al-Qur’an,
*“Ma maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).”* (QS
al-Anbiya’ : 107).
Dalam ayat itu, “*rahmatan lil-‘alamin**”* secara tegas dikaitkan dengan
kerasulan Nabi Muhammad saw. Artinya, Allah tidaklah menjadikan Nabi saw
sebagai rasul, kecuali karena kerasulan beliau menjadi rahmat bagi semesta
alam. Karena rahmat yang diberikan Allah kepada semesta alam ini dikaitkan
dengan kerasulan Nabi saw, maka umat manusia dalam menerima bagian dari
rahmat tersebut berbeda-beda. Ada yang menerima rahmat tersebut dengan
sempurna, dan ada pula yang menerima rahmat tersebut tidak sempurna.
Ibnu Abbas *radhiyallahu ‘anhuma, *sahabat Nabi saw, pakar dalam Ilmu Tafsir
menyatakan: “Orang yang beriman kepada Nabi saw, maka akan memperoleh
rahmat Allah dengan sempurna di dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang
tidak beriman kepada Nabi saw, maka akan diselamatkan dari azab yang
ditimpakan kepada umat-umat terdahulu ketika masih di dunia seperti dirubah
menjadi hewan atau dilemparkan batu dari langit.” Demikian penafsiran yang
dinilai paling kuat oleh al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi dalam
tafsirnya, *al-Durr
al-Mantsur*.
Penafsiran di atas diperkuat dengan hadits shahih yang menegaskan
bahwa *rahmatan
lil-‘alamin* telah menjadi karakteristik Nabi saw dalam dakwahnya. Ketika
sebagian sahabat mengusulkan kepada beliau, agar mendoakan keburukan bagi
orang-orang Musyrik, Nabi saw menjawab: *“Aku diutus bukanlah sebagai
pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat.” *(HR. Muslim).
Penafsiran di atas memberikan gambaran, bahwa karakter *rahmatan lil-‘alamin
* memiliki keterkaitan sangat erat dengan kerasulan Nabi saw. Dalam
kitab-kitab Tafsir, tidak ditemukan keterkaitan makna *rahmatan
lil-‘alamin*dengan sikap toleransi yang berlebih-lebihan dengan
komunitas
non-Muslim. Ini berangkat dari kenyataan bahwa *rahmatan
lil-‘alamin*sangat erat kaitannya dengan kerasulan Nabi saw,
yakni penyampaian ajaran Islam kepada umatnya.
*Maka seorang Muslim, dalam menghayati dan menerapkan pesan Islam rahmatan
lil-‘alamin tidak boleh menghilangkan misi dakwah yang dibawa oleh Islam
itu sendiri**. Misalnya, **memberikan khotbah dalam acara kebaktian agama
lain, menjaga keamanan tempat ibadah **agama lain **dan acara ritual agama
lain, atau doa bersama lintas agama dengan alasan **itu adalah
“**Islam rahmatan
lil-‘alamin**”**. ** Kegiatan-kegiatan semacam itu justru **mengaburkan
makna rahmatan lil-‘alamin yang berkaitan erat dengan misi dakwah Islam**.**
*
Sebagaimana dimaklumi, selain sebagai *rahmatan lil-‘alamin*, Nabi saw
diutus juga bertugas sebagai *basyiiran wa nadziiran
lil-‘aalamiin*(pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada
seluruh alam).
*“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada
hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”* (QS.
al-Furqan : 1). *“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat
manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan (basyiiran wa nadziiran), tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahui.” *(QS. Saba’ : 28). Sebagai pengejawantahan dari ayat-ayat ini,
seorang Muslim dalam interaksinya dengan orang lain, selain harus
menerapkan watak *rahmatan lil-‘alamin*, juga bertanggungjawab menyebarkan
misi *basyiran wa nadziran lil-‘alamin*.
Islam tidak melarang umatnya berinteraksi dengan komunitas agama lain.
Rahmat Allah yang diberikan melalui Islam, tidak mungkin dapat disampaikan
kepada umat lain, jika komunikasi dengan mereka tidak berjalan baik. Karena
itu, para ulama fuqaha dari berbagai madzhab membolehkan seorang Muslim
memberikan sedekah sunnah kepada non Muslim yang bukan *kafir harbi*.
Demikian pula sebaliknya, seorang Muslim diperbolehkan menerima bantuan dan
hadiah yang diberikan oleh non Muslim. Para ulama fuqaha juga mewajibkan
seorang Muslim memberi nafkah kepada istri, orang tua dan anak-anak yang
non Muslim.
Di sisi lain, karena seorang Muslim bertanggungjawab menerapkan *basyiran
wa nadziran lil-‘alamin*, Islam melarang umatnya berinteraksi dengan non
Muslim dalam hal-hal yang dapat menghapus misi dakwah Islam terhadap
mereka. Mayoritas ulama fuqaha tidak memperbolehkan seorang Muslim menjadi
pekerja tempat ibadah agama lain, seperti menjadi tukang kayu, pekerja
bangunan dan lain sebagainya, karena hal itu termasuk menolong orang lain
dalam hal kemaksiatan, ciri khas dan syiar agama mereka yang salah dalam
pandangan Islam. *“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
berat siksa-Nya.” *(QS. al-Ma’idah : 2).
* *
*Doa Lintas Agama*
Doa bersama lintas agama, dewasa ini juga agak marak dilakukan.
Sebagian beralasan
Islam *rahmatan lil-‘alamin*. Padahal, karakter *rahmatan
lil-‘alamin*, sebenarnya
tidak ada kaitannya dengan doa bersama lintas agama. Sebagaimana dimaklumi,
doa merupakan inti dari pada ibadah (*mukhkhul ‘ibadah*), yang dilakukan
oleh seorang hamba kepada Tuhan. Tidak jarang, seorang Muslim berdoa kepada
Allah, dengan harapan memperoleh pertolongan agar segera keluar dari
kesulitan yang sedang dihadapi. Tentu saja, ketika seseorang berharap agar
Allah segera mengabulkan doanya, ia harus lebih berhati-hati, memperbanyak
ibadah, bersedekah, bertaubat dan melakukan kebajikan-kebajikan lainnya.
Dalam hal ini, semakin baik jika ia memohon doa kepada orang-orang saleh
yang dekat kepada Allah. Hal ini sebagaimana telah dikupas secara mendalam
oleh para ulama fuqaha dalam bab *shalat istisqa’* (mohon diturunkannya
hujan) dalam kitab-kitab fiqih.
Ada dua pendapat di kalangan ulama fuqaha, tentang hukum menghadirkan kaum
non Muslim untuk doa bersama dalam shalat istisqa’. *Pertama*, menurut
mayoritas ulama (madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali), tidak dianjurkan dan
makruh menghadirkan non Muslim dalam doa bersama dalam shalat istisqa’.
Hanya saja, seandainya mereka menghadiri acara tersebut dengan inisiatif
sendiri dan tempat mereka tidak berkumpul dengan umat Islam, maka itu tidak
berhak dilarang.
*Kedua*, menurut madzhab Hanafi dan sebagian pengikut Maliki, bahwa non
Muslim tidak boleh dihadirkan atau hadir sendiri dalam acara doa bersama
shalat istisqa’, karena mereka tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah
dengan berdoa. Doa *istisqa’* ditujukan untuk memohon turunnya rahmat dari
Allah, sedangkan rahmat Allah tidak akan turun kepada mereka. Demikian
kesimpulan pendapat ulama fuqaha dalam kitab-kitab fiqih. Maka, jika doa
diharapkan mendatangkan rahmat dari Allah, sebaiknya didatangkan orang-orang
saleh yang dekat kepada Allah, bukan mendatangkan orang-orang yang yang
jauh dari kebenaran.
Forum *Bahtsul Masail al-Diniyah al-Waqi’iyyah* Muktamar NU di PP Lirboyo
Kediri, 21-27 November 1999, menyatakan, bahwa “*Doa Bersama Antar Umat
Beragama*” hukumnya haram. Diantara dalil yang mendasarinya: Kitab *Mughnil
Muhtaj*, Juz I hal. 232:* “Wa laa yajuuzu an-yuammina ‘alaa du’aa-ihim
kamaa qaalahu ar-Rauyani li-anna du’aal kaafiri ghairul maqbuuli.” *(Lebih
jauh, lihat: *Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam:
Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), *penerbit:
Lajtah Ta’lif wan-Nasyr, NU Jatim, cet.ke-3, 2007, hal. 532-534). (*Wallahu
a’lam**)*. (***)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Tas**â**muh**: Dulu dan Kini *
Oleh: Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I.
*Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah*
* *
* *
Baik secara konsep maupun aplikasi dalam sejarah, Islam mengajarkan
toleransi yang luhur atas dasar tanggungjawab di hadapan Allah SWT.
Al-Quran mengajarkan: “*Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena
itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, Maka
Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tak
kan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.*”( QS
Al-Baqarah:256). ”*Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka
sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui
batas tanpa pengetahuan.” (*QS. Al-An’am:108)
Prinsip-prinsip keadilan dan apresiasi yang tinggi terhadap fakta pluralitas
masyarakat telah menjadikan masyarakat profetik Madinah tampil melampaui
zamannya yang sarat dengan tribalisme Arab. Terhadap hak-hak non muslim *
dzimmi*, Rasulullah saw bersabda: “*Barang siapa menzalimi non muslim yang
terikat perjanjian dengan Islam, menghinakannya, membebaninya di luar batas
kemampuannya, atau mengambil hartanya tanpa kerelaannya maka, akulah
lawannya pada hari kiamat kelak”* (HR Abu Dawud). “*Barangsiapa membunuh
sesorang dari ahli dzimmah, ia takkan mendapatkan wangi surga, padahal
wanginya bisa didapatkan dari jarak perjalanan selama tujuhpuluh tahun”*
(HR.Nasa’i).
Sikap toleran dan ketegasan dalam prinsip-prinsip Islam pernah ditunjukkan
oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah yang kini memasuki
usianya ke-102 tahun. Afiliasi dan keberpihakannya kepada Islam sangatlah
jelas. Dalam konteks hubungan antar agama dan umat beragama beliau bukanlah
pengusung faham Pluralisme ataupun sekularisme. Bahkan menurut Alwi Shihab,
Muhammadiyah didirikan justeru sebagai respon terhadap praktek keagamaan
yang menyimpang, gerakan Kristenisasi dan gerakan Freemason yang mengusung
slogan kebebasan dengan jargonnya : *liberty, egality* dan *fraternity.*(Alwi
Shihab:1998).* *
Tidak dinafikan, KH Ahmad Dahlan merupakan sosok yang berpikiran maju,
terbuka dan toleran. Hal tersebut membuat Dokter Soetomo, seorang elite
priyayi Jawa dan salah seorang pemimpin Budi Utomo kepincut dengan
Muhammadiyah dan bersedia menjadi advisor *Hooft Bestuur* Muhammadiyah masa
itu. Beliau juga sering berdialog pemuka agama Kristen. Diantaranya ialah;
Pastur van Lith, Pastur van Driesse dan Domine Bekker. Keterbukaan beliau
memang luar biasa, namun perlu dicatat secara adil sikap tegas KH Ahmad
Dahlan dalam beraqidah.
Dalam dialognya bersama KH Ahmad Dahlan, Domine Bekker selalu
berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya dan akhirnya pendiri
Muhammadiyah ini mengajukan tantangan kepada pemuka Kristen untuk keluar
dari agama masing-masing lalu mencari dan menyelidiki agama masing-masing.
Demikian pula dialog terbuka Kyai Dahlan dengan seorang pemuka gereja, Dr.
Lamberton yang akhirnya berujar, ”*Maaf, saya tetap berpegang kepada agama
jang dipeluk oleh nenek mojang saya, karena ini menjadi kewajiban
saya. *(Yusron
Asrofi:*Kyai AhmadDahlan: Pemikiran & Kepemimpinannya, 2005*).
Pada 1969, tokoh Muhammadiyah KH Ahmad Azhar Basyir, MA menyampaikan kuliah
tentang Muhammadiyah di Akademi Kateketik Katolik Yogyakarta. Secara tulus
Kyai Azhar Basyir menyampaikan ucapan terima kasih, bahkan merasa mendapat
kehormatan dengan undangan dari Institusi Katolik tersebut. Ketika itu,
Kyai Azhar Basyir menyampaikan ceramah dengan judul: “*Mengapa Muhammadiyah
Muhammadijah berjuang menegakkan tauhid jang murni?”.*
Kata Sang Kyai, “Karena Muhammadijah yakin benar-benar, dan ini adalah
keyakinan seluruh umat Islam, bahwa tauhid jang murni adalah ajaran Allah
sendiri. Segala ajaran jang bertendensi menanamkan kepercayaan “Tuhan
berbilang” bertentangan dengan ajaran Allah. Dan oleh karena keyakinan
“Tuhan berbilang” itu menyinggung keesaan Tuhan jang mutlak, maka keyakinan
“Tuhan berbilang” itu benar-benar dimurkai Allah. Tauhid murni mengajarkan
keesaan Tuhan secara mutlak. Kepercayaan bahwa sesuatu atau seseorang
selain Allah mempunjai sifat ke-Tuhanan, disebut “syirik”. Syirik adalah
perbuatan dosa terbesar jang tidak diampuni Allah.”
Sikap toleran, keterbukaan dan keteguhan iman KH Ahmad Dahlan, dan KH Ahmad
Azhar Basyir terbaca di atas seharusnya menjadi referensi keteladanan ya
Kamis, Desember 15, 2011
Marilah Sejahtera Dan Berdaya “Belajar Dari Salafus Shalih”
Marilah Sejahtera Dan Berdaya “Belajar Dari Salafus Shalih”
Oleh: Nugroho Widiyantoro (Sekbid Pengemb Ekonomi & Kewirausahaan DPP PKS)
Kiriman dari milist sebelah oleh Agus Cuprit
Dilarang Miskin
Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya) (QS. Al An’am: 115)
Marilah Kaya Dan Sejahtera
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? (QS. Ad-Dhuha: 6)
maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh: 10-12)
نعم المال الصالح للمرء الصالح (رواه احمد والطبراني
Kata Mal atau Amwal disebut dalam Al Quran sebanyak 86x (25 Mal, 61 Amwal)*, bandingkan dengan Sholat 59x, Shoum/Shiyam 13x, dsb
“Empat perkara standar kebahagiaan; istri sholihah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat perkara standar kesengsaraan; tetangga yang buruk (akhlak), istri yang buruk (akhlak), tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan ang buruk (Shohih ibnu Hibban no: 4107, dishohihkan oleh al-Albani dalam shohihut targhib no: 2576)
Rasulullah SAW
7 thn. Magang – menggembala. Ratusan kambing pamannya, Abu Thalib. “product knowledge”.
12 thn. Magang – dagang. Ekspor-impor. Irak, Yordan, Bahrain, Suriah dan Yaman “business expertise”.
17 thn. Full mengelola bisnis pamannya.
20 – 25 thn. CEO Perusahaan Khadijah; omset meroket, laba luar biasa.
Menikahi Khadijah, mahar : 100 unta! Semua harta diinfaqkan di jalan dakwah. Sehingga seandainya punya emas segunung Uhud (HR Bukhari)
Abu Bakr
Saudagar besar yang dermawan.
Budget membebaskan budak-budak; 40.000 dirham ~ Rp. 6,8 Milyar.
Berinfaq dengan 100% hartanya 2x :
Hijrah menemani Nabi Saw. 5000 – 6000 dirham ~ Rp. 1 Milyar. Asma’ binti Abu Bakar sampai menenangkan kakeknya, Abu Quhafah, dengan menimbun batu dalam karung.. (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 442)
Infaq pada Perang Tabuk mengalahkan Umar bin Khattab (HR Tirmidzi).
Umar Bin Khattab
Saudagar besar yang dermawan.
Ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang.
Kekayaan Abu Bakar boleh jadi setara atau lebih besar karena Umar selalu tidak mampu mengalahkan Abu Bakar dalam berinfaq.
Utsman bin Affan
Saudagar besar yang dermawan. Pedagang kain ternama dan hewan ternaknya paling banyak.
Sumur Wakaf ex-yahudi. 200 rb dirham ~ Rp. 34 Milyar.
Mengcover perluasan Masjid Madinah. Tmsk pembebasan lahan sekitarnya.
Donasi Tabuk. Logistik 1/3 pasukan (10 ribu orang), 300 ekor unta, 1000 dinar cash*. Ekuivalen ~ Rp. 300 Milyar.
Pada masa Abu Bakar,Utsman menyumbang gandum yang diangkut 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering. ~ 1000 kontainer gandum?
Abdurrahman bin Affan
Hijrah ke Madinah. Business recovery yang cepat, terjun ke pasar from zero. Dipersaudarakan dengan Anshar yang kaya pemilik 2 istri dan 2 kebun : Sa’d bin Rabiah.
Ekspedisi kecil. Donasi 50% x 4000 dinar = 2000 dinar x Rp 1,7 jt = Rp. 3,4 Milyar. Waktu itu beliau “belum terlalu kaya”.
Perang Tabuk. Medan sulit (1000 km distance, panas, kemarau, kas kering, lawan sangat kuat dan siap). Perlu funding untuk 30 ribu pasukan. Donasi: 200 awqiyah emas = Rp 9,5 Milyar.
Backup Ummahatul Mukminin paska Rasul wafat. Jual properti tanah 40 ribu dinar ~ Rp. 68 Milyar à UM, kerabat ibunda nabi saw, kaum miskin.
Gaduh onta/Infaq terbesar. 700 onta penuh muatan. Juga disedekahkan 40 rb dirham perak, 40 rb dinar emas, 200 awqiyah emas, 500 kuda & 1500 unta utk mujahidin, 400 dinar emas utk alumni Badar, dsb. Tot ~ Rp 300 Milyaran.
WARISAN. Wafat usia 72 tahun. Peninggalan: 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8 (istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri).
Artinya kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar atau sebesar Rp 4,3 trilyun!
Sahabat-Sahabat Lain
IBNU UMAR. Donasi 100 unta untuk mujahidin ~ 100 milyar. [Hilyatul Auliya].
ASHIM BIN ADI. Donasi Tabuk 90 wasaq kurma x 180 kg/wasaq x Rp 300 rb = Rp. 4,8 Milyar. [Hayat Ash Shahabah].
ABDULLAH BIN MUBARAK. Sedekah ke keluarga gadis yang sudah 3 hari kelaparan sejumlah ~ 980 dinar atau Rp. 1,6 Milyar. Spesialis pembebas hutang & penebus tawanan.[Hayat Abdullah bin Mubarak; Ath Thantawi].
Dst…..
Kepala Daerah Yang Sukses
1. Pada masa Umar bin Khattab ra (10 tahun bertugas).
Mu’adz bin Jabal menuturkan di Yaman sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat (Al-Amwal, hal 596).
Mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar atau +/- 18 juta/bulan (Ash-Shinnawi, 2006)
2. Pada masa Umar bin Abdul Azis ra (3 tahun bertugas), usia 36 th
Yahya bin Sa’id (petugas zakat) berkata, “Ketika hendak membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Azis telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan”. (Ibnu Abdil Hakam, siroh Umar bin Abdul Azis, hal 59)
Surat Gubernur Bashrah, “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabbur dan sombong.” (Al-Amwal, hal 256)
Where Are We
Do You Know
Liputan Majalah Time edisi 10 Maret 2003 tentang Islam di Asia:
Jumlah pemeluk Kristen terbesar (2 miliar jiwa), disusul Islam (1,3 miliar), Hindu (900 juta), Buddha (360 juta), Sikh (23 juta), Yahudi (14 juta), Tak Beragama (850 juta), dan Lain-lain (525 juta).
Menurut peneliti Philip M. Parker, orang-orang Yahudi paling tinggi kesejahteraannya, juga tingkat melek hurufnya. Penghasilan per kapita orang Yahudi (rata-rata di dunia) adalah 16.100 dollar/tahun, disusul Kristen (8.230 dollar), Buddha (6.740 dollar), Muslim (1.720 dollar), Sikh (702 dollar), dan Hindu (392 dollar).
Tingkat melek huruf orang Yahudi 97%, Kristen (87%), Buddha (85%), Muslim (51%), Sikh (53%) dan Hindu (51%).
Tingkat pengangguran terendah dipegang masyarakat Buddhis (5%), lalu Yahudi (8%), Kristen (10%), Muslim (15%), Sikh (20%) dan Hindu juga 20%.
Pendapatan Per Kapita (dalam USD/tahun)
Yahudi 16100
Kristen 8230
Budha 6740
Islam 1720
Sikh 702
Hindu 392
Lebih dari 40% jutawan Amerika dalam daftar Majalah Forbes adalah keturunan Yahudi. Dan lebih dari 40% profesor di universitas-universitas top Amerika juga keturunan Yahudi.
Bidang Pengembangan Ekonomi dan Kewirausahaan
Oleh: Nugroho Widiyantoro (Sekbid Pengemb Ekonomi & Kewirausahaan DPP PKS)
Kiriman dari milist sebelah oleh Agus Cuprit
Dilarang Miskin
Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya) (QS. Al An’am: 115)
Marilah Kaya Dan Sejahtera
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? (QS. Ad-Dhuha: 6)
maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh: 10-12)
نعم المال الصالح للمرء الصالح (رواه احمد والطبراني
Kata Mal atau Amwal disebut dalam Al Quran sebanyak 86x (25 Mal, 61 Amwal)*, bandingkan dengan Sholat 59x, Shoum/Shiyam 13x, dsb
“Empat perkara standar kebahagiaan; istri sholihah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat perkara standar kesengsaraan; tetangga yang buruk (akhlak), istri yang buruk (akhlak), tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan ang buruk (Shohih ibnu Hibban no: 4107, dishohihkan oleh al-Albani dalam shohihut targhib no: 2576)
Rasulullah SAW
7 thn. Magang – menggembala. Ratusan kambing pamannya, Abu Thalib. “product knowledge”.
12 thn. Magang – dagang. Ekspor-impor. Irak, Yordan, Bahrain, Suriah dan Yaman “business expertise”.
17 thn. Full mengelola bisnis pamannya.
20 – 25 thn. CEO Perusahaan Khadijah; omset meroket, laba luar biasa.
Menikahi Khadijah, mahar : 100 unta! Semua harta diinfaqkan di jalan dakwah. Sehingga seandainya punya emas segunung Uhud (HR Bukhari)
Abu Bakr
Saudagar besar yang dermawan.
Budget membebaskan budak-budak; 40.000 dirham ~ Rp. 6,8 Milyar.
Berinfaq dengan 100% hartanya 2x :
Hijrah menemani Nabi Saw. 5000 – 6000 dirham ~ Rp. 1 Milyar. Asma’ binti Abu Bakar sampai menenangkan kakeknya, Abu Quhafah, dengan menimbun batu dalam karung.. (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 442)
Infaq pada Perang Tabuk mengalahkan Umar bin Khattab (HR Tirmidzi).
Umar Bin Khattab
Saudagar besar yang dermawan.
Ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang.
Kekayaan Abu Bakar boleh jadi setara atau lebih besar karena Umar selalu tidak mampu mengalahkan Abu Bakar dalam berinfaq.
Utsman bin Affan
Saudagar besar yang dermawan. Pedagang kain ternama dan hewan ternaknya paling banyak.
Sumur Wakaf ex-yahudi. 200 rb dirham ~ Rp. 34 Milyar.
Mengcover perluasan Masjid Madinah. Tmsk pembebasan lahan sekitarnya.
Donasi Tabuk. Logistik 1/3 pasukan (10 ribu orang), 300 ekor unta, 1000 dinar cash*. Ekuivalen ~ Rp. 300 Milyar.
Pada masa Abu Bakar,Utsman menyumbang gandum yang diangkut 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering. ~ 1000 kontainer gandum?
Abdurrahman bin Affan
Hijrah ke Madinah. Business recovery yang cepat, terjun ke pasar from zero. Dipersaudarakan dengan Anshar yang kaya pemilik 2 istri dan 2 kebun : Sa’d bin Rabiah.
Ekspedisi kecil. Donasi 50% x 4000 dinar = 2000 dinar x Rp 1,7 jt = Rp. 3,4 Milyar. Waktu itu beliau “belum terlalu kaya”.
Perang Tabuk. Medan sulit (1000 km distance, panas, kemarau, kas kering, lawan sangat kuat dan siap). Perlu funding untuk 30 ribu pasukan. Donasi: 200 awqiyah emas = Rp 9,5 Milyar.
Backup Ummahatul Mukminin paska Rasul wafat. Jual properti tanah 40 ribu dinar ~ Rp. 68 Milyar à UM, kerabat ibunda nabi saw, kaum miskin.
Gaduh onta/Infaq terbesar. 700 onta penuh muatan. Juga disedekahkan 40 rb dirham perak, 40 rb dinar emas, 200 awqiyah emas, 500 kuda & 1500 unta utk mujahidin, 400 dinar emas utk alumni Badar, dsb. Tot ~ Rp 300 Milyaran.
WARISAN. Wafat usia 72 tahun. Peninggalan: 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8 (istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri).
Artinya kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar atau sebesar Rp 4,3 trilyun!
Sahabat-Sahabat Lain
IBNU UMAR. Donasi 100 unta untuk mujahidin ~ 100 milyar. [Hilyatul Auliya].
ASHIM BIN ADI. Donasi Tabuk 90 wasaq kurma x 180 kg/wasaq x Rp 300 rb = Rp. 4,8 Milyar. [Hayat Ash Shahabah].
ABDULLAH BIN MUBARAK. Sedekah ke keluarga gadis yang sudah 3 hari kelaparan sejumlah ~ 980 dinar atau Rp. 1,6 Milyar. Spesialis pembebas hutang & penebus tawanan.[Hayat Abdullah bin Mubarak; Ath Thantawi].
Dst…..
Kepala Daerah Yang Sukses
1. Pada masa Umar bin Khattab ra (10 tahun bertugas).
Mu’adz bin Jabal menuturkan di Yaman sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat (Al-Amwal, hal 596).
Mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar atau +/- 18 juta/bulan (Ash-Shinnawi, 2006)
2. Pada masa Umar bin Abdul Azis ra (3 tahun bertugas), usia 36 th
Yahya bin Sa’id (petugas zakat) berkata, “Ketika hendak membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Azis telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan”. (Ibnu Abdil Hakam, siroh Umar bin Abdul Azis, hal 59)
Surat Gubernur Bashrah, “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabbur dan sombong.” (Al-Amwal, hal 256)
Where Are We
Do You Know
Liputan Majalah Time edisi 10 Maret 2003 tentang Islam di Asia:
Jumlah pemeluk Kristen terbesar (2 miliar jiwa), disusul Islam (1,3 miliar), Hindu (900 juta), Buddha (360 juta), Sikh (23 juta), Yahudi (14 juta), Tak Beragama (850 juta), dan Lain-lain (525 juta).
Menurut peneliti Philip M. Parker, orang-orang Yahudi paling tinggi kesejahteraannya, juga tingkat melek hurufnya. Penghasilan per kapita orang Yahudi (rata-rata di dunia) adalah 16.100 dollar/tahun, disusul Kristen (8.230 dollar), Buddha (6.740 dollar), Muslim (1.720 dollar), Sikh (702 dollar), dan Hindu (392 dollar).
Tingkat melek huruf orang Yahudi 97%, Kristen (87%), Buddha (85%), Muslim (51%), Sikh (53%) dan Hindu (51%).
Tingkat pengangguran terendah dipegang masyarakat Buddhis (5%), lalu Yahudi (8%), Kristen (10%), Muslim (15%), Sikh (20%) dan Hindu juga 20%.
Pendapatan Per Kapita (dalam USD/tahun)
Yahudi 16100
Kristen 8230
Budha 6740
Islam 1720
Sikh 702
Hindu 392
Lebih dari 40% jutawan Amerika dalam daftar Majalah Forbes adalah keturunan Yahudi. Dan lebih dari 40% profesor di universitas-universitas top Amerika juga keturunan Yahudi.
Bidang Pengembangan Ekonomi dan Kewirausahaan
Gerhana Matahari Dan Bulan Dalam Tinjauan Syariat Serta Hukum Dan Cara Shalat Gerhana
Gerhana Matahari Dan Bulan Dalam Tinjauan Syariat Serta Hukum Dan Cara Shalat Gerhana
Ust AbduLLah Haidir
Diberitakan bahwa pada Sabtu petang depan (10 Desember) akan terjadi gerhana bulan total (Di Saudi sekita pukul 17.00, sedangkan di Indonesia antara pukul 18.00 hingga 24.00- Lihat link ini dan link ini). Secara ilmiah proses kejadian alam ini dapat dipelajari dan diketahui. Lalu bagaimana perspektif syariah memandangnya?
Berikut sedikit uraian tentang gerhana matahari atau bulan dalam tinjauan syariat. Semoga bermanfaat.
Istilah
Secara istilah, gerhana matahari dan bulan disebut dengan istilah kusuf (كسوف) atau khusuf (حسوف). Kedua kata tersebut merupakan sinonim yang berarti perubahan pada keduanya dan berkurangnya cahaya padanya. Secara sederhana kita mengartikannya dengan istilah: Gerhana.
Ada pula yang mengatakan bahwa istilah kusuf untuk matahari sehingga disebut 'kusuf asy-syams' (gerhana matahari) sedangkan khusuf untuk bulan, sehingga dikatakan 'khusuf al-qamar' (gerhana bulan).
Hikmah Dibalik Peristiwa Gerhana
Banyak cerita khurafat dan tahayyul beredar di masyarakat seputar terjadinya gerhana. Namun syariat telah menyatakan dengan tegas nilai-nilai yang terkandung dibalik terjadinya peristiwa tersebut. Di antaranya adalah:
1- Menunjukkan salah satu keagungan dan kekuasaan Allah Ta'ala yang Maha mengatur alam ini.
2- Untuk menimbulkan rasa gentar di hati setiap hamba atas kebesaran Allah Ta'ala dan azab-Nya bagi siapa yang tidak taat kepada-Nya.
Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا (رواه البخاري)
"Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya. Akan tetapi keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian menyaksikannya, maka hendaklah kalian shalat." (HR. Bukhari)
Dalam redaksi yang lain, Bukhari juga meriwayatkan,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ
"Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya.. Akan tetapi Allah hendak membuat gentar para hamba-Nya." (HR. Bukhari)
Disamping hal ini juga mengingatkan seseorang dengan kejadian hari kiamat yang salah satu bentuknya adalah terjadinya gerhana dan menyatunya matahari dengan bulan, seperti Allah nyatakan dalam surat Al-Qiyamah: 8-9.
وَخَسَفَ الْقَمَرُ . وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ (سورة القيامة)
"Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Dan Matahari dan bulan dikumpulkan." (QS. Al-Qiyamah: 8-9)
Shalat Gerhana
Islam mengajarkan umatnya untuk melakukan shalat apabila mereka menyaksikan peristiwa gerhana, baik matahari maupun bulan, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits di atas, juga sebagaimana riwayat adanya perbuatan Rasulullah saw tentang hal tsb.
Para ulama menyimpulkan bahwa hukum shalat gerhana adalah sunah. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa sunahnya shalat gerhana merupakan ijma ulama (Lihat: Syarah Muslim, 6/451). Ibnu Qudamah dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa shalat gerhana merupakan sunnah mu'akkadah/sunah yang sangat ditekankan (Al-Mughni, 3/330, Fathul Bari, 2/527). Sebagian ulama bahkan menyatakan kewajiban shalat gerhana, karena Rasulullah saw melaksanakannya dan memerintahkannya. Ibnu Qayim menyatakan bahwa pendapat ini (wajibnya shalat gerhana) merupakan pendapat yang kuat. (Kitab Ash-Shalah, Ibnu Qayim, hal. 15).
Di sisi lain, karena jarang kaum muslimin yang mengenal dan melaksanakan shalat gerhana, maka dengan melakukannya maka dia akan mendapatkan keutamaan orang yang menghidupan sunah.
Adab Shalat Gerhana
1. Menghadirkan rasa takut kepada Allah saat terjadinya gerhana bulan dan matahari. Baik karena peristiwa tersebut mengingatkan kita akan tanda-tanda kejadian hari kiamat, atau karena takut azab Allah diturunkan akibat dosa-dosa yang dilakukan.
2. Mengingat apa yang pernah disaksikan Nabi saw dalam shalat Kusuf. Diriwayatkan bahwa dalam shalat kusuf, Rasulullah saw diperlihatkan oleh Allah surga dan neraka. Bahkan beliau ingin mengambil setangkai dahan dari surga untuk diperlihatkan kepada mereka. Beliau juga diperlihatkan berbagai bentuk azab yang ditimpakan kepada ahli neraka. Karena itu, dalam salah satu khutbahnya selesai shalat gerhana, beliau bersabda,
يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا (متفق عليه)
"Wahai umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (Muttafa alaih)
3. Menyeru dengan panggilan "Asshalaatu Jaami'ah" . Maksunya adalah panggilan untuk melakukan shalat secara berjamaah. Aisyah meriwayatkan bahwa saat terjadi gerhana, Rasulullah saw memerintahkan untuk menyerukan "Ashshalaatu Jaami'ah" (HR. Abu Daud dan Nasa'i)
Tidak ada azan dan iqamah bagi shalat gerhana. Karena azan dan iqamah hanya berlaku pada shalat fardhu yang lima.
4. Disunahkan mengeraskan bacaan surat, baik shalatnya dilakukan pada siang atau malam hari. Hal tersebut dilakukan Rasulullah saw dalam shalat gerhana (Muttafaq alaih).
5. Shalat gerhana sunah dilakukan di masjid secara berjamaah. Rasulullah saw selalu melaksanakannya di masjid sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat. Akan tetapi boleh juga dilakukan seorang diri. (Lihat: Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/323)
6. Wanita boleh ikut shalat berjamaah di belakang barisan laki-laki. Diriwayatkan bahwa Aisyah dan Asma ikut shalat gerhana bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari).
7. Disunahkan memanjangkan bacaan surat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw dalam shalat gerhana memanjangkan bacaannya. (Muttafaq alaih). Namun hendaknya tetap mempertimbangkan kemampuan dan kondisi jamaah.
8. Disunahkan menyampaikan khutbah setelah selesai shalat, berdasarkan perbuatan Nabi saw bahwa beliau setelah selesai shalat naik ke mimbar dan menyampaikan khutbah (HR. Nasa'i). Sejumlah ulama menguatkan bahwa khutbah yang disampaikan hanya sekali saja, tidak dua kali seperti shalat Jumat. Sebagian ulama menganggap tidak ada sunah khutbah selesai shalat. Akan tetapi petunjuk hadits lebih menguatkan disunahkannya khutbah setelah shalat gerhana. Wallahua'lam.
9. Dianjurkan memperbanyak istighfar, berzikir dan berdoa, bertakbir, memedekakan budak, shalat serta berlindung kepada Allah dari azab neraka dan azab kubur.
Tata Cara Shalat Gerhana
Pelaksanaan shalat gerhana agak berbeda dari shalat pada umumnya. Banyak yang tidak mengetahuinya karena jarang dilaksanakan dan tidak memiliki waktu yang tetap.
Shalat diawali seperti biasa dengan bertakbiratul ihram, lalu membaca doa istiftah, kemudian membaca ta'awwuz (a'uzubillahiminsyaitanirrajim), lalu membaca basmalah, kemudian membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu, membaca surat yang panjang dengan mengeraskan suara.
Selesai membaca surat, melakukan ruku dengan panjang dan mengulang-ulang bacaan ruku. Selesai ruku bangkit dengan membaca Sami'allahu liman hamidah, kemudian membaca 'Rabbanaa walakal hamdu.
Setelah itu tidak sujud seperti shalat lainnya, melainkan membaca surat Al-Fatihah lagi, lalu membaca surat lagi yang berbeda dari sebelumnya. Kemudian ruku kembali dengan lama. Selesai ruku, bangkit kembali dengan membaca Sami'allahu liman hamidah, rabbanaa walakal hamdu. Selesai I'tidal, bertakbir untuk sujud. Lalu sujud dengan lama selama rukunya. Lalu dia bertakbir bangun dari sujud dan duduk di antara dua sujud dengan lama selama dia melakukan sujud, kemudian bertakbir lagi untuk sujud dengan lama.
Setelah itu bertakbir untuk bangkit dari sujud dan berdiri untuk rakaat kedua dan melakukan hal yang sama seperti pada rakaat pertama (dua kali membaca Al-Fatihah dan surat, dua kali ruku serta dua kali sujud).
Setelah itu melakukan tasyahhud dan bersalawat kepada Nabi saw. Kemudian menyudahi shalat dengan salam.
Kesimpulannya, shalat gerhana dalam satu rakaat, ada dua kali berdiri, dua kali membaca Al-Fatihah dan surat, dua kali ruku dan dua kali sujud.
Cara ini dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiallahu anha ketika menjelaskan cara shalat gerhana yang dilakukan Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (muttafaq alaih). Dan cara inilah yang paling kuat dari perbedaan pendapat para ulama tentang hal tsb. Wallahua'lam.
Waktu Shalat Gerhana
Waktu shalat gerhana berlaku ketika proses gerhana mulai terjadi hingga gerhana selesai. Jika ketika shalat gerhananya selesai, maka lanjutkan shalat dengan mempercepat shalatnya. Jika selesai shalat gerhana, proses gerhana masih berlangsung, tidak perlu melanjutkan shalat lagi, cukup membaca doa dan istigfhar yang banyak. Jika tidak sempat shalat saat terjadi gerhana, maka tidak disunahkan melakukan qada atasnya.
Wallahu ta'ala A'lam bishshawab...
Riyadh, Muharram 1433H.
Ust AbduLLah Haidir
Diberitakan bahwa pada Sabtu petang depan (10 Desember) akan terjadi gerhana bulan total (Di Saudi sekita pukul 17.00, sedangkan di Indonesia antara pukul 18.00 hingga 24.00- Lihat link ini dan link ini). Secara ilmiah proses kejadian alam ini dapat dipelajari dan diketahui. Lalu bagaimana perspektif syariah memandangnya?
Berikut sedikit uraian tentang gerhana matahari atau bulan dalam tinjauan syariat. Semoga bermanfaat.
Istilah
Secara istilah, gerhana matahari dan bulan disebut dengan istilah kusuf (كسوف) atau khusuf (حسوف). Kedua kata tersebut merupakan sinonim yang berarti perubahan pada keduanya dan berkurangnya cahaya padanya. Secara sederhana kita mengartikannya dengan istilah: Gerhana.
Ada pula yang mengatakan bahwa istilah kusuf untuk matahari sehingga disebut 'kusuf asy-syams' (gerhana matahari) sedangkan khusuf untuk bulan, sehingga dikatakan 'khusuf al-qamar' (gerhana bulan).
Hikmah Dibalik Peristiwa Gerhana
Banyak cerita khurafat dan tahayyul beredar di masyarakat seputar terjadinya gerhana. Namun syariat telah menyatakan dengan tegas nilai-nilai yang terkandung dibalik terjadinya peristiwa tersebut. Di antaranya adalah:
1- Menunjukkan salah satu keagungan dan kekuasaan Allah Ta'ala yang Maha mengatur alam ini.
2- Untuk menimbulkan rasa gentar di hati setiap hamba atas kebesaran Allah Ta'ala dan azab-Nya bagi siapa yang tidak taat kepada-Nya.
Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا (رواه البخاري)
"Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya. Akan tetapi keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian menyaksikannya, maka hendaklah kalian shalat." (HR. Bukhari)
Dalam redaksi yang lain, Bukhari juga meriwayatkan,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ
"Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya.. Akan tetapi Allah hendak membuat gentar para hamba-Nya." (HR. Bukhari)
Disamping hal ini juga mengingatkan seseorang dengan kejadian hari kiamat yang salah satu bentuknya adalah terjadinya gerhana dan menyatunya matahari dengan bulan, seperti Allah nyatakan dalam surat Al-Qiyamah: 8-9.
وَخَسَفَ الْقَمَرُ . وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ (سورة القيامة)
"Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Dan Matahari dan bulan dikumpulkan." (QS. Al-Qiyamah: 8-9)
Shalat Gerhana
Islam mengajarkan umatnya untuk melakukan shalat apabila mereka menyaksikan peristiwa gerhana, baik matahari maupun bulan, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits di atas, juga sebagaimana riwayat adanya perbuatan Rasulullah saw tentang hal tsb.
Para ulama menyimpulkan bahwa hukum shalat gerhana adalah sunah. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa sunahnya shalat gerhana merupakan ijma ulama (Lihat: Syarah Muslim, 6/451). Ibnu Qudamah dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa shalat gerhana merupakan sunnah mu'akkadah/sunah yang sangat ditekankan (Al-Mughni, 3/330, Fathul Bari, 2/527). Sebagian ulama bahkan menyatakan kewajiban shalat gerhana, karena Rasulullah saw melaksanakannya dan memerintahkannya. Ibnu Qayim menyatakan bahwa pendapat ini (wajibnya shalat gerhana) merupakan pendapat yang kuat. (Kitab Ash-Shalah, Ibnu Qayim, hal. 15).
Di sisi lain, karena jarang kaum muslimin yang mengenal dan melaksanakan shalat gerhana, maka dengan melakukannya maka dia akan mendapatkan keutamaan orang yang menghidupan sunah.
Adab Shalat Gerhana
1. Menghadirkan rasa takut kepada Allah saat terjadinya gerhana bulan dan matahari. Baik karena peristiwa tersebut mengingatkan kita akan tanda-tanda kejadian hari kiamat, atau karena takut azab Allah diturunkan akibat dosa-dosa yang dilakukan.
2. Mengingat apa yang pernah disaksikan Nabi saw dalam shalat Kusuf. Diriwayatkan bahwa dalam shalat kusuf, Rasulullah saw diperlihatkan oleh Allah surga dan neraka. Bahkan beliau ingin mengambil setangkai dahan dari surga untuk diperlihatkan kepada mereka. Beliau juga diperlihatkan berbagai bentuk azab yang ditimpakan kepada ahli neraka. Karena itu, dalam salah satu khutbahnya selesai shalat gerhana, beliau bersabda,
يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا (متفق عليه)
"Wahai umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (Muttafa alaih)
3. Menyeru dengan panggilan "Asshalaatu Jaami'ah" . Maksunya adalah panggilan untuk melakukan shalat secara berjamaah. Aisyah meriwayatkan bahwa saat terjadi gerhana, Rasulullah saw memerintahkan untuk menyerukan "Ashshalaatu Jaami'ah" (HR. Abu Daud dan Nasa'i)
Tidak ada azan dan iqamah bagi shalat gerhana. Karena azan dan iqamah hanya berlaku pada shalat fardhu yang lima.
4. Disunahkan mengeraskan bacaan surat, baik shalatnya dilakukan pada siang atau malam hari. Hal tersebut dilakukan Rasulullah saw dalam shalat gerhana (Muttafaq alaih).
5. Shalat gerhana sunah dilakukan di masjid secara berjamaah. Rasulullah saw selalu melaksanakannya di masjid sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat. Akan tetapi boleh juga dilakukan seorang diri. (Lihat: Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/323)
6. Wanita boleh ikut shalat berjamaah di belakang barisan laki-laki. Diriwayatkan bahwa Aisyah dan Asma ikut shalat gerhana bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari).
7. Disunahkan memanjangkan bacaan surat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw dalam shalat gerhana memanjangkan bacaannya. (Muttafaq alaih). Namun hendaknya tetap mempertimbangkan kemampuan dan kondisi jamaah.
8. Disunahkan menyampaikan khutbah setelah selesai shalat, berdasarkan perbuatan Nabi saw bahwa beliau setelah selesai shalat naik ke mimbar dan menyampaikan khutbah (HR. Nasa'i). Sejumlah ulama menguatkan bahwa khutbah yang disampaikan hanya sekali saja, tidak dua kali seperti shalat Jumat. Sebagian ulama menganggap tidak ada sunah khutbah selesai shalat. Akan tetapi petunjuk hadits lebih menguatkan disunahkannya khutbah setelah shalat gerhana. Wallahua'lam.
9. Dianjurkan memperbanyak istighfar, berzikir dan berdoa, bertakbir, memedekakan budak, shalat serta berlindung kepada Allah dari azab neraka dan azab kubur.
Tata Cara Shalat Gerhana
Pelaksanaan shalat gerhana agak berbeda dari shalat pada umumnya. Banyak yang tidak mengetahuinya karena jarang dilaksanakan dan tidak memiliki waktu yang tetap.
Shalat diawali seperti biasa dengan bertakbiratul ihram, lalu membaca doa istiftah, kemudian membaca ta'awwuz (a'uzubillahiminsyaitanirrajim), lalu membaca basmalah, kemudian membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu, membaca surat yang panjang dengan mengeraskan suara.
Selesai membaca surat, melakukan ruku dengan panjang dan mengulang-ulang bacaan ruku. Selesai ruku bangkit dengan membaca Sami'allahu liman hamidah, kemudian membaca 'Rabbanaa walakal hamdu.
Setelah itu tidak sujud seperti shalat lainnya, melainkan membaca surat Al-Fatihah lagi, lalu membaca surat lagi yang berbeda dari sebelumnya. Kemudian ruku kembali dengan lama. Selesai ruku, bangkit kembali dengan membaca Sami'allahu liman hamidah, rabbanaa walakal hamdu. Selesai I'tidal, bertakbir untuk sujud. Lalu sujud dengan lama selama rukunya. Lalu dia bertakbir bangun dari sujud dan duduk di antara dua sujud dengan lama selama dia melakukan sujud, kemudian bertakbir lagi untuk sujud dengan lama.
Setelah itu bertakbir untuk bangkit dari sujud dan berdiri untuk rakaat kedua dan melakukan hal yang sama seperti pada rakaat pertama (dua kali membaca Al-Fatihah dan surat, dua kali ruku serta dua kali sujud).
Setelah itu melakukan tasyahhud dan bersalawat kepada Nabi saw. Kemudian menyudahi shalat dengan salam.
Kesimpulannya, shalat gerhana dalam satu rakaat, ada dua kali berdiri, dua kali membaca Al-Fatihah dan surat, dua kali ruku dan dua kali sujud.
Cara ini dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiallahu anha ketika menjelaskan cara shalat gerhana yang dilakukan Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (muttafaq alaih). Dan cara inilah yang paling kuat dari perbedaan pendapat para ulama tentang hal tsb. Wallahua'lam.
Waktu Shalat Gerhana
Waktu shalat gerhana berlaku ketika proses gerhana mulai terjadi hingga gerhana selesai. Jika ketika shalat gerhananya selesai, maka lanjutkan shalat dengan mempercepat shalatnya. Jika selesai shalat gerhana, proses gerhana masih berlangsung, tidak perlu melanjutkan shalat lagi, cukup membaca doa dan istigfhar yang banyak. Jika tidak sempat shalat saat terjadi gerhana, maka tidak disunahkan melakukan qada atasnya.
Wallahu ta'ala A'lam bishshawab...
Riyadh, Muharram 1433H.
Berinteraksi Dengan Al-Qur'an
Berinteraksi Dengan Al-Qur'an
Di antara nikmat yang layak kita syukuri adalah Allah menurunkan kepada kita al-Qur’an al-Karim, Kitab yang penuh dengan berkah. Allah berfirman, artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad:29).
Sesungguhnya kita meyakini al-Qur’an adalah kalamullah, Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Allah berfirman, artinya, “Itu adalah Kitab (al-Qur’an) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 2).
Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk senantiasa berinteraksi dengan al-Qur’an, agar mendapatkan pahala yang besar dan berlipat ganda. Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS. Fathir: 29).
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, “Allah mengabarkan keadaan hamba-hamba-Nya yang mukmin, yang membaca Kitab-Nya, beriman dengannya, dan beramal sesuai dengan yang diperintahkan seperti mengerjakan shalat dan menunaikan zakat.”
Rasulullah bersabda, “Orang-orang yang mahir membaca al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia yang senantiasa berbuat baik, sedang yang membaca al-Qur’an dengan tertatih-tatih dan terasa berat, baginya dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih).
Demikian juga kepada mereka yang berpaling dari al-Qur’an, meninggalkan dan tidak mengambil manfaat darinya, diancam dengan siksa yang amat pedih. Allah berfirman, artinya, “Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (QS. al-Kahfi: 57).
Allah juga berfirman, artinya, “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. az-Zukhruf: 36).
Di antara bentuk-bentuk interaksi dengan al-Qur’an adalah sebagai berikut:
1. Memperbanyak bacaan al-Qur’an dan secara terus-menerus.
Membaca al-Qur’an merupakan bentuk ibadah kepada Allah dan dianjurkan agar senantiasa dilakukan, Allah berfirman, artinya, “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (al-Quran). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya.” (QS. al-Kahfi: 27).
Allah juga berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi; agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.” (QS. Fathir: 29-30).
Rasulullah juga memberi dorongan untuk membaca al-Qur’an. Beliau bersabda, “Bacalah al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang memberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim).
Rasulullah dan para sahabat adalah contoh nyata, betapa mereka senantiasa membaca al-Qur’an. Imam an-Nawawi berkata: Kaum salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam menghatamkan al-Qur’an. Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa mereka menghatamkan al-Qur’an tiap dua bulan satu kali, yang lain tiap bulan sekali, sebagian lagi tiap sepuluh malam, lima malam, dan seterusnya.
2. Memperbagus bacaan dan suara
Allah berfirman, artinya, “Dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. al-Muzzammil: 4).
Rasulullah bersabda, “Baguskanlah al-Qur’an dengan suaramu, karena suara yang bagus menambah keindahan al-Qur’an.” (HR. an-Nasai, ad-Darimi dan al-Hakim).
Rasulullah menekankan kepada kita untuk memperbagus bacaan dan suara, karena hal itu menambah keindahan al-Qur’an, mudah diterima serta meninggalkan bekas di dalam hati pendengarnya.
3. Merenungkan ketika membaca atau mendengarkannya
Allah telah mengabarkan bahwa Ia telah menurunkan al-Qur’an ini untuk dibaca dengan perenungan dan pemahaman. Allah berfirman, artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29).
Allah mengingkari orang-orang yang tidak merenungkannya seraya berfirman, artinya, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).
Allah juga berfirman, artinya, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisa’: 82).
Syaikh as-Sa’di berkata tentang ayat di atas: “Allah memerintahkan agar kitab-Nya direnungkan dan diteliti maknanya dengan tajam untuk memikirkan asas-asas, ancaman dan perintah-perintahnya.”
4. Menangis ketika membaca atau mendengarkannya
Di antara bentuk interaksi dengan al-Qur’an adalah menangis, baik ketika membaca atau mendengarkannya, karena hal itu merupakan sifat mukmin yang sebenarnya. Seorang mukmin ketika merenungkan ayat-ayat al-Qur’an, ia mendapatkan sifat yang sempurna dan agung pada Tuhan-Nya. Pada saat itu hatinya bergejolak, memuliakan Tuhannya.
Imam an-Nawawi berkata: “Menangis ketika membaca al-Qur’an merupakan sifat orang yang telah mencapai derajat pengetahuan yang dalam dan lambang bagi hamba-hamba Allah yang shalih.”
Allah telah memuji para nabi-Nya dan hamba-hamba-Nya yang shalih. Dia berfirman, artinya, “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)
Allah juga berfirman, artinya, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri).” (QS. al-Maidah: 83)
Dari Abdullah bin Abbas beliau berkata: “Rasulullah memerintahkanku, ‘Bacalah untukku al-Qur’an’. Aku berkata, ‘Bagaimana aku akan membacakan untukmu, padahal al-Qur’an diturunkan kepadamu?’ Rasul menjawab, ‘Ya, (tetapi) aku ingin mendengarnya dari selainku.’” Maka aku membaca surat an-Nisa’ hingga sampai pada ayat:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu” (QS. an-Nisa’: 41)
Beliau bersabda, “Cukup!” dan kedua mata beliau menangis. (HR. al-Bukhari)
5. Beramal
Aspek paling agung dalam berinteraksi dengan al-Qur’an dan bukti keimanan yang paling tinggi adalah mengamalkannya. Allah berfirman, artinya, “Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.”{/i] (QS. Al-Baqarah: 121)
Demikian beberapa bentuk interaksi dengan al-Qur’an semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk berinteraksi dengan al-Qur’an, amien… Wallahu a’lam bish shawab. (Redaksi)
[Sumber: “Interaksi Dengan Al-Qur’an,” Dr. Hafizh bin Muhammad al-Hikami, Darul Haq, dengan sedikit perubahan]
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
Di antara nikmat yang layak kita syukuri adalah Allah menurunkan kepada kita al-Qur’an al-Karim, Kitab yang penuh dengan berkah. Allah berfirman, artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad:29).
Sesungguhnya kita meyakini al-Qur’an adalah kalamullah, Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Allah berfirman, artinya, “Itu adalah Kitab (al-Qur’an) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 2).
Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk senantiasa berinteraksi dengan al-Qur’an, agar mendapatkan pahala yang besar dan berlipat ganda. Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS. Fathir: 29).
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, “Allah mengabarkan keadaan hamba-hamba-Nya yang mukmin, yang membaca Kitab-Nya, beriman dengannya, dan beramal sesuai dengan yang diperintahkan seperti mengerjakan shalat dan menunaikan zakat.”
Rasulullah bersabda, “Orang-orang yang mahir membaca al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia yang senantiasa berbuat baik, sedang yang membaca al-Qur’an dengan tertatih-tatih dan terasa berat, baginya dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih).
Demikian juga kepada mereka yang berpaling dari al-Qur’an, meninggalkan dan tidak mengambil manfaat darinya, diancam dengan siksa yang amat pedih. Allah berfirman, artinya, “Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (QS. al-Kahfi: 57).
Allah juga berfirman, artinya, “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. az-Zukhruf: 36).
Di antara bentuk-bentuk interaksi dengan al-Qur’an adalah sebagai berikut:
1. Memperbanyak bacaan al-Qur’an dan secara terus-menerus.
Membaca al-Qur’an merupakan bentuk ibadah kepada Allah dan dianjurkan agar senantiasa dilakukan, Allah berfirman, artinya, “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (al-Quran). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya.” (QS. al-Kahfi: 27).
Allah juga berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi; agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.” (QS. Fathir: 29-30).
Rasulullah juga memberi dorongan untuk membaca al-Qur’an. Beliau bersabda, “Bacalah al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang memberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim).
Rasulullah dan para sahabat adalah contoh nyata, betapa mereka senantiasa membaca al-Qur’an. Imam an-Nawawi berkata: Kaum salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam menghatamkan al-Qur’an. Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa mereka menghatamkan al-Qur’an tiap dua bulan satu kali, yang lain tiap bulan sekali, sebagian lagi tiap sepuluh malam, lima malam, dan seterusnya.
2. Memperbagus bacaan dan suara
Allah berfirman, artinya, “Dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. al-Muzzammil: 4).
Rasulullah bersabda, “Baguskanlah al-Qur’an dengan suaramu, karena suara yang bagus menambah keindahan al-Qur’an.” (HR. an-Nasai, ad-Darimi dan al-Hakim).
Rasulullah menekankan kepada kita untuk memperbagus bacaan dan suara, karena hal itu menambah keindahan al-Qur’an, mudah diterima serta meninggalkan bekas di dalam hati pendengarnya.
3. Merenungkan ketika membaca atau mendengarkannya
Allah telah mengabarkan bahwa Ia telah menurunkan al-Qur’an ini untuk dibaca dengan perenungan dan pemahaman. Allah berfirman, artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29).
Allah mengingkari orang-orang yang tidak merenungkannya seraya berfirman, artinya, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).
Allah juga berfirman, artinya, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisa’: 82).
Syaikh as-Sa’di berkata tentang ayat di atas: “Allah memerintahkan agar kitab-Nya direnungkan dan diteliti maknanya dengan tajam untuk memikirkan asas-asas, ancaman dan perintah-perintahnya.”
4. Menangis ketika membaca atau mendengarkannya
Di antara bentuk interaksi dengan al-Qur’an adalah menangis, baik ketika membaca atau mendengarkannya, karena hal itu merupakan sifat mukmin yang sebenarnya. Seorang mukmin ketika merenungkan ayat-ayat al-Qur’an, ia mendapatkan sifat yang sempurna dan agung pada Tuhan-Nya. Pada saat itu hatinya bergejolak, memuliakan Tuhannya.
Imam an-Nawawi berkata: “Menangis ketika membaca al-Qur’an merupakan sifat orang yang telah mencapai derajat pengetahuan yang dalam dan lambang bagi hamba-hamba Allah yang shalih.”
Allah telah memuji para nabi-Nya dan hamba-hamba-Nya yang shalih. Dia berfirman, artinya, “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)
Allah juga berfirman, artinya, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri).” (QS. al-Maidah: 83)
Dari Abdullah bin Abbas beliau berkata: “Rasulullah memerintahkanku, ‘Bacalah untukku al-Qur’an’. Aku berkata, ‘Bagaimana aku akan membacakan untukmu, padahal al-Qur’an diturunkan kepadamu?’ Rasul menjawab, ‘Ya, (tetapi) aku ingin mendengarnya dari selainku.’” Maka aku membaca surat an-Nisa’ hingga sampai pada ayat:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu” (QS. an-Nisa’: 41)
Beliau bersabda, “Cukup!” dan kedua mata beliau menangis. (HR. al-Bukhari)
5. Beramal
Aspek paling agung dalam berinteraksi dengan al-Qur’an dan bukti keimanan yang paling tinggi adalah mengamalkannya. Allah berfirman, artinya, “Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.”{/i] (QS. Al-Baqarah: 121)
Demikian beberapa bentuk interaksi dengan al-Qur’an semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk berinteraksi dengan al-Qur’an, amien… Wallahu a’lam bish shawab. (Redaksi)
[Sumber: “Interaksi Dengan Al-Qur’an,” Dr. Hafizh bin Muhammad al-Hikami, Darul Haq, dengan sedikit perubahan]
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
Selasa, November 09, 2010
KEUTAMAAN SEPULUH HARI (PERTAMA) DZUL HIJJAH-Hukum Berkurban dan ‘Idul Adha
فضل عشر ذي الحجة
أحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك
(باللغة الإندونيسية)
KEUTAMAAN SEPULUH HARI
(PERTAMA) DZUL HIJJAH
&
Hukum Berkurban dan ‘Idul Adha
Penerjemah :
Seksi Terjemah
Kantor Sosial, Dakwah
Dan Penyuluhan Bagi Pendatang
Al Sulay
Editor
Muh.Mu’inudinillah. Basri. MA.
Daftar Isi
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzul Hijjah……..……………………………3
Pekerjaan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut………………………………..4
Keutamaan hari raya kurban (tgl 10 Dzul Hijjah)…………………………………5
Bagaimana kita menyambut bulan Dzul Hijjah ??……………………..………….5
Sebagian hokum-hukum berkurman dan sarat-saratnya………..…………………6
Hukum-hukum Idul Adha………….……………………………..………………...8
KEUTAMAAN SEPULUH HARI (PERTAMA) BULAN DZUL HIJJAH
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين … أما بعد؛
Sesungguhnya merupakan karu-nia Allah , dijadikan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang shalih musim-musim untuk memperbanyak amal shaleh. Diantara musim-musim tersebut adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah yang keutamaannya dinyatakan oleh dalil-dalil dalam kitab dan Sunnah:
1. Firman Allah :
وَالْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ [ الفجر 1-2]
Demi fajar, dan malam yang sepuluh (Al Fajr 1-2)
Ibnu Katsir berkata: “ Yang dimaksud adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah“
2. Allah berfirman:
“…dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan”(Al Hajj 28).
Ibnu Abbas berkata: “ (Yang dimaksud adalah) hari-hari sepuluh (bulan Dzul Hijjah) “.
3. Dari Ibnu Abbas radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah bersabda:
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْ هَذِهِ العَشْرِ " قَالُوا : وَلاَ الْجِهَادُ ؟، قَالَ: " وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ"[رواه البخاري]
Tidak ada amal perbuatan yang lebih utama dari (amal yang dilakukan pada) sepuluh hari bulan Dzul Hijjah, mereka
berkata : Tidak juga jihad (lebih utama dari itu) ?, beliau bersabda: Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwanya dan hartanya dan kembali tanpa membawa sesuatupun (Riwayat Bukhori)
4. Dari Ibnu Umar radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah bersabda:
Tidak ada hari-hari yang lebih besar di sisi Allah Ta’ala dan tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut Tahlil, Takbir dan Tahmid “ (Riwayat Tabrani dalam Mu’jam Al Kabir)
5. Adalah Sa’id bin Jubair –rahimahul-lah- dan dia yang meriwayatkan hadits Ibnu Abbas yang lalu, jika datang sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah sangat bersungguh-sungguh hingga hampir saja dia tidak kuasa (melaksa-nakannya) “ (Riwayat Darimi dengan sanad yang hasan)
6. Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: “ Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Dzul Hijjah diisti-mewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpul-nya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada selainnya waktu seperti itu “.
7. Para ulama menyatakan: “ Sepuluh hari Dzul Hijjah adalah hari-hari yang paling utama, sedangkan malam-malam terakhir bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama ”.
Pekerjaan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut :
a. Shalat :
Disunnahkan bersegera menger-jakan shalat fardhu dan memperbanyak shalat sunnah, karena semua itu merupakan ibadah yang paling utama. Dari Tsauban radiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda :
Hendaklah kalian memper-banyak sujud kepada Allah, karena setiap kali kamu bersujud, maka Allah mengangkat derajat kamu, dan menghapus kesalahan kamu
Hal tersebut berlaku umum di setiap waktu.
b. Shoum (Puasa) :
Karena dia termasuk perbuatan amal shaleh. Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasulullah , dia berkata:
Adalah Rasulullah berpuasa pada tanggal sembilan Dzul Hijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).
Imam Nawawi berkata tentang puasa sepuluh hari bulan Dzul Hijjah : “ Sangat di sunnahkan “.
c.Takbir, Tahlil dan Tahmid.
Sebagaimana terdapat riwayat dalam hadits Ibnu Umar terdahulu : Perbanyaklah Tahlil, Takbir dan Tahmid pada waktu itu
Imam Bukhori berkata: “ Adalah Ibnu Umar dan Abu Hurairah radiallahuanhuma keluar ke pasar pada hari sepuluh bulan Dzul Hijjah, mereka berdua bertakbir dan orang-orangpun ikut bertakbir karenanya“, dia juga berkata: “ Adalah Umar bin Khottob bertakbir di kemahnya di Mina dan di dengar mereka yang ada dalam masjid, lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang di pasar hingga Mina bergetar oleh takbir “. Dan Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, setelah shalat dan di atas pembaringannya, di atas kudanya, di majlisnya dan saat berjalan pada semua hari-hari tersebut. Disunnahkan mengeraskan takbir karena perbuatan Umar tersebut dan anaknya dan Abu Hurairah radiallahuanhuma.
Maka hendaknya kita kaum muslimin menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan pada masa ini, bahkan hampir saja terlupakan hingga oleh mereka orang-orang shalih, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh salafussalih terdahulu.
d. Puasa hari Arafah.
Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak pergi haji, sebagaimana riwayat dari Rasulullah bahwa dia berkata tentang puasa Arafah:
Saya berharap kepada Allah agar dihapuskan (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (Riwayat Muslim)
e. Keutamaan hari raya kurban (tgl 10 Dzul Hijjah).
Banyak orang yang melalaikan hari yang besar ini, padahal para ulama berpendapat bahwa dia lebih utama dari hari-hari dalam setahun secara mutlak, bahkan termasuk pada hari Arafah. Ibnu Qoyyim –rahimahullah- berkata: “ Sebaik-baik hari disisi Allah adalah hari Nahr (hari raya qurban), dia adalah hari haji Akbar “, sebagaimana terdapat dalam sunan Abu Daud, Rasulullah bersabda:
Sesungguh-nya hari-hari yang paling mulia disisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari qar
hari Qar adalah hari menetap di Mina, yaitu tanggal 11 Dzul Hijjah. Ada juga yang mengatakan bahwa hari Arafah lebih mulia dari hari Nahr, karena puasa pada hari itu menghapus dosa dua tahun, dan tidak ada hari yang lebih banyak Allah bebaskan orang dari neraka kecuali hari Arafah, dan karena pada hari tersebut Allah mendekat kepada hamba-Nya, kemudian Dia membanggakan kepada malaikat-Nya terhadap orang-orang yang sedang wukuf.
Yang benar adalah pendapat pertama, karena hadits yang menunjukkan hal tersebut tidak ada yang menentangnya sama sekali. Namun, apakah dia lebih utama atau hari Arafah, hendaklah setiap muslim baik yang melaksanakan haji atau tidak berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan hari tersebut dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.
BAGAIMANA KITA MENYAMBUT BULAN KEBAIKAN INI ??
Hendaklah setiap muslim berupaya untuk menyambut musim kebaikan ini secara umum dengan taubatan nasuha (taubat sungguh-sungguh), meninggalkan dosa dan kemaksiatan, karena dosa-dosalah yang mencegah dari manusia karunia rabb-Nya, dan menutup hatinya dari Tuhannya. Begitu juga dituntut untuk menyambut musim ini dengan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keuntungan atas apa yang Allah ridhoi. Maka siapa yang benar dengan tekadnya Allah akan beri dia petunjuk :
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا [العنكبوت : 69]
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut 69)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luas-nya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa “ (Ali Imran 133)
Wahai akhi muslim……………
Berusahalah untuk mendapatkan kesempatan yang baik ini sebelum hilang dari hadapan anda dan anda akan menyesal, betapa buruknya waktu bagi orang yang menyesal. Karena sesungguhnya dunia ini sangat sedikit harinya dan kita sekarang di kampung amal perbuatan dan besok kita akan berada di kampung pembalasan, perhitungan, syurga dan neraka. Maka jadilah anda orang-orang yang Allah sifatkan dalam firman-Nya :
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harapan dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami (Al Anbiya 90)
SEBAGIAN HUKUM BERKURBAN
DAN SYARI’ATNYA
Allah mensyariatkan berkurban dengan firman-Nya :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ [ الكوثر : 2 ]
Maka sholatlah untuk Robbmu dan sembelihlah (Al Kautsar 2)
Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya“ ( Al Hajj 36 )
Berkurban merupakan sunnah yang sangat ditekankan dan makruh ditinggalkan bagi yang mampu melaksanakannya berdasarkan hadits Anas radiallahuanhu yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, bahwa Nabi berkurban dengan dua ekor domba yang gemuk dan bertanduk, disembelih dengan tangannya dengan membaca tasmiah dan takbir.
DENGAN APA BERKURBAN ?
Berkurban hanya dilakukan dengan onta, sapi dan kambing berdasarkan hadits Rasulullah :
Siapa yang menyembelih sebelum shalat (Id), maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan siapa yang menyembelih setelah shalat dan dua khutbah, maka dia telah menyempurnakan ibadahnya dan mendapatkan sunnah (Muttafaq alaih)
Disunnahkan bagi yang mampu untuk menyembelih agar menyembelih sendiri hewan korbannya dengan berkata:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلاَن (……)
“ dengan menyebut nama Allah, dan Allah maha besar, Yaa Allah ini adalah (korban) dari si fulan ………(dengan meyebut namanya atau nama yang mewasiatkannya)”
Rasulullah ketika menyembe-lih seekor domba beliau mengucapkan:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذَا عَنِّي
وَعَنْ مَنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Yaa Allah ini adalah (korban) dariku dan dari siapa yang tidak berkurban dari umatku
( Riwayat Abu Daud dan Turmuzi).
Adapun bagi yang tidak mampu meyembelih maka hendaknya dia melihat dan hadir saat penyembelihan hewan kurban.
PEMBAGIAN DAGING KURBAN
Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk makan daging korbannya dan menghadiahkan kepada sanak saudara dan tetangga serta memberi fakir miskin sebagai sedekah. Allah ta’ala berfirman :
Maka makanlah sebahagian daripada-nya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir ( Al Hajj 28)
Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta ( Al Hajj 36)
Sebagian salaf (ulama terdahulu) menyukai membagi hewan korban menjadi tiga bagian: sepertiga untuk dirinya sendiri, sepertiga untuk hadiah bagi orang kaya dan sepertiga sisanya untuk shodaqoh bagi fakir miskin. Dan tidak boleh bagi pemotong hewan dibagi daging korban sebagai upah .
LARANGAN BAGI YANG INGIN BERKURBAN
Jika seseorang hendak berkurban dan telah masuk bulan Dzul Hijjah, maka diharamkan baginya untuk mencabut rambut atau kukunya atau kulitnya hingga dia menyembelih binatang korbannya, berdasarkan hadits Ummu Salamah radiallahuanha, bahwa Rasulullah bersabda:
Jika telah masuk hari sepuluh (bulan Dzul Hijjah) dan salah seorang diantara kalian ingin berkurban, maka hendaklah dia tidak mencabut rambutnya dan (memotong) kukunya
( Riwayat Ahmad dan Muslim ).
Pada redaksi lain, beliau bersabda:
Maka hendaklah dia tidak menyentuh (mencabut) rambutnya dan kulitnya sedikitpun hingga dia berkurban
Sedangkan jika dia niat berkurban di tengah hari-hari sepuluh itu, maka dia menahan dirinya sejak dia niat, dan tidak berdosa atas apa yang dia lakukan sebelum niat.
Dibolehkan bagi keluarga yang berkurban untuk mencabut (rambut, kuku) pada hari-hari sepuluh tersebut
Jika seseorang yang telah niat berkurban lalu dia mencabut rambut-nya atau kukunya atau kulitnya, maka dia harus bertaubat kepada Allah ta’ala dan tidak melakukannya kembali serta tidak ada kafarat baginya serta tidak ada halangan baginya untuk tetap berkurban. Adapun jika dia melakukan-nya karena lupa atau karena tidak tahu atau rambutnya rontok tanpa sengaja, maka tidak ada dosa baginya. Begitu juga jika dia melakukannya karena ada keperluan seperti kukunya pecah dan menyakitkannya atau rambutnya teru-rai sampai ke matanya, maka tidak apa-apa baginya memotongnya untuk menghilangkan sesuatu yang meng-ganggunya.
HUKUM-HUKUM ‘IDUL ADHA
Akhi Muslim…….
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah mempertemu-kan kita kepada hari yang agung ini dan memanjangkan umur kita sehingga dapat menyaksikan hari dan bulan berlalu dan mempersembahkan kepada kita perbuatan dan ucapan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.
Hari Raya qurban, termasuk kekhususan umat ini dan termasuk tanda-tanda agama yang tampak, juga termasuk syi’ar-syi’ar Islam, maka hendaknya kita menjaganya dan menghormatinya.
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ
Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesunggunya itu timbul dari ketakwaan hati (Al Hajj 32)
Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas adab-adab dan hukum-hukum tentang hari raya :
1. Takbir
Disyari’atkan bertakbir sejak terbit fajar pada hari Arafah hingga waktu Ashar hari tasyrik terakhir, yaitu pada tanggal tinggal belas Dzul Hijjah . Allah ta’ala berfirman:
Dan berzikirlah (dengan menyebut) dalam beberapa hari yang terbilang
(Al Baqarah 203)
Caranya dengan membaca:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
“ Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala pujian “
Disunnahkan mengeraskan suaranya bagi orang laki di masjid-masjid, pasar-pasar dan rumah-rumah setelah melaksanakan shalat, sebagai pernyataan atas pengagungan kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan mensyukuri-Nya.
2. Menyembelih binatang korban.
Hal tersebut dilakukan setelah selesai shalat Id, berdasarkan sabda Rasulullah :
مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ [رواه البخاري ومسلم]
Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia menggantinya dengan hewan kurban yang lain, dan siapa yang belum menyembelih, maka hendaklah dia menyembelih (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Waktu menyembelih kurban ada-lah empat hari, hari raya dan tiga hari tasyrik, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah beliau bersabda:
Semua hari tasyrik adalah (wak-tu) menyembelih (Lihat Silsilah Shahihah no. 2476)
3. Mandi dan mengenakan wewangian
Hal ini bagi orang laki dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan, tanpa isbal (menjulur-kan pakaiannya hingga melebihi mata kaki), tidak mencukur janggut karena hal tersebut haram hukumnya. Sedang-kan wanita disyari’atkan baginya keluar menuju tempat shalat Id tanpa tabarruj, tanpa memakai wewangian dan hendak-lah seorang muslimah berhati-hati berang-kat dalam rangka ta’at kepada Allah dan shalat sedang dia melakukan maksiat kepada-Nya dengan tabarruj, membuka aurat dan memakai wewangian di hadapan orang laki.
4. Makan daging korban.
Rasulullah tidak makan daging korban sebelum pulang dari shalat Id, setelah itu baru dia memakannya.
5. Pergi ke tempat shalat Id
Berjalan kaki jika memungkin-kan dan disunnahkan shalat Id di lapangan terbuka, kecuali jika terdapat uzur seperti hujan misalnya, maka pada saat itu sebaiknya shalat di masjid berdasarkan perbuatan Rasulullah .
6. Shalat bersama kaum muslimin dan mendengarkan khutbah.
Adapun yang dikuatkan oleh para ulama seperti Syekh Islam Ibnu Taimiyah bahwa shalat Id hukumnya wajib berdasarkan firman Allah ta’ala :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
perbuatan tersebut tidak gugur kecuali dengan uzur syar’i. Adapun wanita tetap diperintahkan menghadiri shalat Id bersama kaum muslimin, bahkan sekalipun yang haid dan para budak dan bagi mereka yang haidh di jauhkan dari tempat shalat.
7. Menempuh jalan yang berbeda.
Disunnahkan untuk berangkat ke tempat shalat Id lewat satu jalan dan pulang lewat jalan yang lain berdasarkan perbuatan Rasulullah .
8. Ucapan selamat
Tidak mengapa saling mengucap-kan selamat seperti :
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima (amal) kita
dan anda sekalian”.
Akhi muslim…..
Ada beberapa hal yang patut kita hindari saat hari raya :
1. Takbir secara berbarengan : Dengan satu suara atau mengikuti bersama-sama dibelakang seseorang yang bertakbir.
2. Lalai pada hari Id. Yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan seperti mendengarkan lagu-lagu, menonton film, ikhtilath antar laki dan wanita yang bukan muhrim dan kemungkaran-kemungkaran lainnya.
3. Mencabut rambut atau memotong kuku sebelum melaksanakan penyembelihan korban, karena ada larangan Nabi dalam masalah ini.
4. Berlebih-lebihan atas sesuatu yang tidak perlu dan berfaedah berdasar-kan firman Allah ta’ala:
Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan “ (Al A’raf 31)
Akhirulkalam …
Janganlah anda lupa wahai akhi muslim untuk selalu berupaya men-dapatkan kebaikan seperti bersilatur-rahim, berkunjung kepada sanak saudara, meninggalkan permusuhan, kedengkian serta mensucikan hati dan penuh kasih kepada fakir miskin serta anak yatim serta membantu mereka dan mendatangkan kegembiraan kepada mereka.
Kita mohon kepada Allah agar memberi kita taufiq-Nya atas apa yang Dia cintai dan ridhoi.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
أحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك
(باللغة الإندونيسية)
KEUTAMAAN SEPULUH HARI
(PERTAMA) DZUL HIJJAH
&
Hukum Berkurban dan ‘Idul Adha
Penerjemah :
Seksi Terjemah
Kantor Sosial, Dakwah
Dan Penyuluhan Bagi Pendatang
Al Sulay
Editor
Muh.Mu’inudinillah. Basri. MA.
Daftar Isi
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzul Hijjah……..……………………………3
Pekerjaan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut………………………………..4
Keutamaan hari raya kurban (tgl 10 Dzul Hijjah)…………………………………5
Bagaimana kita menyambut bulan Dzul Hijjah ??……………………..………….5
Sebagian hokum-hukum berkurman dan sarat-saratnya………..…………………6
Hukum-hukum Idul Adha………….……………………………..………………...8
KEUTAMAAN SEPULUH HARI (PERTAMA) BULAN DZUL HIJJAH
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين … أما بعد؛
Sesungguhnya merupakan karu-nia Allah , dijadikan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang shalih musim-musim untuk memperbanyak amal shaleh. Diantara musim-musim tersebut adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah yang keutamaannya dinyatakan oleh dalil-dalil dalam kitab dan Sunnah:
1. Firman Allah :
وَالْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ [ الفجر 1-2]
Demi fajar, dan malam yang sepuluh (Al Fajr 1-2)
Ibnu Katsir berkata: “ Yang dimaksud adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah“
2. Allah berfirman:
“…dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan”(Al Hajj 28).
Ibnu Abbas berkata: “ (Yang dimaksud adalah) hari-hari sepuluh (bulan Dzul Hijjah) “.
3. Dari Ibnu Abbas radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah bersabda:
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْ هَذِهِ العَشْرِ " قَالُوا : وَلاَ الْجِهَادُ ؟، قَالَ: " وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ"[رواه البخاري]
Tidak ada amal perbuatan yang lebih utama dari (amal yang dilakukan pada) sepuluh hari bulan Dzul Hijjah, mereka
berkata : Tidak juga jihad (lebih utama dari itu) ?, beliau bersabda: Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwanya dan hartanya dan kembali tanpa membawa sesuatupun (Riwayat Bukhori)
4. Dari Ibnu Umar radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah bersabda:
Tidak ada hari-hari yang lebih besar di sisi Allah Ta’ala dan tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut Tahlil, Takbir dan Tahmid “ (Riwayat Tabrani dalam Mu’jam Al Kabir)
5. Adalah Sa’id bin Jubair –rahimahul-lah- dan dia yang meriwayatkan hadits Ibnu Abbas yang lalu, jika datang sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah sangat bersungguh-sungguh hingga hampir saja dia tidak kuasa (melaksa-nakannya) “ (Riwayat Darimi dengan sanad yang hasan)
6. Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: “ Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Dzul Hijjah diisti-mewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpul-nya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada selainnya waktu seperti itu “.
7. Para ulama menyatakan: “ Sepuluh hari Dzul Hijjah adalah hari-hari yang paling utama, sedangkan malam-malam terakhir bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama ”.
Pekerjaan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut :
a. Shalat :
Disunnahkan bersegera menger-jakan shalat fardhu dan memperbanyak shalat sunnah, karena semua itu merupakan ibadah yang paling utama. Dari Tsauban radiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda :
Hendaklah kalian memper-banyak sujud kepada Allah, karena setiap kali kamu bersujud, maka Allah mengangkat derajat kamu, dan menghapus kesalahan kamu
Hal tersebut berlaku umum di setiap waktu.
b. Shoum (Puasa) :
Karena dia termasuk perbuatan amal shaleh. Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasulullah , dia berkata:
Adalah Rasulullah berpuasa pada tanggal sembilan Dzul Hijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).
Imam Nawawi berkata tentang puasa sepuluh hari bulan Dzul Hijjah : “ Sangat di sunnahkan “.
c.Takbir, Tahlil dan Tahmid.
Sebagaimana terdapat riwayat dalam hadits Ibnu Umar terdahulu : Perbanyaklah Tahlil, Takbir dan Tahmid pada waktu itu
Imam Bukhori berkata: “ Adalah Ibnu Umar dan Abu Hurairah radiallahuanhuma keluar ke pasar pada hari sepuluh bulan Dzul Hijjah, mereka berdua bertakbir dan orang-orangpun ikut bertakbir karenanya“, dia juga berkata: “ Adalah Umar bin Khottob bertakbir di kemahnya di Mina dan di dengar mereka yang ada dalam masjid, lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang di pasar hingga Mina bergetar oleh takbir “. Dan Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, setelah shalat dan di atas pembaringannya, di atas kudanya, di majlisnya dan saat berjalan pada semua hari-hari tersebut. Disunnahkan mengeraskan takbir karena perbuatan Umar tersebut dan anaknya dan Abu Hurairah radiallahuanhuma.
Maka hendaknya kita kaum muslimin menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan pada masa ini, bahkan hampir saja terlupakan hingga oleh mereka orang-orang shalih, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh salafussalih terdahulu.
d. Puasa hari Arafah.
Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak pergi haji, sebagaimana riwayat dari Rasulullah bahwa dia berkata tentang puasa Arafah:
Saya berharap kepada Allah agar dihapuskan (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (Riwayat Muslim)
e. Keutamaan hari raya kurban (tgl 10 Dzul Hijjah).
Banyak orang yang melalaikan hari yang besar ini, padahal para ulama berpendapat bahwa dia lebih utama dari hari-hari dalam setahun secara mutlak, bahkan termasuk pada hari Arafah. Ibnu Qoyyim –rahimahullah- berkata: “ Sebaik-baik hari disisi Allah adalah hari Nahr (hari raya qurban), dia adalah hari haji Akbar “, sebagaimana terdapat dalam sunan Abu Daud, Rasulullah bersabda:
Sesungguh-nya hari-hari yang paling mulia disisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari qar
hari Qar adalah hari menetap di Mina, yaitu tanggal 11 Dzul Hijjah. Ada juga yang mengatakan bahwa hari Arafah lebih mulia dari hari Nahr, karena puasa pada hari itu menghapus dosa dua tahun, dan tidak ada hari yang lebih banyak Allah bebaskan orang dari neraka kecuali hari Arafah, dan karena pada hari tersebut Allah mendekat kepada hamba-Nya, kemudian Dia membanggakan kepada malaikat-Nya terhadap orang-orang yang sedang wukuf.
Yang benar adalah pendapat pertama, karena hadits yang menunjukkan hal tersebut tidak ada yang menentangnya sama sekali. Namun, apakah dia lebih utama atau hari Arafah, hendaklah setiap muslim baik yang melaksanakan haji atau tidak berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan hari tersebut dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.
BAGAIMANA KITA MENYAMBUT BULAN KEBAIKAN INI ??
Hendaklah setiap muslim berupaya untuk menyambut musim kebaikan ini secara umum dengan taubatan nasuha (taubat sungguh-sungguh), meninggalkan dosa dan kemaksiatan, karena dosa-dosalah yang mencegah dari manusia karunia rabb-Nya, dan menutup hatinya dari Tuhannya. Begitu juga dituntut untuk menyambut musim ini dengan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keuntungan atas apa yang Allah ridhoi. Maka siapa yang benar dengan tekadnya Allah akan beri dia petunjuk :
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا [العنكبوت : 69]
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut 69)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luas-nya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa “ (Ali Imran 133)
Wahai akhi muslim……………
Berusahalah untuk mendapatkan kesempatan yang baik ini sebelum hilang dari hadapan anda dan anda akan menyesal, betapa buruknya waktu bagi orang yang menyesal. Karena sesungguhnya dunia ini sangat sedikit harinya dan kita sekarang di kampung amal perbuatan dan besok kita akan berada di kampung pembalasan, perhitungan, syurga dan neraka. Maka jadilah anda orang-orang yang Allah sifatkan dalam firman-Nya :
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harapan dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami (Al Anbiya 90)
SEBAGIAN HUKUM BERKURBAN
DAN SYARI’ATNYA
Allah mensyariatkan berkurban dengan firman-Nya :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ [ الكوثر : 2 ]
Maka sholatlah untuk Robbmu dan sembelihlah (Al Kautsar 2)
Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya“ ( Al Hajj 36 )
Berkurban merupakan sunnah yang sangat ditekankan dan makruh ditinggalkan bagi yang mampu melaksanakannya berdasarkan hadits Anas radiallahuanhu yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, bahwa Nabi berkurban dengan dua ekor domba yang gemuk dan bertanduk, disembelih dengan tangannya dengan membaca tasmiah dan takbir.
DENGAN APA BERKURBAN ?
Berkurban hanya dilakukan dengan onta, sapi dan kambing berdasarkan hadits Rasulullah :
Siapa yang menyembelih sebelum shalat (Id), maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan siapa yang menyembelih setelah shalat dan dua khutbah, maka dia telah menyempurnakan ibadahnya dan mendapatkan sunnah (Muttafaq alaih)
Disunnahkan bagi yang mampu untuk menyembelih agar menyembelih sendiri hewan korbannya dengan berkata:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلاَن (……)
“ dengan menyebut nama Allah, dan Allah maha besar, Yaa Allah ini adalah (korban) dari si fulan ………(dengan meyebut namanya atau nama yang mewasiatkannya)”
Rasulullah ketika menyembe-lih seekor domba beliau mengucapkan:
بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذَا عَنِّي
وَعَنْ مَنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Yaa Allah ini adalah (korban) dariku dan dari siapa yang tidak berkurban dari umatku
( Riwayat Abu Daud dan Turmuzi).
Adapun bagi yang tidak mampu meyembelih maka hendaknya dia melihat dan hadir saat penyembelihan hewan kurban.
PEMBAGIAN DAGING KURBAN
Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk makan daging korbannya dan menghadiahkan kepada sanak saudara dan tetangga serta memberi fakir miskin sebagai sedekah. Allah ta’ala berfirman :
Maka makanlah sebahagian daripada-nya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir ( Al Hajj 28)
Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta ( Al Hajj 36)
Sebagian salaf (ulama terdahulu) menyukai membagi hewan korban menjadi tiga bagian: sepertiga untuk dirinya sendiri, sepertiga untuk hadiah bagi orang kaya dan sepertiga sisanya untuk shodaqoh bagi fakir miskin. Dan tidak boleh bagi pemotong hewan dibagi daging korban sebagai upah .
LARANGAN BAGI YANG INGIN BERKURBAN
Jika seseorang hendak berkurban dan telah masuk bulan Dzul Hijjah, maka diharamkan baginya untuk mencabut rambut atau kukunya atau kulitnya hingga dia menyembelih binatang korbannya, berdasarkan hadits Ummu Salamah radiallahuanha, bahwa Rasulullah bersabda:
Jika telah masuk hari sepuluh (bulan Dzul Hijjah) dan salah seorang diantara kalian ingin berkurban, maka hendaklah dia tidak mencabut rambutnya dan (memotong) kukunya
( Riwayat Ahmad dan Muslim ).
Pada redaksi lain, beliau bersabda:
Maka hendaklah dia tidak menyentuh (mencabut) rambutnya dan kulitnya sedikitpun hingga dia berkurban
Sedangkan jika dia niat berkurban di tengah hari-hari sepuluh itu, maka dia menahan dirinya sejak dia niat, dan tidak berdosa atas apa yang dia lakukan sebelum niat.
Dibolehkan bagi keluarga yang berkurban untuk mencabut (rambut, kuku) pada hari-hari sepuluh tersebut
Jika seseorang yang telah niat berkurban lalu dia mencabut rambut-nya atau kukunya atau kulitnya, maka dia harus bertaubat kepada Allah ta’ala dan tidak melakukannya kembali serta tidak ada kafarat baginya serta tidak ada halangan baginya untuk tetap berkurban. Adapun jika dia melakukan-nya karena lupa atau karena tidak tahu atau rambutnya rontok tanpa sengaja, maka tidak ada dosa baginya. Begitu juga jika dia melakukannya karena ada keperluan seperti kukunya pecah dan menyakitkannya atau rambutnya teru-rai sampai ke matanya, maka tidak apa-apa baginya memotongnya untuk menghilangkan sesuatu yang meng-ganggunya.
HUKUM-HUKUM ‘IDUL ADHA
Akhi Muslim…….
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah mempertemu-kan kita kepada hari yang agung ini dan memanjangkan umur kita sehingga dapat menyaksikan hari dan bulan berlalu dan mempersembahkan kepada kita perbuatan dan ucapan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.
Hari Raya qurban, termasuk kekhususan umat ini dan termasuk tanda-tanda agama yang tampak, juga termasuk syi’ar-syi’ar Islam, maka hendaknya kita menjaganya dan menghormatinya.
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ
Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesunggunya itu timbul dari ketakwaan hati (Al Hajj 32)
Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas adab-adab dan hukum-hukum tentang hari raya :
1. Takbir
Disyari’atkan bertakbir sejak terbit fajar pada hari Arafah hingga waktu Ashar hari tasyrik terakhir, yaitu pada tanggal tinggal belas Dzul Hijjah . Allah ta’ala berfirman:
Dan berzikirlah (dengan menyebut) dalam beberapa hari yang terbilang
(Al Baqarah 203)
Caranya dengan membaca:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
“ Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala pujian “
Disunnahkan mengeraskan suaranya bagi orang laki di masjid-masjid, pasar-pasar dan rumah-rumah setelah melaksanakan shalat, sebagai pernyataan atas pengagungan kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan mensyukuri-Nya.
2. Menyembelih binatang korban.
Hal tersebut dilakukan setelah selesai shalat Id, berdasarkan sabda Rasulullah :
مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ [رواه البخاري ومسلم]
Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia menggantinya dengan hewan kurban yang lain, dan siapa yang belum menyembelih, maka hendaklah dia menyembelih (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Waktu menyembelih kurban ada-lah empat hari, hari raya dan tiga hari tasyrik, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah beliau bersabda:
Semua hari tasyrik adalah (wak-tu) menyembelih (Lihat Silsilah Shahihah no. 2476)
3. Mandi dan mengenakan wewangian
Hal ini bagi orang laki dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan, tanpa isbal (menjulur-kan pakaiannya hingga melebihi mata kaki), tidak mencukur janggut karena hal tersebut haram hukumnya. Sedang-kan wanita disyari’atkan baginya keluar menuju tempat shalat Id tanpa tabarruj, tanpa memakai wewangian dan hendak-lah seorang muslimah berhati-hati berang-kat dalam rangka ta’at kepada Allah dan shalat sedang dia melakukan maksiat kepada-Nya dengan tabarruj, membuka aurat dan memakai wewangian di hadapan orang laki.
4. Makan daging korban.
Rasulullah tidak makan daging korban sebelum pulang dari shalat Id, setelah itu baru dia memakannya.
5. Pergi ke tempat shalat Id
Berjalan kaki jika memungkin-kan dan disunnahkan shalat Id di lapangan terbuka, kecuali jika terdapat uzur seperti hujan misalnya, maka pada saat itu sebaiknya shalat di masjid berdasarkan perbuatan Rasulullah .
6. Shalat bersama kaum muslimin dan mendengarkan khutbah.
Adapun yang dikuatkan oleh para ulama seperti Syekh Islam Ibnu Taimiyah bahwa shalat Id hukumnya wajib berdasarkan firman Allah ta’ala :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
perbuatan tersebut tidak gugur kecuali dengan uzur syar’i. Adapun wanita tetap diperintahkan menghadiri shalat Id bersama kaum muslimin, bahkan sekalipun yang haid dan para budak dan bagi mereka yang haidh di jauhkan dari tempat shalat.
7. Menempuh jalan yang berbeda.
Disunnahkan untuk berangkat ke tempat shalat Id lewat satu jalan dan pulang lewat jalan yang lain berdasarkan perbuatan Rasulullah .
8. Ucapan selamat
Tidak mengapa saling mengucap-kan selamat seperti :
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima (amal) kita
dan anda sekalian”.
Akhi muslim…..
Ada beberapa hal yang patut kita hindari saat hari raya :
1. Takbir secara berbarengan : Dengan satu suara atau mengikuti bersama-sama dibelakang seseorang yang bertakbir.
2. Lalai pada hari Id. Yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan seperti mendengarkan lagu-lagu, menonton film, ikhtilath antar laki dan wanita yang bukan muhrim dan kemungkaran-kemungkaran lainnya.
3. Mencabut rambut atau memotong kuku sebelum melaksanakan penyembelihan korban, karena ada larangan Nabi dalam masalah ini.
4. Berlebih-lebihan atas sesuatu yang tidak perlu dan berfaedah berdasar-kan firman Allah ta’ala:
Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan “ (Al A’raf 31)
Akhirulkalam …
Janganlah anda lupa wahai akhi muslim untuk selalu berupaya men-dapatkan kebaikan seperti bersilatur-rahim, berkunjung kepada sanak saudara, meninggalkan permusuhan, kedengkian serta mensucikan hati dan penuh kasih kepada fakir miskin serta anak yatim serta membantu mereka dan mendatangkan kegembiraan kepada mereka.
Kita mohon kepada Allah agar memberi kita taufiq-Nya atas apa yang Dia cintai dan ridhoi.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
BAYAN DSP PKS-TENTANG ANJURAN MENINGKATKAN IBADAH PADA SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH
BAYAN
DEWAN SYARIAH PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
NOMOR : 10/B/K/DSP-PKS/1427
TENTANG
ANJURAN MENINGKATKAN IBADAH
PADA SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH
Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang mulia, salah satu dari bulan haram (suci) dimana amal ibadah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan. Dan bulan ini juga merupakan bulan pelaksanaan ibadah haji. Jutaan umat Islam berkumpul di tanah suci untuk menunaikan panggilan Allah melaksanakan rukun Islam yang kelima. Kemuliaan bulan Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama telah diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
وَالْفَجْرِ {1} وَلَيَالٍ عَشْرٍ {2} وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ {3} وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ
“Demi fajar, Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil, Dan malam bila berlalu” (QS Al-Fajr 1-4)
Allah SWT. bersumpah dengan 5 makhluk-Nya, bersumpah dengan waktu fajar, malam yang sepuluh, yang genap, yang ganjil dan malam ketika berlalu. Dan para ulama tafsir seperti, Ibnu Abbas ra, Ibnu Zubair ra, Mujahid ra, As-Sudy ra, Al-Kalby ra menafsirkan maksud malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah bersumpah dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah karena keutamaan beribadah pada hari tersebut, sebagaimana hadits Rasul saw, :
عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى اللَّه من هذه الأيام يعني أيام العشر. قالوا: يا رَسُول اللَّهِ ولا الجهاد في سبيل اللَّه؟ قال: ولا الجهاد في سبيل اللَّه إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء.
Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Tiada hari dimana amal shalih lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini –yaitu sepuluh hari pertama Zhulhijjjah.“ Sahabat bertanya, ”Ya Rasulallah saw, tidak juga jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah?“ Rasul saw. menjawab, ”Tidak juga dengan jihad, kecuali seorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya serta tidak kembali (gugur sebagai syahid).” (HR Bukhari)
AMAL SHALIH DI SEPULUH HARI PERTAMA DZULHIJJAH
1. Takbir, Tahlil dan Tahmid
عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "ما من أيام أفضل عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من أيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد".
Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Tiada hari-hari dimana amal shalih paling utama disisi Allah dan paling dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Perbanyaklah pada hari itu dengan Tahlil, Takbir dan Tahmid.” (HR Ahmad dan Al-Baihaqi)
Berkata imam al-Bukhari, ”Ibnu Umar ra. dan Abu Hurairah ra pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah pergi ke pasar bertakbir dan manusia mengikuti takbir keduanya.”
2. Puasa sunnah, khususnya puasa sunnah ‘Arafah
عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قالَ : سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ: "يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ".
Dari Abu Qatadah ra berkata, Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Arafah? Rasul saw menjawab, ”Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)
3. Memperbanyak amal ibadah, karena pahalanya dilipatgandakan, seperti shalat, dzikir, takbir, tahlil, tahmid, shalawat, puasa infak dll.
وعن جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أفضل أيام الدنيا العشر يعني عشر ذي الحجة قيل ولا مثلهن في سبيل الله قال ولا مثلهن في سبيل الله إلا رجل عفر وجهه بالتراب الحديث رواه البزار بإسناد حسن وأبو يعلى بإسناد صحيح
Dari Jabir ra bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Sebaik-baiknya hari dunia adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Ditanya, “Apakah jihad di jalan Allah tidak sebaik itu?” Rasul saw. menjawab, ”Tidak akan sama jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang menaburkan wajahnya dengan debu (gugur sebagai syahid).” (HR Al-Bazzar dengan sanad yang hasan dan Abu Ya’la dengan sanad yang shahih)
4. Shalat ‘Idul Adha, mendengarkan khutbah dan berqurban pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah).
Allah Ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS al-Kautsr 2)
Di antara makna perintah shalat disini adalah shalat Idul Adha. Berkata Ar-Rabi’, “Jika engkau selesai shalat di hari Idul Adha, maka berkurbanlah.” Rasulullah bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: { كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَخْرُجُ يَوْمَ اَلْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى اَلْمُصَلَّى, وَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ اَلصَّلَاةُ, ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ اَلنَّاسِ -وَالنَّاسُ عَلَى صُفُوفِهِمْ- فَيَعِظُهُمْ وَيَأْمُرُهُمْ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Said berkata, “Rasulullah saw. keluar di hari Idul Fitri dan Idul Adha ke musholla. Yang pertama dilakukan adalah shalat, kemudian menghadap manusia –sedang mereka tetap pada shafnya- Rasul saw berkhutbah memberi nasehat dan menyuruh mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi.
وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: { أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ اَلْعَوَاتِقَ, وَالْحُيَّضَ فِي الْعِيدَيْنِ; يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَيَعْتَزِلُ اَلْحُيَّضُ اَلْمُصَلَّى } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Ummi ‘Athiyah berkata, ”Kami diperintahkan agar wanita yang bersih dan yang sedang haidh keluar pada Dua Hari Raya, hadir menyaksikan kebaikan dan khutbah umat Islam dan orang yang berhaidh harus menjauhi musholla.” (Muttafaqun ‘alaihi)
5. Takbir dan berkurban di Hari Tasyriq
وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS Al-Baqarah)
Para ulama sepakat bahwa beberapa hari berbilang adalah hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
Imam Al-Bukhari memasukan hari Tasyriq pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah, dan memiliki keutamaan yang sama sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani memberikan komentar dalam kitabnya Fathul Bari: pertama, bahwa kemuliaan hari Tasyriq mengiringi kemuliaan Ayyamul ‘Asyr; kedua, keduanya terkait dengan amal ibadah haji; ketiga, bahwa sebagian hari Tasyriq adalah sebagian hari ‘Ayyamul ‘Asyr yaitu hari raya Idul Adha.
Pada hari Tasyriq juga masih disunnahkan untuk berkurban. Rasulullah saw. bersabda,
وكل أيام التشريق ذبح
“Seluruh hari Tasyriq adalah hari penyembelihan (kurban).” (HR Ahmad)
Demikian Bayan Dewan Syariah Partai Keadilan Sejahtera sebagai panduan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita semua.
Jakarta, 22 Zulqaidah 1427 H
13 Desember 2006 M
DEWAN SYARIAH PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
KH. DR. SURAHMAN HIDAYAT, MA
KETUA
DEWAN SYARIAH PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
NOMOR : 10/B/K/DSP-PKS/1427
TENTANG
ANJURAN MENINGKATKAN IBADAH
PADA SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH
Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang mulia, salah satu dari bulan haram (suci) dimana amal ibadah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan. Dan bulan ini juga merupakan bulan pelaksanaan ibadah haji. Jutaan umat Islam berkumpul di tanah suci untuk menunaikan panggilan Allah melaksanakan rukun Islam yang kelima. Kemuliaan bulan Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama telah diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
وَالْفَجْرِ {1} وَلَيَالٍ عَشْرٍ {2} وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ {3} وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ
“Demi fajar, Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil, Dan malam bila berlalu” (QS Al-Fajr 1-4)
Allah SWT. bersumpah dengan 5 makhluk-Nya, bersumpah dengan waktu fajar, malam yang sepuluh, yang genap, yang ganjil dan malam ketika berlalu. Dan para ulama tafsir seperti, Ibnu Abbas ra, Ibnu Zubair ra, Mujahid ra, As-Sudy ra, Al-Kalby ra menafsirkan maksud malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah bersumpah dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah karena keutamaan beribadah pada hari tersebut, sebagaimana hadits Rasul saw, :
عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى اللَّه من هذه الأيام يعني أيام العشر. قالوا: يا رَسُول اللَّهِ ولا الجهاد في سبيل اللَّه؟ قال: ولا الجهاد في سبيل اللَّه إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء.
Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Tiada hari dimana amal shalih lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini –yaitu sepuluh hari pertama Zhulhijjjah.“ Sahabat bertanya, ”Ya Rasulallah saw, tidak juga jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah?“ Rasul saw. menjawab, ”Tidak juga dengan jihad, kecuali seorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya serta tidak kembali (gugur sebagai syahid).” (HR Bukhari)
AMAL SHALIH DI SEPULUH HARI PERTAMA DZULHIJJAH
1. Takbir, Tahlil dan Tahmid
عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "ما من أيام أفضل عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من أيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد".
Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Tiada hari-hari dimana amal shalih paling utama disisi Allah dan paling dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Perbanyaklah pada hari itu dengan Tahlil, Takbir dan Tahmid.” (HR Ahmad dan Al-Baihaqi)
Berkata imam al-Bukhari, ”Ibnu Umar ra. dan Abu Hurairah ra pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah pergi ke pasar bertakbir dan manusia mengikuti takbir keduanya.”
2. Puasa sunnah, khususnya puasa sunnah ‘Arafah
عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قالَ : سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ: "يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ".
Dari Abu Qatadah ra berkata, Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Arafah? Rasul saw menjawab, ”Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)
3. Memperbanyak amal ibadah, karena pahalanya dilipatgandakan, seperti shalat, dzikir, takbir, tahlil, tahmid, shalawat, puasa infak dll.
وعن جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أفضل أيام الدنيا العشر يعني عشر ذي الحجة قيل ولا مثلهن في سبيل الله قال ولا مثلهن في سبيل الله إلا رجل عفر وجهه بالتراب الحديث رواه البزار بإسناد حسن وأبو يعلى بإسناد صحيح
Dari Jabir ra bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Sebaik-baiknya hari dunia adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Ditanya, “Apakah jihad di jalan Allah tidak sebaik itu?” Rasul saw. menjawab, ”Tidak akan sama jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang menaburkan wajahnya dengan debu (gugur sebagai syahid).” (HR Al-Bazzar dengan sanad yang hasan dan Abu Ya’la dengan sanad yang shahih)
4. Shalat ‘Idul Adha, mendengarkan khutbah dan berqurban pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah).
Allah Ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS al-Kautsr 2)
Di antara makna perintah shalat disini adalah shalat Idul Adha. Berkata Ar-Rabi’, “Jika engkau selesai shalat di hari Idul Adha, maka berkurbanlah.” Rasulullah bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: { كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَخْرُجُ يَوْمَ اَلْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى اَلْمُصَلَّى, وَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ اَلصَّلَاةُ, ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ اَلنَّاسِ -وَالنَّاسُ عَلَى صُفُوفِهِمْ- فَيَعِظُهُمْ وَيَأْمُرُهُمْ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Said berkata, “Rasulullah saw. keluar di hari Idul Fitri dan Idul Adha ke musholla. Yang pertama dilakukan adalah shalat, kemudian menghadap manusia –sedang mereka tetap pada shafnya- Rasul saw berkhutbah memberi nasehat dan menyuruh mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi.
وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: { أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ اَلْعَوَاتِقَ, وَالْحُيَّضَ فِي الْعِيدَيْنِ; يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَيَعْتَزِلُ اَلْحُيَّضُ اَلْمُصَلَّى } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Ummi ‘Athiyah berkata, ”Kami diperintahkan agar wanita yang bersih dan yang sedang haidh keluar pada Dua Hari Raya, hadir menyaksikan kebaikan dan khutbah umat Islam dan orang yang berhaidh harus menjauhi musholla.” (Muttafaqun ‘alaihi)
5. Takbir dan berkurban di Hari Tasyriq
وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS Al-Baqarah)
Para ulama sepakat bahwa beberapa hari berbilang adalah hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
Imam Al-Bukhari memasukan hari Tasyriq pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah, dan memiliki keutamaan yang sama sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani memberikan komentar dalam kitabnya Fathul Bari: pertama, bahwa kemuliaan hari Tasyriq mengiringi kemuliaan Ayyamul ‘Asyr; kedua, keduanya terkait dengan amal ibadah haji; ketiga, bahwa sebagian hari Tasyriq adalah sebagian hari ‘Ayyamul ‘Asyr yaitu hari raya Idul Adha.
Pada hari Tasyriq juga masih disunnahkan untuk berkurban. Rasulullah saw. bersabda,
وكل أيام التشريق ذبح
“Seluruh hari Tasyriq adalah hari penyembelihan (kurban).” (HR Ahmad)
Demikian Bayan Dewan Syariah Partai Keadilan Sejahtera sebagai panduan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita semua.
Jakarta, 22 Zulqaidah 1427 H
13 Desember 2006 M
DEWAN SYARIAH PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
KH. DR. SURAHMAN HIDAYAT, MA
KETUA
Minggu, Agustus 15, 2010
Dibawah Lindungan Ka’bah - Buya HAMKA
Dibawah Lindungan Ka’bah
SURAT DARI MESIR
Sahabat! Sudah saya terima surat sahabat yang terkirim dalam bulan yang lalu. Mula-mula saya sangat bersedih hati sebab semenjak kita bercerai di Jeddah, tak pernah saya menerima surat lagi daripada engkau. Tetapi setelah surat itu saya terima saya baca, hilanglah sedih dan duka saya, nyata bahawa engkau tidak melupakan saya. Maksudnya engkau terangkan itu, sangat saya setujui, itulah suatu maksud yang baik, sebab itu adalah suatu hikayat dan kejadian yang mendukakan hati dan merawankan fikiran, yang kerapkali benar terjadi di dalam lingkungan belia-belia kita. Saya setuju maksud sahabat itu, pertama adalah karangan yang engkau maksudkan itu, akan ganti bingkisan (persembahan) kita kepada orang-orang yang menjadi korban itu, hantaran kepada arwah mereka yang suci; kedua ialah untuk menjadi cermin perbandingan orang-orang yang hidup kemudian daripada mereka. Bukan sedikit belia-belia yang telah menanggung sebagai orang yang telah ditanggung oleh kedua orang itu, tetapi sukar orang yang selamat sampai ke akhirnya. Padahal "rindu dendam" atau "cinta berahi" itu laksana Lautan Jawa, orang yang tidak berhati-hati mengayuh perahu memegang kemudi dan menjaga layar, karamlah ia diguling oleh ombak dan gelombang, hilang ditengah samudera yang luas itu, tidak akan tercapai selama-lamanya tanah tepi. Tidak ada bantuan yang dapat saya berikan kepada engkau di dalam pekerjaan itu, hanya bersama ini saya kirimkan surat-surat yang semasa kita masih di Makkah tak sempat saya berikannya kepada engkau. Demi apabila buku ini telah selesai, kirimkanlah kiranya kepadaku barang senaskah, guna menghidupkan kenang-kenanganku pada masa yang telah lampau, semasa itu kita masih dibawah Lindungan Kaabah. Sahabatmu.
MEKKAH PADA TAHUN 1927
Harga getah di Jambi, di seluruh tanahair sedang naik, negeri Mekah baharu sahaja pindah dari tangan Shariff Hussin ke tangan Ibn Sa'ud, Raja Hijaz dan Najad dan daerah takluknya yang kemudian ditukarkan namanya menjadi kerajaan "Arabiah Sa'udiah". Setahun sebelum itu telah naik haji dua orang yang kenamaan dari negeri kita. Keamanan negeri Hijaz, telah tersiar. Kerana itu banyak orang yang berniat menyempurnakan Islam yang kelima itu. Tiap-tiap kapal haji yang berangkat menuju Jeddah penuh sesak memebawa jemaah haji. Konon khabarnya, belumlah pernah orang naik haji seramai tahun 1927 itu, baik sebelum atau pun sesudahnya. Ketika itulah saya naik haji. Dari pelabuhan Belawan saya telah belayar menuju ke Jeddah menumpang kapal "Karimata". Empat belas hari lamanya saya terkatung-katung di dalam lautan besar. Pada hari kelima belas sampailah saya dipelabuhan Jeddah, pantai Laut Merah itu. Dua
hari kemudian saya pun sampai ke Mekah tanah suci kaum Muslimin sedunia. Betapa besar hati saya ketika melihat ka'bah tidaklah dapat saya perikan, kerana dari kecilku sebagai kebiasaan tiap-tiap orang Islam, Ka'bah dan menara Masjidil Haram yang tujuh itu menjadi kenang-kenanganku. Saya injak tanah suci itu dengan persangkaan yang baik, saya hadapi tiap-tiap orang yang mengerjakan ibadat dengan penuh kepercayaan, bahwa mereka pun berasa gembira iaitu sebagaimana yang saya rasai itu saya tidak akan bertemu dengan kejadian-kejadian yang ganjil atau hikayat yang sedih daripada penghidupan manusia. Sebab sangka saya tentu sahaja selain daripada diri saya sendiri, oran-orang yang datang kesana itu adalah orang-orang yang gembira dan yang mampu banyak tertawanya daripada tangisannya. Tetapi rupanya, di mana-mana jua di atas dunia ini; asalkan sahaja ditempati manusia, kita akan bertemu dengan yang tinggi dan yang rendah, kesukaan dan kedukaan, tertawa dan ratapan tangis. Saya telah mendengar di antara azan (bang) yang sayup-sayup sampai di puncak menara yang tujuh, di antara gemuruh doa manusia sedang berkeliling (tawaf) di sekeliling Ka'bah, di antara takbir umat yang sedang pergi balik di antara Safa dan Marwah, saya telah mendengar ratap dan rintih seorang makhluk tuhan, sayu-sayup sampai antara ada dengan tiada hilang-hilang timbul di dalam gemuruh yang hebat itu. Sebagai kebiasaan jemaah yang datang dari Tanah Jawa, saya menumpang di rumah seorang syeikh yang pekerjaan dan pencariannya semata-mata daripada memberi tumpangan bagi orang-orang haji, di hadapan bilik yang telah ditentukan oleh seorang syeikh untuk saya, ada pula sebuah bilik kecil yang muat dua orang. Disana tinggal seorang belia yang yang baharu berusia 32 tahun, badannya kurus lampai, rambutnya hitam berminyak, sifatnya pendiam, suka bermenung seorang diri di dalam biliknya itu. Biasanya sebelum kedengaran azan subuh ia lebih dahulu bangun pergi ke masjid seorang diri. Menurut keterangan syeikh kami belia itu berasal dari Sumatera, datang pada tahun yang lalu, jadi ia adalah seorang yang telah bermukim di Mekah. Melihat kebiasaannya demikian dan sifatnya yang soleh itu, saya menaruh hormat yang besar atas dirinya dan saya ingin hendak berkenalan. Maka dalam dua hari sahaja berhasillah maksud saya itu; saya telah beroleh seorang sahabat yang mulia patut dicontohi. Hidupnya sangat sederhana, tiada lalai daripada beribadat, tiada suka membuang-buang waktu kepada yang tidak berfaedah, lagi pula sangat suka memerhatikan buku-buku agama, terutama kitab-kitab yang menerangkan kehidupan orang-orang yang suci, ahli-ahli tasauf yang tinggi. Bila saya terlanjur mempercakapkan dunia dan hal ehwalnya, dengan sangat halus dan tiada terasa percakapan itu dibelokkannya kepada ke halusan budi-pekerti dan ketinggian kesopanan agama, sehingga akhirnya saya terpaksa tunduk dan memandangnya lebih mulia daripada biasa. Baru dua bulan sahaja semenjak dari awal Ramadhan sampai Syawal, pergaulan saya dengannya, saya telah banyak tertarik olehnya di dalam menuju kesucian, terutama di dalam negeri yang semata-mata untuk beribadat itu. Tetapi pergaulan yang baik itu tiba-tiba telah terusik sebab dengan kapal yang paling akhir telah tiba seorang teman baru dari Padang. Entah kerana kebetulan sahaja atau atau disengaja lebih dahulu, ia telah menjadi jemaah sheikh kami pula. Sahabat saya yang baru tiba ini sangat terkejut melihat bahawa sahabat saya ada di Mekah. Rupanya tidak disangka-sangkanya mereka akan berjumpa disana dan sahabat saya pun rupanya tidak menyangka akan berjumpa dengan sahabat baru itu.
Nama sahabat saya ialah hamid dan nama saudara baru itu Salleh. Salleh menurut keterangannya, hanya dua atau tiga hari sahaja sebelum naik haji akan tinggal di Mekah, ia akan pergi ke Madinah lebih dahulu; dua tiga hari pula sebelum jemaah haji ke Arafah ia akan balik ke Mekah. Setelah selesai mengerjakan haji, ia akan meneruskan perjalanannya ke Mesir, menyambung pelajarannya. Setelah musta'id maka Salleh pun berangkat ke Madinah.Ketibaan sahabat baru itu mengubah keadaan-keadaan dan sifat-sifat Hamid, entah khabar apakah yang agaknya yang baru di bawa darinya dari kampung yang mengganggu kesejahteraan fikiran Hamid. Ia bertambah tekun membaca kita-kitab terutamanya tasauf karangan Imam Al-Ghazali. Terkadang-kadang kelihatan ia termenung seorang diri di atas satah (atap rumah yang mendatar sepeti rumah-rumah di negeri Arab) rumah tempatnya tinggal melihat tenang-tenang kepada qal'ah (bintang-bintang) tua di atas puncak Jabal Hindi. Saya seakan-akan tidak pedulikannya lagi. Sedang saya mengerjakan tawaf keliling ka'bah maka terlihat oleh saya ia bergantung kepada kaswah (kain tabir yang melingkungi Ka'bah) menengadahkan mukanya kelangit, airmatanya menitik dengan derasnya membasahi serban yang membalut dadanya, kedengaran pula ia berdoa: Ya Allah! Kuatkanlah hati hambamu ini!" Sebenarnya saya ini pun seorang yang lemah hati, kesedihan itu telah pindah kedada saya, meski pun saya tak tahu apa yang disedihkannya. Khabar apakah yang agaknya yang telah dibawa oleh Salleh dari kampung? Apakah sebab Hamid bersedih hati demikian rupa? Dunia yang manakah yang telah memutuskan harapannya? Tipudaya siapakah yang telah melukai hatinya, hingga ia menjadi demikian rupa itu? Itu sentiasa menjadi soal kepada saya.
Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya di atas satah, pada sebuah bangku yang bertikar daun kurma berjalin memandang kepada bintang-bintang yang memancarkan cahayanya yang indah di halaman langit, saya beranikan hati saya dan saya dekati dia. Maksud saya kalau dapat hendak membahagi kedukaan itu atau merentang-rentang barang sedikit kedukaan hatinya. " Saudara Hamid!" –kata saya. "Oh saudara, duduklah kemari!" – katanya pula sambil memperbaiki duduknya dan mempersilakan saya. Setelah sama-sama duduk, ia pun menanyakan keramaian orang haji dan kami pun memperkatakan keadaan pada tahun ini. Tiap-tiap perkataan terhadap kepada tanahair, pembicaraan diputarnya kepada yang lain, serupa ia tak suka. Maka akhirnya hati saya tiada tahan lagi, saya pun berkata: " Sudah lama saya perhatikan hal ehwal kamu, saudara, rupanya engkau dalam dukacita yang amat sangat. Agaknya engkau kurang percaya kepada saya, sehingga engkau tak mahu menyatakan kedukaan itu dengan saya. Sebagai seorang kawan, yang wajib berat sama memikul dan ringan sama menjinjing apa lagi jauh dari tanahair, sewajibnyalah saya engkau beritahu, apakah yang menyusahkan hati engkau sekarang, sehingga banyak perubahanmu daripada yang biasa?" Ia memandang kepada saya dengan tenang. " Katakanlah kepada saya, wahai sahabat!" –ujar saya pula.
" Saya akan menolong engkau sekadar tenaga yang ada pada saya.Kerana meski pun kita belum lama bergaul, saya telah tahu bahawa engkau adalah seorang yang budiman, saya tidak akan mensiakan kepercayaan engkau kepada diri saya." " Ini satu rahsia tuan!" – katanya. " Saya akan pikul rahsia itu jika engkau percayakan kepada saya dan saya akan masukkan ke dalam perbendaharaan hati saya dan kemudian saya kunci pintunya erat-erat. Kunci itu akan saya lemparkan jauh-jauh sehingga seorang pun tak dapat mengambilnya kedalam lagi. Mendengar perkataan saya itu mukanya kembali tenang dan ia pun berkata:" Jika telah demikian tuan berjanji, tentu tuan tidak akan mensiakan janji itu dan saya telah percaya penuh kepada tuan, kerana kebaikan budi tuan dalam pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada tuan sebab-sebab saya bersedih hati dan akan saya paparkan satu-persatu, sebagaimana berkata-kata dengan hati saya sendiri. Memang, saya harap tuan simpan citra diri saya selama saya hidup, tetapi jika saya lebih dahulu meninggal daripada tuan, sapa tahu ajal di dalam tangan Allah S.W.T,. Saya izinkan tuan menyusun hikayat ini baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan suka meratap memikirkan kemelaratan nasib saya, meskipun mereka tak tahu siapa saya. Moga-moga air matanya akan menjadi hujan yang dingin dan memberi rahmat kepada saya ditanah perkuburan." Air mata saya terpercik mendengarkan perkataan itu. Ia bermenung kira-kira dua atau tiga minit; di antara gemuruh suara manusia yang hampir sunyi di dalam Masjidil Haram itu, di antara doa-doa beribu-ribu makhluk yang sedang berangkat ke hadrat Tuhan sahabatku itu mengumpulkan ingatannya. Awan gelap yang menutup keningnya hilanglah dari sedikit ke sedikit; setelah itu ia menarik nafas panjang, seakan-akan mengumpulkan ingatan yang bercerai-cerai dan ia pun memulai perkataannya.
ANAK YANG KEMATIAN AYAH
Masa saya masih berusia empat tahun, ayah saya telah meninggal, ia telah meninggalkan saya sebelum saya kenal siapa dia dan betapa rupanya, hanya di dinding masih saya dapati gambarnya, gambar semasa ia masih muda, gagah dan manis. Ia telah meninggalkan saya dan ibu di dalam keadaan yang sangat melarat. Rumah tempat kami tinggal hanya sebuah rumah kecil yang telah lama, yang lebih dikenal kalu disebut gobok atau dangau. Kemiskinan kami telah menjadikan ibu putus harapan memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini, kerana tali tempat bergantung sudah putus dan tanah tempat berpijak sudah runtuh. Hanyalah saya yang tinggal, jerat semata, tempat dia menggantungkan pengharapan untuk zaman yang akan datang, zaman yang masih gelap. Meskipun pada masa itu ibu masih muda dan ada juga dua tiga orang dari kalangan saudagar-saudagar atau orang-orang berpangkat yang memintanya menjadi isteri, tetapi semuanya telah ditolaknya dengan perasaan yang sangat terharu. Hatinya belum lupa kepada almarhum ayah, semangatnya boleh dikatakan telah mengikutinya ke kuburan. Pada waktu malam, ketika akan tidur, kerap kali ibu menceritakan kebaikan ayah semasa ia hidup; ia seorang terpandang dalam pergaulan dan amat besar cita-citanya jika saya besar, akan menyerahkan saya masuk sekolah supaya saya menjadi orang yang terpelajar. Masa itu daun sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat, orang pun datanglah berduyun-duyun menghampirkan diri, ini menghampirkan diri, ini mengatakan mamak, itu mendakwa
bersaudara, berkarib famili, rumah-tangga sentiasa dapat kunjungan dari kiri dan kanan. Tetapi setelah perniagaan jatuh dan kemelaratan menjadi ganti segala kesenangan itu, tersisihlah kedua laki-isteri itu dari pergaulan, tersisih dan renggang dari sedikit ke sedikit. Oleh kerana malu ayah pindah ke Kota Padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu, supaya namanya hilang sama sekali dari kalangan kaum kerabat itu. Ibu pun menunjukkan kepada saya beberapa doa dan bacaan, yang menjadi wirid daripada almarhum ayah semasa hidup, menghamparkan penghargaan yang besar-besar kepada Tuhan seru sekalian alam, memohonkan belas kasihanNya. Kerana di dalam umur yang semuda itu ia telah di timpa sengsara yang tiada keputusan, tidaklah sempat saya meniru meneladani teman sama anak-anak. Waktu teman-teman bersukaria bersenda gurau, melepaskan hati yang masih merdeka, saya hanya duduk dalam rumah dekat ibu, mengerjakakan pekerjaan yang dapat saya tolong, Kadang-kadang ada juga disuruh saya bermain-main, tetapi hati saya tiada dapat bergembira seperti teman-teman itu, tetapi kegembiraan bukanlah saduran dari luar, tetapi terbawa oleh sebab-sebab yang boleh mendatangkan gembira itu. Apa lagi kalau saya ingat, bagaimana ia kerap kali menyembunyikan airmata dekat saya, sehingga saya tak sanggup menjauhkan diri daripadanya. Setelah badan saya agak besar, saya lihat banyak anak-anak yang sebaya saya berjaja kuih; maka saya mintalah kepadanya supaya dia sudi pula membuat kuih-kuih itu, saya sanggup menjualkannya dari lorong ke lorong, dari satu beranda rumah orang ke beranda yang lain, mudah-mudahan dapat meringankan agak sedikit tanggungan yang berat itu. Permintaan itu terpaksa dikabulkannya, sehingga saya akhirnya telah menjadi seorang anak penjual kuih yang terkenal. Hatinya kelihatan duka memikirkan nasib saya; anak-anak yang lain waktu pagi masuk bangku sekolah, saya sendiri tidak. Untuk penjualan kuih-kuih itu hanya cukup untuk makan sehari-hari, orang lain pun tak ada tempat meminta Bantu, sakit senang adalah tanggungan sendiri. Umur saya telah masuk enam tahun, setahun lagi saya mesti menduduki bangku sekolah, walaupun sekolah yang semurah-murahnya, sekolah desa, misalnya, tetapi yang akan menolong dan membantu tak ada sama sekali, tetapi ibu kelihatan tidak putus harapan, ia berjanji akan berusaha. Supaya kelak saya menduduki bangku sekolah, membayarkan cita-cita almarhum suaminya yang sangat besar angan-angannya, supaya saya kelak menjadi orang yang berguna dalam pergaulan hidup. Masa setahun lagi ditunggu dengan sabar. Bersambung....
PENOLONG
Enam bulan kemudian. Berhampiran dengan rumah kami ada sebuah gedung besar berpekarangan yang cukup luas; dalam perkarangan itu ada juga ditanam buah-buahan yang lazat seperti sauh dan rambutan.Rumah itu lama tinggal kosong, kerana tuannya seorang Belanda telah balik ke Eropah dengan mendapat pencen. Yang menjaga rumah itu selama ini adalah seorang jongos tua. Khabarnya konon rumah itu akan dijual, sebab tuan itu tidak balik lagi ke negeri ini. Selama itu kerap kali kami datang ke situ meminta buah rambutan dan sauh kepada Pak Leman. Demikian juga nama jongos tua itu. Tiba-tiba rumah itu diperbaiki, kerana telah dibeli oleh seorang saudagar tua yang hendak
berhenti dari berniaga. Ia akan hidup pada hari tua dengan senang, sebagai berehat daripada pekerjaannya yang berat pada masa ia muda memakan hasil daripada rumah-rumah sewa yang banyak di Padang dan di Bukit Tinggi, demikian juga sawah-sawahnya yang luas di sebelah Paya Kumbuh dan Lintau. Setelah rumah itu selesai diperbaiki, pindahlah orang hartawan itu ke sana bersama dengan isteri dan seorang anak perempuannya. Di hadapan rumah itu di atas batu marmar yang licin ada tertulis perkataan; Haji Jaafar. Tiap-tiap pagi saya lalu di hadapan rumah itu menjunjung nyiru berisi goring pisang, mata saya sentiasa memandang ke jendela-jendelanya yang berlangsir kain sutera kuning, hendak melihat keindahan perhiasan rumahnya. Fikiran saya menjalar, memikirkan kesenangan hati orang yang tinggal dalam rumah itu, cukup apa yang dimakannya dan diminumnya; airliur saya meleleh bila saya ingat, bahawa kami di rumah kadang-kadang makan, kadang-kadang tidak. Setelah saya meninggalkan halaman rumah itu, maka dengan suara yang merawankan hati saya panggilkan jualan saya; "Beli goreng pisang! Masih panas!" Lama kelamaan tertariklah perempuan yang setengah tua itu hendak memanggil jualan saya, demikian juga anaknya. Pernah kedengaran oleh saya ia berkata: " Panggillah Nab kesian juga saya!" Perempuan itu suka memakan sirih, mukanya jernih, peramah dan penyayang. Pak Leman yang telah menjadi jongos untuk memelihara perkarangan itu, belum pernah dapat suara keras daripadanya. Anak perempuannya itu masih kecil, sama dengan saya. Apa perintah ibunya diikuti dengan patuh, rupanya ia amat disayangi kerana anaknya hanya seorang itu. Sudah dua tiga kali saya datang ke rumah indah dan bagus itu; setiap kali saya datang bertambah sukanya melihat kelakuan saya dan belas kasihan akan nasib saya. Pada suatu hari perempuan itu bertanya kepada saya; " Di mana engkau tinggal anak, dan siapa ayah bondamu?" " Saya tinggal dekat sahaja di sini mak"-jawab saya. " Itu rumah tempat kami tinggal, di seberang jalan. Ayah saya telah mati dan saya tinggal dengan ibu saya. Beliaulah yang membuat kuih-kuih ini; pagi-pagi saya berjual goreng pisang dan kalau petang biasanya menjual rakit udang (jengket udang) atau godok perut ayam." " Berapakah keuntungan sehari?" tanyanya pula. " Tidak tentu, mak. Kadang-kadang kalau untung baik dapat setali (25 sen), Kadang-kadang kalau kurang dari itu, sekadar cukup untuk kami makan setiap hari…." " Kasihan…." – katanya sambil menarik nafas. Setelah itu ia berkata pula: " Bawalah ibumu nanti petang kemari, katakana mak yang baru pindah ke rumah ini hendak berkenalan dengan ibu." " Saya mak, ibu saya kurang benar keluar dari rumah." " Suruh lah sahaja kemari, katakan mak perlu hendak bertemu." " Baiklah kalau begitu , mak" – jawab saya.
Setelah itu saya pun pulang, sampai di rumah saya katakanlah kepada ibu perkataan orang di gedung besar itu. Mula-mula ibu seakan-akan hendak bertempik, dia agak marah kepada saya, kalau-kalau saya telah berlangsung mulut menerangkan untung nasib diri kepada orang lain. Tetapi setelah mendengar keterangan saya, hatinya pun senang. Pada petangnya takut-takut cemas pergilah dia ke rumah besar itu. Meskipun ibu saya merasa malu-malu dan insaf akan kerendahan darjatnya, Mak Asiah, demikian nama isteri Engku Haji Jafar itu, sekali-kali tiada meninggikan diri, sebagai kebiasaan perempuan-perempuan isteri orang hartawan atau orang berpangkat yang lain. Bahkan ibuku dipandangnya sebagai saudaranya, segala nasib dirinya dan penanggungan ibu didengarnya dengan tenang dan muka yang rawan, kadang-kadang ia pun turut menangis waktu ibu menceritakan hal yang sedih-sedih. Sehingga waktu cerita itu habis, terjadilah di antara keduanya persahabatan yang kental, harga menghargai dan cinta menyintai. Semenjak itu saya sentiasa datang ke rumah itu. Saya sudah beroleh seorang adik yang tidak berapa tahun kecilnya daripada saya, yaitu anak perempuan di gedung besar itu, Zainab namanya. Peribahasa yang halus dari Mak Asiah, adalah didikan juga daripada suaminya, seorang hartawan yang amat peramah kepada fakir dan miskin. Konon khabarnya, kekayaan yang di dapatnya itu adalah daripada usahanya sendiri dan titik peluhnya, bukan waris daripada orang tuanya. Dahulunya dia seorang yang melarat juga, tetapi berkat yakinnya, terbukalah baginya pintu pencarian. Sungguhpun ia telah kara-raya, sekali-kali tidaklah ia lupa kepada keadaannya tempoh dahulu, ia sangat insaf melihat orang-orang yang melarat, lekas memberi pertolongan kepada orang yang berhajat. Pada suatu pagi saya datang mendapatkan ibu saya dengan perasaan yang sangat gembira, membawa khabar suka yang sangat membesarkan hatinya, iaitu esok Zainab akan dihantarkan ke sekolah dan saya akan dibawa sama. Saya akan disekolahkan dengan belanja Haji Engku Jaafar sendiri bersama-sama anaknya. Mendengar perkataan itu bercucuran airmata ibuku kerana sukacitanya, kejadian selama ini yang sangat diharap-harapnya. Esok paginya, saya saya tidak menjunjung nyiru tempat kuih lagi, tetapi telah pergi ke sekolah menjunjung batu tulis. Agaknya dua macam faedah yang akan diambil oleh Engku Haji Jaafar menyerahkan saya, pertama untuk menolong saya, kedua untuk jadi teman anaknya. Saya pun insaf, lebih-lebih setelah beberapa nasihat daripada ibuku. Zainab telah saya pandang sebagai adik kandung, saya jaga daripada gangguan murid-murid yang lain. Lepas dari sekolah kerapkali saya datang dengan ibu ke rumah besar itu, kalau-kalau ada yang patut kami Bantu dan kami tolong, kerana kami telah dipandang sebagai anggota rumah yang besar itu. Umur saya lebih tua daripada Zainab dua tahun. Meskipun saya hanya anak yang beroleh pertolongan daripada ayahnya, sekali-kali tidaklah Zainab menganggap saya sebagai orang lain lagi, tidak pula ia pernah mengangkat diri, agaknya kerana kebaikan didikan ayah-bondanya. Cuma di sekolah, anak-anak orang kaya kerapkali menggelakkan saya anak yang berjual goreng pisang telah bersekolah bersama-sama dengan anak orang hartawan. Dua perkataan yang manis, yang timbul daripada hati yang suci, telah merapatkan kami, perkataan itu ialah abang dan adik. Sampai sekarang, saya masih teringat nikmat kehidupan dalam dunia anak-anak yang kerapkali diratapi oleh ahli-ahli sya`ir, yang hanya datang sekali ke alam manusia selama hidupnya. Waktu
itu bila pulang dari sekolah, saya dan Zainab bersama teman-teman kami yang lain berlari-lari, berkejar-kejaran dan bermain galah dalam perkarangan rumahnya, memanjat pohon rambutan yang sedang ranum, kekadang bercari-carian dan bersorak-sorak. Waktu itu ibuku dan ibunya sedang duduk di beranda belakang; ibuku sentiasa merendahkan diri, melihat kami yang rasa sukacita. Kadang-kadang waktu petang kami duduk di beranda muka, membelek buku gambar, bertengkar dan berkelahi, kemudian damai pula. Hari Minggu kami diizinkan pergi ke tepi laut. Ke muara atau ke tepi Batang Arau, melihat perahu pengail yang sedang di lambung-lambungkan gelombang di tengah lautan yang luas, kain layarnya dipuput oleh angin yang menghantarkannya ke tengah, akan mencari rezekinya. Negeri Pariaman hijau nampaknya dari jauh, ombak memecah dan menderum tiada berhenti memukul pasir tepi itu. Di sana kami berlari-larian mengejar ambai-ambai yang segak dan lekas lari ke sarangnya. Kadang-kadang kami buat unggunan pasir sebagai rumah-rumah atau masjid-masjid, tiba-tiba datang ombak yang agak besar, di hapuskannya unggunan yang kami dirikan itu; anak-anak perempuan lari ke tepi menyinsingkan tepi bajunya, takut tersiram air laut. Waktu orang berlimau, sehari akan puasa, kami dibawa ke atas puncak Gunung Padang, kerana di sanalah ayahku berkubur, dan beberapa famili ibu Zainab. Saya disuruh membawa air wangi dalam botol. Zainab mambawa bunga-bungaan dan ibuku serta ibunya mengiringi dari belakang. Semuanya masih tergambar dalam fikiran saya hari ini, masih saya ingat bahawa persaudaraan kami suci dan ikhlas adanya, dari tahun berganti tahun, sampai kami tamat dari sekolah pertengahan. Amat besar budi Engku Haji Jaafar kepada saya, banyak kepandaian yang telah saya peroleh kerana kebaikan budinya itu. Dari sekolah rendah (H.I.S) saya sama-sama naik dengan anaknya menduduki Mulo. Tetapi setelah tamat dari sana, sekolah kami tak akan disambung lagi, kerana sebenarnya didikan ibuku amak melekat kepada diri saya, iaitu condong kepada mempelajari agama. Zainab pun hingga itu pelajarannya, kerana dalam adat orang hartawan dan bangsawan di Padang, kemajuan anak perempuan itu hanya terbatas hingga Mulo, belum berani mereka melebihi dari kebiasaan umum, melepaskan anak perempuannya belajar jauh-jauh. Setelat tamat dari mulo, menurut adat, Zainab masuk dalam pingitan, ia tidak akan dapat keluar lagi kalau tidak ada satu keperluan yang sangat penting, ini pun harus ditemani oleh ibu atau orang kepercayaannya, sampai datang masanya bersuami kelak. Dan saya, bila sekolah itu tamat, akan berangkat ke Padang Panjang, sebab Engku Haji Jaafar masih sanggup membelanjai saya, apa lagi demikianlah cita-cita ibuku.
APAKAH NAMANYA INI?
Saat yang ditakutkan itu pun telah datang; dengan hati riang, bercampur masyghul, saya terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Riang, kerana saya telah beroleh diploma dan masyghul kerana berpisah dengan bangku sekolah dan dengan teman-teman. Ertinya masa gembira, masa menghadapi zaman yang akan datang dengan penuh kepercayaan, telah habis. Setelah guru membahagikan diploma kami masing-masing dengan bersorak-sorak kami meninggalkan perkarangan sekolah, kami bersalam-salaman satu dengan yang lain dan guru memberi kami peringatan, supaya sekolah kami diteruskan bagi siapa yang sanggup Anak-anak Belanda dan beberapa anak saudagar-saudagar yang mampu, dengan megah menyatakan di hadapan teman-temannya, bahawa sekolah itu akan diteruskannya; setelah habis cuti tahunan, mereka akan berangkat ke tanah Jawa mengambung pelajarannya. Saya sendiri, tidaklah saya khabarkan bahawa saya akan menambah pelajaran agama, kerana selama ini teman-
teman mengejekkan saya, mengatakan saya gila agama. Yang berasa sedih sangat, adalah anak-anak perempuan yang masuk pingitan (Terkurung di rumah saja) tamat sekolah bagi mereka ertinya suatu sangkar yang telah sedia buat seekor burung yang bebas terbang. Zainab sendiri, semenjak tamat sekolah, ia pun telah tetap dalam rumah, didatangkan baginya guru dari luar yang akan mengajar berbagai-bagai kepandaian yang perlu bagi anak-anak perempuan, seperti menyulam, merenda, memasak dan lain-lainnya. Petang hari ia menyambung pelajarannya dalam perkara agama. Saya, tidak beberapa bulan setelah tamat sekolah, berangkat ke Padang Panjang, melanjutkan cita-cita ibu saya dan kerana kemurahan Engku Haji Jaafar juga. Sekolah-sekolah agama yang ada di situ mudah sekali saya masuki, kerana lebih dahulu saya telah mempelajari ilmu umum; saya hanya tinggal memperdalam pengertian dalam perkara agama saja, sehingga akhirnya salah seorang guru memberi fikiran, menyuruh saya mempelajari agama di luar sekolah saja, sebab kepandaian saya lebih tinggi dalam hal ilmu umum daripada kawan-kawan yang lain. Demikian lah pelajaran itu telah saya tuntut dengan bersungguh hati, tetapi…. Semenjak mula saya pindah ke Padang Panjang, sentiasa saya merasa keseorangan. Kian lama saya tinggal dalam negeri dingin itu, kian terasa oleh saya bahawa saya sebagai seorang yang terpencil. Keindahan alam yang ada di sekeliling kota dingin itu menghidupkan kenang-kenangan saya kepada hal-hal yang telah lalu. Gunung Merapi dengan kemuncak tandikat waktu matahari akan terbenam dan mempertaruhkan jabatan memberi cahaya kepada bulan, singlang yang sentiasa diliputi dengan kebun-kebun tebunya yang beriak-riak ditiup angin, semuanya membangkitkan perasaan-perasaan yang ganjil, yang sangat mengganggu fikiran saya. Saya berasa sebagai seorang yang kehilangan, padahal jika saya periksa penaruhan saya, peti, meja tulis, kain dan baju semuanya cukup. Teapi badan saya ringan, seakan-akan suatu kecukupan yang telah kurang. Saya Cuma ingat, bahawa jika dengan teman-teman sama sekolah saya pergi melihat keindahan air terjun di Batang Anai atau mendaki Bukit Tuai, atau gua Batu Sungai Anduk, bila masa saya melihat keindahan ciptaan alam itu, saya ingat alangkah senang hati Zainab jika ia turut melihat pula. Kerana saya tahu betul bahawa ia seorang anak perempuan yang dalam perasaannya; waktu sama-sama sekolah, ia sukar benar mendengarkan nyanyian-nyanyian yang sedih, walaupun nyanyian Barat atau Timur. Bila mana lalu dihadapan rumahnya seorang buta bersama-sama cucunya yang kecil, kerapkali ia menitikkan airmata. Bagaimanakah perasaannya kelak jikalau dia ada pula di tempat yang indah itu? Sentiasa saya hitung pertukaran hari ke bulan dan dari bulan ke tahun. Apabila cuti sekolah bagi bulan puasa telah hampir, gembiralah hati saya kerana akan dapat saya mengadap ibu saya memaparkan di hadapannya bahawa ia sudah patut gembira kerana anaknya ada harapan akan menjadi orang alim dan dapat pula bersimpuh di hadapan Engku Haji Jaafar yang dermawan, bahawa pertolongannya ada harapan akan berhasil, bersimpuh pula di hadapan Mak Asiah kerana dengan pertolongannya saja saya telah menjadi orang baik. Kemudian dari itu akan dapat pula bertemu dengan Zainab. Saya akan nyatakan di hadapannya pengalaman yang telah saya dapat selama pergi menuntut ilmu, dan saya hadiahkan kepadanya gambar dari "Panorama" keliling kota Padang Panjang yang saya ambil gambarnya bersama-sama teman sejawat saya. Tentu akan saya terangkan di hadapannya dengan gembira, dengan besar hati, sehingga ia akan termanggu-
manggu mendengar cerita saya, apa lagi ia amat sukar akan dapat keluar dari lingkungan rumahnya. Apabila sekolah saya tutup, segala segala cita-cita yang telah saya reka selama belajar, dan telah saya susun di jalan antara Padang Panjang dengan Padang semuanya dapat saya jalankan; ibu saya menitik airmata kerana kegirangannya, Engku Haji Jaafar tersenyum mendengar saya mengucapkan terima kasih. Mak Asiah memuji-muji saya sebagai seorang anak yang berbudi, Cuma ketika berhadapan dengan Zainab dalam rumahnya, mulut saya tertutup, saya menjadi seorang yang bodoh atau pengecut. " Bila abang pulang?" Katanya. " Pukul sepuluh pagi tadi." Jawab saya. " Apa khabar?Baik?" " Alhamdulillah………." Setelah itu saya menjadi bingung, tidak tentu lagi apa yang akan saya terangkan kepadanya. Segala rancangan saya terhadap dirinya yang saya reka-rekakan tadi, semuanya hilang. Ia melihat tenang-tenang kepada saya, seakan ada pembicaraan saya yang ditunggunya, tetapi kian lama saya kian gugup, sehingga sudah lalu hampir lima belas minit, tidak ada diantara kami yang bercakap. "Mudah-mudahan kelak selamatlah, dan kerapkali datang kemari kalau masih di rumah"- katanya pula; lalu ia berdiri dari tempat duduknya, kembali ke pekarangan belakang, ke dalam pingitan. Saya pun berdiri saya ambil songkok saya sambil menarik nafas panjang saya pun keluar. Dalam hati, saya teringat hendak menulis surat kepadanya akan ganti diri saya menerangkan segala perasaan hati. Surat itu akan saya tulis dengan tulus ikhlas, tidak bercampur dengan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan hati, baik perkara cinta atau perkara lain-lainnya, apa lagi surat itu tidak akan diketahui oleh orang isinya jika ditulis dalam bahasa Balanda. Tetapi ha…saya tak sampai hati, sebab perbuatan itu hanya sehingga daerah persaudaraan antara adik dan abang, tidaklah mengapa. Tetapi adalah saya ini seorang yang lemah, otak saya tak dapat mempengaruhi dan mengendalikan hati saya, sepandai-pandainya mengatur dan menyusun kata, akhirnya tentu salah satu perkataan di dalam surat itu terpaksa juga membawa erti lain, padahal dalam perkara yang halus-halus anak perempuan amat dalam pemeriksaannya. Cinta itu adalah " jiwa" antara cinta yang sejati dengan jiwa tak dapat dipisahkan, cinta pun mereka sebagaimana jiwa, ia tidak memperbezakan di antara darjat dan bangsa, di antara kaya dan miskin, mulia dan papa demikianlah jiwa saya, diluar dari pada resam basi, terlepas daripada kekang kerendahan saya dan kemuliaannya; saya merasainya, bahawa Zainab adalah diri saya, Saya merasai ingat kepadanya adalah kemestian hidup saya. Rindu kepadanya membukakan pintu angan-angan saya menghadapi zaman yang akan datang. Dahulu saya tidak pedulikan hal itu, tetapi setelah saya besar dan berpisah daripadanya, barulah saya insaf, bahawa kalau bukan di dekatnya, saya berasa kehilangan. Mustahil ia akan dapat menerima cinta saya, kerana dia langit dan saya bumi, bangsanya tinggi dan saya daripada kasih sayang ayahnya. Bila saya tilik diri saya, tidak ada padanya tempat buat
lekat hati Zainab. Jika kelak datang waktunya orang tuanya bermenantu, mustahil pula saya akan temasuk golongan orang yang terpilih untuk menjadi menantu Engku Haji Jaafar, kerana tidak ada yang akan dapat diharapkan dari saya, tetapi tuan…. Kemustahilan itulah yang kerapkali memupuk cinta. Setelah puasa habis, saya kembali ke Padang Panjang. Sebelum berangkat saya datang ke rumahnya menemuinya, menemui ayah dan ibunya. Daripada ayahnya saya dapat nasihat; " Belajarlah sungguh-sungguh, Hamid, mudah-mudahan engkau lekas pintar dalam perkara agama dan dapat hendaknya saya menolong engkau sampai tamat pelajaranmu….." " InsyaAllah Engku"- jawab saya. Setelah itu saya berangkat; seketika saya melengung yang penghabisan ke belakang; kelihatan oleh saya Zainab berdiri di pintu tengah, melihat kepada saya. Di situ timbul pula kembali sifat saya yang pengecut; saya mengadap ke muka dan saya pun pergi…… Bersambung....
SEPERUNTUNGAN
Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka satu musibah besar telah menimpa kami berturut-turut. Pertama ialah kematian sekonyong-konyong dari Engku Haji Jaafar yang dermawan. Ia seorang yang sangat dicintai oleh penduduk negeri, kerana ketinggian budinya dan kepandaiannya dalam pergaulan; tidak ada satu pun perbuatan umum di sana yang tak dicampuri oleh Engku Haji Jaafar. Kematiannya membawa perubahan yang bukan sedikit kepada perhubungan kami dan rumahtangga Zainab. Dia yang telah membuka pintu yang luas kepada saya memasuki rumahnya di zaman hidupnya, sekarang pintu itu mahu tak mahu telah tertutup. Sebagai seorang lain, Pertemuan kami tidak berleluasa seperti dulu lagi. Ah…. zaman semasa anak-anak, dia telah pergi dari kalangan kami dan tak akan kembali lagi. Belum beberapa lama setelah budiman itu menutup matanya,datang pula musibah baru kepada saya. Ibu saya yang tercinta, yang telah membawa saya menyeberangi hidup bertahun-tahun telah ditimpa sakit, sakit yang selama ini telah melemahkan badannya, iaitu penyakit dada. Kerapkali Zainab dan ibunya datang melihat ibuku, dan duduk dekat kepalanya, sedang saya duduk menjaga dengan diam dan sabar. Kerapkali juga Mak Asiah berkata; " Ah luka lama yang belum sembuh sekarang datang pula yang baru. Belum lama saya menjagai suami saya sakit, sekarang saya mesti melihat sahabat saya yang menanggung sakit. Mudah-mudahan ia lekas sembuh." Waktu itu Zainab diam dalam menungnya, di hadapan ibu yang sedang sakit, kerapkali ia melihat kepada saya dengan muka yang tenang, dan agaknya bersertaan dengan nasib yang ditanggungnya sendiri. Tetapi sepatah kata pun tak keluar daripada mulutnya dan saya pun melihat pula, sehingga kedua mata kami bertemu dan dari dalam ruang-ruang mata yang hitam, seakan-akan terbayang berulang-ulang beberapa perkataan yang penting, meskipun lidah tiada sanggup menunjukkan ertinya. Mak Asiah pergi bersama Zainab, di meja mereka letakkan sepinggan bubur yang telah didinginkan, ditutup dengan sebuah piring kecil untuk ibu, kerana dia tak kuat makan nasi. Ketika ia akan pergi, ia berkata:" Jagalah ia baik-baik, jika ia bangun kelak, berilah bubur ini barang sesenduk pun." " Baiklah mak"-kata saya.
Pintu mereka tutupkan baik-baik dan mereka pun pergi. Setelah beberapa saat kemudian ibuku mengembangkan matanya; di dalamnya hanya kelihatan tinggal cahayaa dari kekerasan hati, padahal Kekuatan telah habis sama sekali. Dicarinya saya dengan matanya yang telah kabur, tangannya yang telah tinggal jangat pembalut tulang itu mencapai-capai ke kiri ke kanan mencari tangan saya, dengan segera saya berikan tangan kanan saya, dipegangnya erat-erat dan dibawanya kemulutnya seraya diciumnya, lama sekali; dari matanya titik airmata yang panas. " Hamid"- katanya, rupanya kekuatan kembali sedikit; " Ibu hendak berbicara dengan engkau, penting sekali, nak!" " Lebih baik ibu diamkan dahulu, agaknya ibu terlalu payah." " Tidak, Mid, kekuatan ibu dikembalikan Tuhan untuk menyampaikan bicara ini kepadamu." " Apakah yang ibu maksudkan?" " Sebagai seorang yang telah lama hidup, ibu telah mengetahui suatu rahsia pada dirimu." " Rahsia apa ibu?" " Engkau cinta kepada Zainab!" " Ah, tidak ibu, itu barang yang amat mustahil dan itulah yang sangat anakanda takuti. Anakanda tak cinta padanya dan takut akan cinta, anakanda belum kenal " cinta." Anakanda tahu bahawa jika anakanda menyerahkan cinta kepadanya, takkan ubahnya seperti seorang yang mencurahkan semangkuk air tawar ke dalam lautan yang amat luas; laut tak akan berubah sifatnya kerana semangkuk air itu." " Wahai anakku, dari susunan katamu itu telah dapat ibu membuktikan bahawa engkau sedang diserang penyakit cinta, takut akan kena cinta, itulah dia sifat daripada cinta; cinta itulah yang telah merupakan dirinya menjadi suatu perbuatan, cinta itu kerapkali berupa putus harapan, takut, cemburu, hiba hati terkadang-kadang berani. Di hadapan ibumu yang telah lama merasai pahit dan manis kehidupan tidaklah dapat engkau sembunyikan lagi. Mataku telah kabur, tetapi hatiku masih terang-benderang." " Anakku …… sekarang cintamu masih bersifat angan-angan, cinta itu kadang-kadang hanya menurutkan perintah hati, bukan menurut pendapat otak. Dari belum berbahaya sebelum ia mendalam, kerapkali kalau yang kena cinta tak pandai ia merosakkan kemahuan dan kekerasan hati lelaki. Kalau engkau perturutkan tetap engkau menjadi seorang anak yang berputus asa, apa lagi kalau cinta itu tertolak, terpaksa ditolak oleh keadaan yang ada di sekelilingnya….. " Hapuskanlah perasaan itu dari hatimu, jangan timbul-timbulkan juga. Engkau tentu memikirkan juga, bahawa emas tak setara dengan loyang, sutera tak sebangsa dengan benang." " Ayahnya, orang yang telah memenuhi cita-cita kita dengan nikmat, sekarang tak ada lagi, ertinya telah putus tali yang memperhubungkan kita dengan rumahtangga orang di sana. Meski pun ibu Zainab seorang yang penuh dengan budi pekerti. Tentu saja kebaikannya kepada kita tidak lagi sebagai suaminya hidup. Apa lagi famili-famili mereka yang bertali darah sudah banyak yang akan turut mengatur keadaan pergaulan rumahtangga itu, iaitu orang-orang baru yang tidak kenal akan kita."
" Memang anak,….. cinta itu " Adil" sifatnya, Allah telah mentakdirkan dia dalam keadilan, tidak memperbeza-bezakan antara raja dengan orang meminta-minta, tiada menyisihkan orang kaya dengan orang miskin, orang mulia dengan orang hina, bahkan kadang-kadang tidak juga berbeza baginya antara bangsa dengan bangsa, tetapi aturan pergaulan hidup, tiada membiarkan yang demikian itu berlaku, orang sebagai kita ini telah dicap dengan darjat " Bawah" atau " Kebanyakkan" sedang mereka diberi nama " cabang atas"; cabang atas ada kalanya kerana pangkat dan ada kalanya kerana harta benda. Cincin emas orang sayang hendak memberi bermatakan kaca, tentu dicarikan orang, biar lama, permata intan berlian, atau zamrud dan nilam yang telah diasah oleh orang rantai perintang-perintang hatinya, kerana lama menanggung dalam penjara." " meski pun Zainab suka kepada engkau…. Kerana agaknya batinnya suci daripada perasaan takbur dan mengangkat dirinya, tidaklah langsung kalau ibunya tak suka. Diletakkan ibunya suka, bermuafakat orang itu dahulu dengan kaum kerabat, handai dan taulan. Kalau mereka tak sepakat, waktu itulah kelak kau diserang oleh putus asa, oleh malu, dan kadang-kadang memberi melarat kepada jiwamu. Sebab api masih belum besar tidak engkau padami lebih dahulu." " Tidak ada yang lebih baik untuk melupakan hal itu sebelum ia mendalam, sebab cinta kepada orang yang demikian, adalah cinta arwah ayahmu hendak kembali ke dunia, kerana ia berbesar hati melihat engkau telah besar. Ia tahu dan melihat segala apa yang kejadian dalam dunia ini, dan ia ingin sekali hendak datang. Tetapi sayang…. Alam dunia telah terbatas jauh sekali dengan alam barzakh….." Lama saya termenung mendengarkan perbicaraan ibu itu, pertama kerana amat dalam penyelidikannya kepada faham hidup ini, kedua memikirkan kekuatan jiwanya yang timbul, seakan-akan malaikat yang memimpin dia sedang berbicara, yang tidak saya sangka-sangka akan sejelas itu. Beberapa saat antaranya saya pun menjawab:" Terima kasih, ibu, nasihat ibu masuk benar kedalam hatiku, semuanya benar belaka, sebenarnya sudah lama pula anakanda merasa yang demikian, sehingga dengan hati sendiri anakanda berjanji hendak melupakannya, yang amat ajaib ialah peperangan otak dengan hati. Tetapi bila kelihatan rumahtangga, atau kelihatan rupanya sendiri, dan kadang-kadang bila namanya disebut orang hati ini lupa akan perintah otak, ia kembali berdebar, ia surut kepada kenang-kenangannya yang lama. Inilah yang kerapkali mengalahkan anakanda." " Ah, anakku, pandai benar engkau mewartakan nasibmu kepada ibumu! Mengapa engkau segila itu benar, pada hal agaknya engkau belum mengetahui bagaimana pula perasaan Zainab kepada dirimu?" " Wahai ibu, Cuma anakanda tahu bahawa cintaku mendapat sambutan dengan semestinya, agaknya tidaklah separah ini benar luka hatiku, kerana cinta yang dibalas itulah ubat yang paling mujarab bagi seorang anak muda dalam hidupnya, tak akan lebih pintanya daripada itu, hati anak muda akan besar dan merasa beruntung, jika anakanda ketahui bahawa airmata anakanda yang selama ini telah banyak tercurah tidak bagai air yang tenggelam di pasir; bahawa pengharapan dalam menuju hidup tak terhambat ditengah jalan; bahawa cita-cita hendak memandangi langit tidak di halangi oleh awan. Cinta anakanda kepadanya bukan mencintai tubuhnya dan bentuk badannya, tetapi jiwa anakandalah yang mencintai jiwanya, kecintaan anakanda bukan dipeterikan oleh kebiasaan bergaul dan bukan pula kerana kepandaian menyusun surat-surat kiriman. Kebebasan pergaulan bisa ditutupi dengan perangai yang dibuat-buat dan kepintaran mengarang surat dapat pula menyembunyikan kepalsuan hati. Anakanda menyintai Zainab kerana budinya; di dalam matanya ada terkandung suatu lukisan hati yang suci dan bersih."
" Anakku, sudah tinggi fikiranmu rupanya, sudah dapat engkau menerangkan perasaan hati dengan perkataan yang cukup, sudah menurun pada dirimu kelebihan ayahmu. Ibu tak dapat menyambung perkataan lagi….. perkataanmu hanya ibu sambut dengan airmata. Hanya kepada Tuhan ibu berharap, mudah-mudahan Dia memberikan anugerah dan perlindungan akan dirimu. Dia yang telah menanamkan perasaan itu ke dalam hatimu, Dia pula yang berkuasa mencabutnya. Mudah-mudahan itu hanya suatu khayal, suatu angan-angan yang kerapkali mempengaruhi hati anak muda, yang dapat hilang kerana pergantian siang dan pertukaran malam." " Mudah-mudahan," jawab saya. Demikianlah nasihat kepada saya, setelah itu kekuatannya tak ada lagi. Dari saat ke saat, hanya kelihatan kepayahannya menyelesaikan nafas yang turun naik. Kadang-kadang dilihatnya saya tenang-tenang dan dingangakan mulutnya sedikit minta minum. Ubat-ubatnya tak memberi faedah lagi. Tidak beberapa malam setelah dia memberi nasihat itu, datanglah masa yang ditunggu-tunggunya, masa berpindah daripada alam yang sempit kepada alam yang lapang. Sementara saya asyik meminumkan ubat, di tangan kanan saya terpegang sudu dan di tangan kiri terpegang gelas. Ia melihat kepada saya dengan tenang, alamat berpisah yang akhir. Dari mulutnya keluar kalimah suci, bersamaan dengan kepergian nyawanya ke dalam alam yang baqa', yang di sana tempat manusia lepas daripada segala penyakit. Saya tercengang dan seakan-akan bingung, di tangan kanan saya sudu masih terpegang, di tangan kiri saya berisi ubat; saya lihat ke atas meja, di sana terletak beberapa botol yang telah kosong dan ramuan dukun yang telah layu, limau manis yang dihantarkan oleh Zainab pagi hari itu baru diusiknya seulas, lebihnya masih tinggal terletak di atas meja. Waktu itulah baru saya insaf bahawa itu bukan perkara sudu, gelas, bukan perkara ubat ramuan, tetapi perkara ajal semata-mata….. Sekarang saya sudah tinggal sebatang kara di dunia ini! Bersambung.... TEGAK DAN RUNTUH Telah lalu kejadian itu dan dia telah memberi kesan ke dalam jantung saya; rupa-rupanya kedukaan dan cubaan mesti diturunkan kepada manusia secukup-cukupnya dan sepuas-puasnya, menanglah siapa yang tahan. Sejak kematian itu tidak beberapa kerap lagi saya datang ke rumahnya, saya karam dalam permenungan, memikirkan hidup saya di belakang hari, sebatang kara di dunia ini. Pada suatu petang sedang matahari akan tenggelam ke dasar lautan di Batang Arau, di antara Hujung Gunung Padang, di celah-celah ombak yang memecah ke atas pasir yang putih di Pulau Pandan, di waktu saya sedang berjalan seorang diri di pesisir Batang Arau yang indah, melihat perahu keluar masuk, tiba-tiba...... kelihatan oleh saya sebuah perahu tumpangan datang dari seberang, di atasnya duduk tiga orang perempuan yang agak tua, bertudung kain bugis halus, setelah perahu kecil itu hampir, keluar dari dalamnya perempuan-perempuan itu, seorang di antaranya ialah Mak Asiah sendiri, ia lekas melihat saya, " Oh, engkau Hamid? Mengapa di sini?" Katanya. " Berjalan-jalan emak," jawabku; " Dan emak dari mana?"
" Dari menziarahi kubur bapamu….mengapa engkau tak datang ke rumah semenjak ibumu meninggal?" Kerana Engku Haji Jaafar tiada lagi, akan engkau alangi saja datang ke rumah? " Tidak emak, Cuma kematian yang bertimpa-timpa itu agak mendukacitakan hatiku, itu sebab saya kurang benar keluar rumah. " Tak boleh begitu, Hamid; sebabnya engkaulah yang mesti menyabarkan hati kami. Besok engkau mesti datang ke rumah, ibu tunggu kedatanganmu, banyak yang perlu kita bincangkan." " Baiklah mak." " Saya tunggu, ya?" " Baik, mak!" Setelah itu ia pun pergi di tengah jalan, sebelum mereka naik dari sampan, rupanya pembicaraan mereka terhadap diri saya saja. Kerana tak berapa jauh langkahnya, perempuan-perempuan tua yang lain semuanya menoleh kepada saya sebagai rupa orang menunjukkan belas kasihan. Besoknya janji itu pun saya tepati. Wahai tuan, hari itulah masa yang tak dapat saya lupakan! Saya datang ke rumah itu, rumah tempat saya bersenda gurau dengan Zainab di waktu kecil, rumah itu seakan-akan hilang semangat dan memang kehilangan semangat, kerana bekas-bekas kematian masih kelihatan nyata. Pintu luar terbuka sedikit dan saya ketuk pintunya yang mengadap ke dalam; pintu terbuka…. Zainab yang membukakan. " Abang Hamid!" katanya. Waktu itu kelihatan nyata oleh saya mukanya merah, nampak sangat gembiranya melihat kedatangan saya. Baru sekali itu dan baru saat itu selama hidup saya melihat mukanya demikian, yang tak pernah saya gambarkan dan tuturkan dengan susunan kata, pendeknya wajah yang memberikan saya penuh pengharapan. " Bang Hamid!" katanya menyambung perkataannya, " Sudah lama benar abang tak kemari, lupa agaknya abang kepada kami!" Gugup saya hendak menjawab; saya pintar mengarang khayal dan angan-angan tetapi bila sampai di hadapannya saya menjadi seorang yang bodoh. " Tidak, Zainab" jawabku dengan gugup; " Tetapi….. bukankan kita sama-sama kematian?" " Memang, kematian itulah yang sepatutnya menjadikan abang kerap kemari." Seketika itu mukanya kembali ditekurkannya menghadapi kakinya, tangannya berpegang ke pinggir pintu, rambutnya yang halus menutupi sebahagian keningnya dan sepatah kata pun dia tidak berbicara lagi. " Zainab…" kataku pula. " Sebetulnya tidak saya…. Pernah lupa datang kemari, barangkali engkaulah… agaknya yang … lupa kepadaku."
Mendengar itu ia bertambah menekur, tak berani ia mengangkat muka lagi, dan saya pun gugup hendak menambah perkataan, memang bodoh saya ini, dan pengecut! Tiba-tiba dalam saya menyediakan perkataan yang akan saya katakana pula dalam sedang merenungi kecantikan Zainab, kedengaranlah dari halaman tapak kaki emak Asiah menginjak batu; Zainab mengangkat mukanya seraya berkata: " Itu ibu datang." Saya masih dalam kebingungan, Zainab lalu kehadapan saya mengadap kedatangan ibunya. Ketika sampai ke beranda dia berkata " Sudah lama Mid?" " Baru sebentar, mak" jawabku. Saya disuruh duduk, Zainab dengan segera pergi ke belakang memasak kopi sebagaimana kebiasaannya. " Hampir mak terlupa akan janji kita. Tadi mak pergi ke rumah orang sebelah kerana tiada lama lagi dia akan mengahwinkan anaknya; jadi dari sekarang sedang bersiap-siap menyediakan yang perlu, maklumlah tetangga, perlu bantu-membantu." Saya dengarkan perkataannya, tetapi fikiran saya masih tetap ingat kepada kejadian tadi. Fikiran saya menjalar kemana-mana, memikirkan tegur Zainab dan mukanya yang merah ketika mula-mula melihat saya; hanya suatu kejadian yang tiba-tibakah itu, atau adakah dia merasai apa yang saya rasai? Dalam pada itu Mak Asiah masih tetap membicarakan beberapa perkara menyebut-nyebut jasa suaminya, menyebut kebaikan ibuku. Akhirnya sampai pembicaraan kepada Zainab. " Bagaimanakah fikiranmu Hamid, tentang adikmu Zainab ini?" " Apakah yang emak maksudkan' Tanya saya. " Semua keluarga di darat (darat adalah sebutan dari Padang Halus) telah bermuafakat dengan emak hendak mempertalikan Zainab dengan seorang anak saudara almarhum bapamu, yang ada di darat itu, dia sekarang sedang bersekolah di Jawa. Maksud mereka dengan perkahwinan itu supaya hartabenda almarhum bapanya dapat dijagai oleh familinya sendiri, oleh anak saudaranya, sebab tidak ada saudara yang lain, dialah anak yang tunggal. Pertunangan itu telah dirunding oleh orang yang sepatutnya, jika tiada aral melintang, bulan depan hendak dipertunangkan dahulu, nanti apabila tamat sekolahnya akan dilangsungkan perkahwinan. Hal ini telah mak rundingkan dengan Zainab, tetapi tiap-tiap ditanya dia menjawab belum hendak bersuami, katanya, tanah perkuburan ayahnya masih merah, airmatanya belum kering lagi. Itulah sebabnya engkau disuruh kemari, akan emak lawan berunding, mak masih ingat pertalian engkau dan Zainab masa engkau kecil dan masih sekolah; engkau banyak mengetahui tabiatnya apalagi engkau tidak dipandangnya sebagai orang lain, sukakah engkau Hamid, menolong emak?" Lama saya termenung….. " Mengapa engkau termenung, Hamid? Dapatkan engkau menolong emak, melembutkan hatinya dan memujuk ia supaya mahu? Hamid!.... emak percaya sepenuh-penuhnya kepadamu sebagai Allahyarham bapamu percaya kepada engkau!' " Apakah yang akan dapat saya Bantu mak? Saya seorang yang lemah. Sedangkan ibunya sendiri tak dapat mematah dan melembutkan hatinya apatah lagi saya orang lain, anak semangnya." " Jangan bercakap begitu, Hamid, engkau bukan emak pandang sebagai orang lain lagi, almarhum telah memasukkan engkau ke dalam golongan kami, walaupun beragih tetapi tak bercerai. Maka di atas namanya hari ini, di atas nama Haji Jaafar mak meminta tolong melembutkan hati
adikmu." " Oh itu namanya perintah, saya kabulkan permintaan mak." Mukanya kelihatan gembira, meskipun dia tak sempat memperhatikan bagaimana perubahan muka saya yang telah muram. Kemudian keluarlah Zainab membawa dua cawan kopi dan beberapa piring kuih. Ibunya melihat kepadanya dengan kasih dan mesra, kerana pada diri anaknya itulah tergantung pengharapannya dan penghabisan. " Duduk, Nab, abangmu Hamid hendak berkata-kata sepatah dua kata dengan engkau." Saya masih agak bingung dan Zainab telah duduk dekat ibunya dengan wajah kemalu-maluan. Beberapa minit lamanya tenang saja dalam ruangan itu tak seorang jua pun di antara kami yang berkata; ibunya seakan-akan menunggu supaya perkataan itu lekas dimulai, Zainab kelihatan malu tak mahu melihat muka saya, sedang saya masih termenung memikirkan dari manakah percakapan itu akan saya mulai. " Bicaralah, Hamid, amat banyak masa terbuang," kata ibu dengan tiba-tiba. Sulit sekali untuk memulai pembicaraan itu, sulit menyuruh seorang mengerjakan suatu pekerjaan yang berat hatinya melakukan, pekerjaan yang berlawanan dengan kehendak hatinya sendiri. Tetapi di balik itu, sebagai seorang anak muda yang telah dicurahi orang kepercayaan dengan sepenuhnya, yang sudi mengorbankan jiwa untuk menyimpan rahsia. Akhirnya hati saya dapat saya bulatkan dan mulai berkata: " Begini Zainab…. Sudah lama ayah meninggal, semenjak itu lenganglah rumah ini, tiada seorang pembela pun yang akan dapat menjaganya. Selain dari itu, menurut aturan hidup di dunia, seorang gadis perlulah mengikut perintah orangtuanya, terutama kita orang Timur ini. Buat menunjukkan setia hormatnya kepada orangtuanya, ia perlu menekan perasaan hati sendiri. Dia mesti ingat sebuah saja, iaitu mempergunakan dirinya, baik murah atau mahal, untuk berkhidmat kepada orangtuanya." " Sekarang, kerana memikirkan kemuslihatan rumahtangga dan memikirkan hati ibumu, pada hal hanya sendiri lagi yang dapat engkau khidmati, ia berkehendak supaya engkau mahu dipersuamikan…. dipersuamikan dengan…kemanakan ayahmu." Seakan-akan terlepas dari suatu beban yang maha hebat saya rasanya, setelah selesai perkataan yang sulit itu. Selama saya berbicara Zainab masih tetap menekur ke meja, tanganya mempermain-mainkan sebuah pontong macis, diramas-ramasnya dan dipatah-patahnya, belum sebuah juga perkataan keluar dari mulutnya. Setelah kira-kira lima minit lamanya, barulah mukanya diangkat, airmatanya kelihatan mengalir, mengalir setitik dua titik ke pipinya yang halus dan indah itu. " Bagaimana, Zainab, jawablah perkataanku!" " Belum abang, saya belum hendak kahwin. " Atas nama ibu, atas nama almarhum ayahmu." " Belum abang!"
" Sampai hati abang memaksa aku?" " Abang bukan memaksa engkau, adik… ingatlah ibumu." Mendengar itu dia kembali terdiam, ibunya pun terdiam, ia telah menangis pula. Karam rasanya bumi ini saya pijakkan, gelap tujuan yang akan saya tempuh. Dua kejadian yang hebat telah membayang dalam kehidupan saya sehari itu, tak ubahnya dengan seorang yang bermimpi mendapat sebutir mutiara ditepi lautan besar, sebelum mutiara itu dibawa pulang, tiba-tiba sudah tersedar; meskipun mata dipaksa hendak tidur, mimpi yang tadi telah tinggal mimpi, ia telah tamat sehingga itu tidak akan bertambah-tambah lagi. Selama ini saya masih ragu, adakah Zainab membalas cinta saya; pertemuan saya dengan dia itu memberikan pengharapan sedikit pada saya, tetapi belum pengharapan itu dapat saya yakni tibalah penyerahan ibunya yang berat itu. Hanya hingga itu dapat saya ceritakan kepada tuan apa yang terjadi sehari itu. Setelah itu saya pun pulang ke rumah saya, di jalan pulang saya rasakan badan saya sebagai bayang-bayang tanah serasa bergoyang saya pijakkan. Bersambung....
BERJALAN JAUH
Dua kejadian yang berjuang pada hari itu, cukuplah untuk menentukan tujuan nasib saya; nikmat hati hanya lalu sebagai khayal belaka. Setelah melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan tidak akan kembali lagi. Kepada Tuhan dapatlah saya menghantarkan satu kesyukuran yang bersih, sebab saya telah dapat memberikan suatu pengorbanan untuk seorang perempuan yang lemah, saya telah menolongnya, memujuk anaknya yang keras. Untuk itu perasaan hati sendiri telah saya tekankan; sungguh besar sekali korban yang saya berikan, memang kalau diukur dengan fikiran, saya ini hanya pantas menjadi saudara Zainab, menjadi pembelanya, tetapi cinta mempunyai suatu lapangan yang lebih luas daripada ukuran fikiran itu. Inilah yang tertulis dalam hati, yang sukar dilupakan selamanya. Ada suatu jawapan yang tergantung, yang saya sempat dengar dari mulut Zainab, dan keras persangkaan saya akan dirinya pada hari itu; itulah yang sentiasa menjadi penyakit pada saya, tetapi menjadi ubat juga. Kemudian saya insaf, bahawa alam ini penuh dengan kekayaan. Allah menunjukkan kuasaNya. Tidaklah adil jika semua makhluk dijadikan dalam tertawa, yang akan menangis pun ada pula. Kita mesti mengukur perjalanan alam dengan ukuran yang luas, bukan dengan nasib diri sendiri. Bukankah patut saya syukur dan terima kasih, sebab seorang perempuan tua dapat saya tolong, saya patahkan hati anaknya yang hanya satu tempat menumpahkan segala pengharapannya. Kalau kelak terjadi perkahwinan Zainab dengan kemanakan ayahnya dan mereka hidup beruntung, sehingga Mak Asiah waktu menutup mata tidak merasa bahawa ia masih ada hutang piutang dengan anaknya, bukankah saya telah mengusahakannya? Memang, mula-mula hati itu mesti bergoncang; bukahkan loceng-loceng dirumah juga berbunyi keras dan berdengung jika kena pukul? Tetapi akhirnya, dari sedikit ke sedikit, dengung itu akan berhenti juga. Cuma saja saya mesti berikhtiar, supaya luka-luka yang hebat itu jangan mendalam kembali, saya mesti berusaha, supaya ia beransur-ansur sembuh. Untuk itu saya mesti berusaha, saya mesti meninggalkan Kota Padang, terpaksa tak melihat wajah Zainab lagi, saya berjalan jauh.
Setelah saya siapkan segala yang perlu dan rumahtangga saya pertaruhkan kepada salah seorang sahabat handai yang setia, dengan tak seorang pun yang mengetahui, saya berangkat meninggalkan Kota Padang, kota yang permai dan yang sangat saya cintai itu, dengan menekankan dan membunuh segala perasaan yang sentiasa mengharu hati, saya tumpangi kereta yang berangkat ke Siantar. Di kiri kanan saya banyak penumpang lain yang akan menuju ke kota Medan, setelah saya sampai ke Medan, saya buat surat kepada Zainab, sesudah hati saya, saya beranikan; itulah surat saya yang pertama kali kepadanya. Jika kelak ternyata dia tak cinta kepada saya, syukur, sebab saya tak melihat mukanya yang kesal membaca surat. Tetapi kalau ia nyata ada mempunyai perasaan sebagi yang saya rasai dan surat itu diterimanya dengan sepertinya, tentu sekurang-kurangnya saya akan menerima belas kasihannya, sebagai seorang melarat yang diarak oleh untung nasib saya. Demikian bunyi surat itu masih hafaz oleh saya: " Menyesal sekali, kerana sebelum berangkat tak sempat saya bertemu muka dengan adinda lebih dahulu, maafkanlah adik, kerama amat banyak halangan yang menyebabkan saya tak sempat datang ketika itu, halangan yang tak sapat saya sebutkan. Barangkali agak sedikit tentu adik bertanya juga dalam hati, apa gerangan sebabnya abang Hamid berangkat dengan tiba-tiba. Biarlah hal itu menjadi soal buat sementara waktu, lama-lama tentu akan hilang jua dengan sendiri. Banyak hal-hal yang akan saya terangkan dalam surat ini, tetapi tak sanggup pena saya menulisnya. Hanya dengan surat ini saya bermohon sangat supaya adik menuruti cita-cita ibu. Jika kelak maksud famili sampai dan adik bersuami; berikan kepadanya kesetiaan yang penuh. Akan hal diri saya ini, ingatlah sebagai mengingat seorang yang telah pernah bertemu dalam peri penghidupanmu, seorang sahabat dan boleh juga disebut saudara yang ikhlas dan saya sendiri akan memandang tetap engkau sebagai adikku. Jika pergaulanmu kelak dengan suamimu berjalan dengan gembira dan beruntung, sampaikanlah salam abang kepadanya. Katakan bahawa di suatu negeri yang jauh, yang tak tentu tanahnya, ada seorang sahabat yang sentiasa ingat akan kita. Dan biarlah Allah memberi perlindungan atas kita semuanya. Wassalam abangmu, Hamid, Demikianlah bunyinya surat yang saya kirimkan. Tiada lama saya di Medan, saya menuju ke Singapura, mengembara ke Bangkok, belayar terus memasuki tanah-tanah Hindustan, dan dari Karachi belayar menuju ke Mesir masuk ke Iraq, melalui Sahara Najad dan akhirnya sampailah saya ke tanah suci ini. Sekarang sudah tuan lihat, saya telah ada di sini, di bawah lindungan Ka`bah yang suci, terpisah daripada pergaulan manusia yang lain. Di sinilah saya selalu tafakur memohon kepada Tuhan seru sekalian alam, supaya ia memberi saya kesabaran dan keteguhan hati menghadapi kehidupan. Setiap malam saya duduk beri`tikaf di dalam Masjidil Haram, doa saya telah berangkat ke langit
biru, membumbung ke dalam alam ghaib bersama-sama permohonan segala makhluk yang makbul. Segala ingatan kepada zaman yang lama-lama, dari sedikit beransur-ansur lupa juga. Cuma sekali-sekali ia terlintas difikiran, ketika itu saya menarik nafas panjang, kerana biar pun luka sembuh dengan kunjung, bekasnya mesti ada juga. Tetapi hilang pula dengan segera, bila saya bawa tawaf dan sa`ie(berjalan antara Safa dan Marwah), atau saya bawa bertekun di dalam masjid tengah malam. Sudah hampir datang tamaninah (ketetapan) ke dalam hati saya menurut persangkaan saya mula-mula, tamatlah cerita ini sehingga itu. Bersambung....
BERITA DARI KAMPUNG
Setelah setahun saya di sini dan waktu mengerjakan haji telah datang. Tuan sendiri yang mula-mula saya kenal semenjak orang-orang yang akan mengerjakan haji dari tanahair kita. Kemudian sebagai tuan maklum, datanglah pula saudara kita Salleh ini. Salleh adalah salah seorang teman saya semasa kami bersekolah agama di Padang dan Padang Panjang; oleh kerana sekolahnya di Padang telah tamat, dia hendak meneruskan pelajarannya ke Mesir, ia singgah di Mekah ini untuk mencukupkan rukun. Sekarang ia berangkat ke Medinah, supaya sehabis haji dapat ia menumpang kapal yang membawa orang Mesir kembali yang sewanya lebih murah dari kapal-kapal lain. Dengan kebetulan sekali, dia telah memilih syeikh kita menjadi tempatnya, menumpang, sehingga sahabat lama itu bertemu kembali, setelah kami bercerai selama itu. Wahai tuan….. kedatangannya telah menghidupkan ingatan kembali kepada yang lama-lama, dia menceritakan kepadaku, bahawa dia telah beristeri dan isterinya telah sudi melepaskan die belajar sejauh itu. Padahal mereka baru saja berkahwin. Dipujinya isterinya sebagai seorang perempuan yang setia, yang teguh hatinya melepaskan suaminya berjalan jauh, kerana untuk menambah pengetahuannya. Setelah beberapa hari dia datang, dibawanya saya ke Maala di atas sebuah bangku di halaman qahwa ia membicarakan akan suatu hal yang sangat menggerakkan fikiran saya. Sambil meminum syahi (teh) Arab yang panas dan enak, ia mulai berkata: " Hamid! Tempoh hari sudah saya katakan, bahawa saya telah beristeri, isteri saya itu ialah Rosnah..ingatkah engkau akan Rosnah, sahabat karib Zainab?" Saya pucat mendengar nama Zainab disebutnya. Kerana sudah lama benar saya tiasa mendengar nama itu disebut orang, kecuali saya sendiri, perubahan muka saya itu dilihat oleh Salleh sambil tersenyum duka. " Kerapkali isteriku disuruhnya datang kerumahnya" katanya meneruskan ceritanya. " Kerana hubungan persahabatan mereka itu yang karib. Rupanya Zainab telah sudi membukakan rahsia-rahsianya yang sulit kepada isteri saya. Yang paling hebat, ialah seketika pada suatu hari isteri saya datang ke rumahnya, didapatinya Zainab merenung sebuah album, di dalam album itu terkembang sehelai surat kecil yang telah lusuh dan lunak, kerapkali dibaca dan dibuka lipatannya. " Setelah adinda kelihatan olehnya" kata isteriku," album itu ditutupnya dengan segera dan surat itu disimpannya baik-baik ke dalam laci mejanya, setelah itu dia kelihatan kepada adinda dengan tenang, wajahnya muram, matanya berbekas tangis dan dia menarik nafas panjang".
" Tiada tahan rupanya hati isteriku melihat kejadian itu, maklumlah kaum perempuan itu seperasaan, lalu ia berkata: " Zainab!.... mengapa engkau menangis pula, sahabat? Tidakkah di rumah yang sepermai ini sarang orang yang berdukacita.Di rumah yang indah-indah dan gedung yang permai, yang di kiri kanannya dikelilingi oleh kebun-kebun yang subur, cukup dengan orang-orang gajian yang setia, tiadalah patut terdapat orang yang mengalirkan airmata. Disana tidaklah ada kesedihan dan kedukaan." Zainab menjawab: " Salah sekali persangkaanmu, sahabat! Bahawasanya airmata tidaklah ia memilih tempat untuk jatuh, tidak pula memilih waktu untuk turun. Airmata adalah kepunyaan bersyarikat, dipunyai oleh orang-orang yang melarat yang tinggal di dangau-dangau yang buruk, oleh tukang sabit rumput yang masuk ke padang yang luas dan ke tebing yang curam, dan juga oleh penghuni gudang-gudang yang permai dan istana-istana yang indah. Bahkan di situlah lebih banyak orang menelan ratap dan memulas tangis. Luka jiwa yang mereka hidupkan, dilingkung oleh tembok dinding yang tebal dan tinggi, sehingga yang kelihatan oleh orang di luar penuh dengan kepahitan." " Kesedihan orang lain lebih merdeka dan lebih puas, dapat ia menerangkan fahamnya yang tertumbuk kepada alam yang sekelilingnya, dapat pula mereka lupakan dan menghilangkan. Tetapi di rumahtangga yang sebagai ini, kedukaan akan dirasakan sendiri, airmata akan dicucurkan seorang, rumah dan gedung menjadi kubur kesedihan yang tiada berhujung". Airmata Zainab kembali jatuh. " Mengapa engkau menangis juga, sahabatku! Kesedihan apakah yang engkau tanggungkan? Teringatkah engkau kepada ayahmu? Kalau demikian, engkau salah, Zainab! Lupa engkau agaknya, bahawa kedukaan itu tumbuh diapit oleh dua rumpun kesukaan." " Bukan demikian, sahabat!" jawabnya. " Buat diriku sendiri, Tuhan telah mentakdirkan berlainan dari orang. Kedukaanku tumbuh di antara dua kedukaan pula. Dahulu saya telah berduka, sekarang berdukacita dan kelak akan terus berluka hati." " Engkau mengesali nasib, Zainab!" " Menyesali nasib saya tidak, menyedar untung saya bukan, melainkan yang sebetulnyalah yang saya katakan." " Zainab…. Kalau tidak akan merbahaya benar, nyatakanlah kepadaku, apa yang menjadi sebab dukacitamu sebesar itu benar. Kerana sudah agak lama saya melihat mukamu muram, sehingga airmata saya sendiri kerapkali bersyarikat, tercurah untuk kesedihanmu, sahabat! Saya akan meratap menuruti ratap engkau, kerana tidak ada kepandaian kita kaum perempuan selain dari menangis." Laksana seorang anak yang memohon dikasihani, dipeluknya Rosnah, seketika lamanya kedua sahabat itu berpeluk-pelukan, bertangis-tangis tiada berkata-kata. " Sudahlah, zainab, ingatlah akan dirimu, kelak engkau, demikian pun saya, ditimpa oleh penyakit lain. Ceritakanlah kepada saya hal yang engkau rahsiakan itu, mudah-mudahan kerana sesudah ada tempat menerangkan, tanggungan itu supaya ringan sedikit, sebab beban untuk sendiri telah dibahagi dua." Mula-mula termenung, setelah beberapa saat lamanya ia pun berkata: Bersambung....
HARAPAN DALAM PENGHIDUPAN "
Ingatkah engkau, Ros, bahawa duhulu ada tinggal berhampiran rumahku ini seorang anak muda bernama Hamid?" " Masihkah aku tak ingat, anak muda yang baik budi dan beroleh pertolongan daripada almarhum ayahmu." " Ah, Ros, saya amat kasihan kepada orang muda itu, dia seorang muda yang hidup miskin, mendapat bantuan daripada ayahku, semasa usianya baru 4 tahun ayahku yang membantunya, dan seketika sekolahnya akan lanjut, ayahku meninggal pula,
kemudian meningal ibunya. Rupanya kerana ia sentiasa dirundung malang, sangatlah dukacita hatinya, berbulan-bulan khabar tidak berita pun tidak, budinya baik sekali, pekertinya tinggi dan mulia; memang dalam kalangan orang-orang yang dirudung malang itu kerapkali timbul budi pekerti yang mulia, timbul dengan baik dan suburnya, bukan kerana latihan manusia. " Bertahun-tahun lamanya kami hidup seperti adik beradik; maka pada dirinya saya dapati beberapa sifat yang tinggi dan terpuji, yang agaknya tidak ada pada pemuda-pemuda lain, baik dalam kalangan bangsawan atau hartawan sekalipun. Sampai kepada saat yang paling akhir daripada kehidupan ayahku, belum pernah ia menunjukkan suatu perangai yang patut dicela, sehingga ibu-bapaku amat memuji akan dia. Ia tahu benar akan kewajipannya. Wahai Ros, saya tertarik benar kepadanya dan kepada tabiatnya. Ia suka sekali bersunyi-sunyi, memisahkan diri daripada pergaulan ramai, laksana seorang pendita bertapa yang benci akan dunia lata ini. Kerapkali ia pergi bermenung ke tepi pantai samudera Hindi yang luas itu, memerhatikan pergelutan ombak dan gelombang, seakan-akan fikirannya terpaku telah terpaku kepada keindahan alam ini. Bila dia pulang ke rumah ibunya yang dicintai, ia menunjukkan khidmatnya dengan sepertinya bila dia bertemu dengan saya, buah katanya tiada keluar dari lingkar kesopanan, tahu ia menimbang hati dan menjaga kata. Sebagai yang kau tahu, kita pun tamat dari sekolah, maka adat-istiadat telah mendinding pertemuan kita dengan lelaki yang bukan muhrim bukan saudara atau famili karib, waktu itulah saya merasai kesepian yang sangat. Saya merasa kehilangan seorang teman yang sangat saya takjupi. Keadaan memisahkan saya dengan dia, tiada dapat lagi saya mendengarkan buah tuturnya yang lemah lembut. Waktu itulah saya insaf, bahawa saya sudah ditimpa suatu perasaan yang ganjil, saya lengang dan sunyi, ingatan saya sebentar-sebentar kembali kepada Hamid saja. " Engkaukan tahu, Ros, Hamid tidak begitu gagah, tidak sepantas dan segalak pemuda lain, tetapi hati kecilku amat kasihan kepadanya, agaknya, hidupnya yang sederhana itulah yang telah memaut hati sanubariku. Saya sangat hiba kepadanya kerana saya merasa tak ada orang lain yang akan menghibai dirinya. Hairan Ros, saya telah karam di dalam khayal, di dalam angan-angan. Kadang-kadang saya singkirkan dia dari fikiran, kerana timbul memikirkan takburku memikirkan darjatku, saya merasai ketinggian dan kemuliaan diriku, lebih daripada kedudukan darjat Hamid dan saya takut terjatuhnya ke dalam jurang cinta, tetapi orang mengkhabarkan bahawa takut itupun setengah daripada rupa cinta juga." Maka di antara awan yang gelap gelita dan angin badai yang berhembus semenjak pertengahan malam, tiba-tiba cahaya fajar pun naiklah, itulah kenang-kenangan dan pengharapan, daripada cinta dan rindu dendam. Sebenarnya Ros…..saya cinta kepada Hamid. Biar engkau tertawakan daku, sahabat, biar mulutmu tersenyum simpul, saya akan tetap berkata, bahawa saya cinta kepada Hamid. Ia tidak berpembela, tidak ada orang yang akan sudi menyerahkan diri menjadi isterinya, kerana dia miskin, tidak ada gadis yang akan sudi mempedulikan dia, kerana rupanya tak gagah. Itulah sebabnya dia saya cintai, hartaku ada sedikit, cukup untuk membantu cita-citanya, kerana saya lihat dia akan menjadi seorang ahli seni jika ada yang membantu. Buat saya dialah orang yang paling pantas dan cekap. Meskipun bagi orang lain agaknya tidak. Saya leluasa melihatnya lalu lintas di halaman rumah, meskipun dia tak melihat saya. Jika sekali-sekali dia datang mengunjungi ibuku, aku dengarkan perkataannya yang penuh dengan ilmu dan pengetahuan itu baik-baik. Pada suatu hari, hari yang tak dapat saya lupakan, ia datang kerumah ini menemui ibuku. Ketika itu ibu tiada di rumah, tiba-tiba saya bertemu muka dengan dia. Rupanya ada perkataan yang
hendak dikatakannya, mulutnya masih gugup dan tak lancar, rasa-rasa terdengar olehku sekarang: " Zainab, sebenarnya tidaklah pernah saya lupa hendak datang kemari, barangkali engkaulah yang agak lupa kepadaku." Alangkah nikmatnya rasa hatiku mendengar perkataannya itu, tetapi belum sempat saya menyusun kata untuk menjawab, ibu datang, perkataan kami terhenti sehingga itu. Badanku serasa bayang-bayang perkataannya menjadi teka-teki bagi hatiku, adakah tutur katanya itu daripada rasa pertalian adik dan abang saja atau daripada kesucian cinta? " Agaknya, engkau pandang rendah saya ini, Ros, mencintai seorang yang tiaa bersekedudukan dengan diri sendiri, dan jauh tak tentu tempatnya." " Waktu itu isteriku menjawab," kata salleh, ujarnya: " Tidak Nab, cinta itu adalah perasaan yang mesti ada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci, Cuma tanahnya lah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipuan, langkah serong dan lain-lain perangai yang tercela. Tetapi kalau ia jatuh ke tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budipekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. Saya tiada hendak menghinakan engkau kerana jatuh cinta padanya, wahai sahabatku Zainab, dan saya banyak pula membaca dalam buku-buku, bahawa biasa cinta yang suci bersih itu tidaklah tumbuh dengan sendirinya, kerana jiwa itu bertemu dengan batin, dalam azal (baka) kejadian Allah sebelum badan kasar manusia ini berkenalan. Itulah kuasa ghaib yang perlu kita percayai. Sebab itu saya percaya bahawa cintamu tak jatuh ke pasir tentu saja Hamid mencintai engkau pula; tidaklah jiwa engkau tertarikh mengingat akan dia, kalau kiranya jiwanya tak mengingat engkau pula. Hati orang yang bercinta mempunyai mata, ia dapat melihat barang yang tak dilihat oleh orang lain." " Ah" jawab Zainab " Itu Cuma kira-kira dan agak-agak belaka, agak-agak dan kira-kira tak dapat dipercayai, masakan orang yang berpisah sangat jauh, tak berhubungan surat sedikit jua pun akan ingat kepada orang yang ditinggalkannya." " Jangan begitu, Zainab, engkau tiada percaya percakapanku, kerana hatimu terlalu dipengaruhi oleh angan-anganmu. Percayalah bahawa Hamid ingat pula akan engkau." " Wahai……kesana rumit..ke sini rumit, Ros; saya percayai bahawa dia ingat kepadaku sebagaimana saya ingat kepadanya, entah agaknya saya menggantang-gantang asap. Tidak saya percayai, hati saya bertambah luka. Saya tahu mengingat orang jauh itu penyakit, tetapi saya pun takut penyakit itu akan hilang dari hati saya….aduh gusti Allah!!" Setelah itu terhenti sendiri percakapan kedua sahabat itu. Yang kedengaran hanya sedu-seduan dua orang seperasaan dan yang kelihatan ialah orang yang keluh kesah putus asa." Sekianlah cerita yang dibawa oleh sahabat kita Salleh itu. Tidak berapa lama ia menerima riwayat ganjil itu dari isterinya, ia pun berangkat. Rupanya dengan takdir Tuhan, kami pun bertemu di tanah suci ini, pertemuan yang tidak di sangka-sangka sedikit pun. " Barangkali terganggu perjalanan jiwamu menuju bakti kesucian kerana mendengar berita yang saya bawa itu" kata Salleh. " Tetapi saya sebagai orang yang tiada tahan memegang rahsia sehingga terkatakan juga olehku kepada engkau, dan beruntung engkau Hamid…..Berbahagia sekali." " Apakah keuntungan dan bahagianya cinta yang tak berpengharapan? " Tanya saya dengan tiba-tiba kepadanya.
" Bukanlah cinta itu sudah satu keuntungan dan satu pengharapan Hamid?" Tanyanya pula….. Setelah itu saya menerangkan berita itu, tidak berapa hari kemudian Salleh mengirimkan sepucuk surat buat isterinya Rosnah menerangkan pertemuan kami dengan tiba-tiba itu….. Tuan!….telah bertahun-tahun saya berjalan di dalam gelap gelita. Tidak tentu arah yang saya tempuh, tidak kelihatan suatu bintang di halaman langit akan saya jadikan pedoman dalam menuju perjalanan itu demi setelah sampai berita yang demikian. Seakan-akan kegelapan itu terang sedikit ke sedikit, sebab dari Timur melintang cahaya fajar, cahaya yang saya nanti-nanti, cahaya itu lebih benderang dari cahaya suria, lebih nyaman dari cahaya bulan dan lebih dingin dari cahaya kelap-kelip bintang-bintang. Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu padang belantara yang jauh laksana seorang bersalah besar yang dibuang negeri, tiada manusia yang datang menengok, tidak ada famili yang melihat, ditimpa oleh haus dan dahaga, sekarang saya telah lepas dari pembuangan, saya telah dibolehkan pulang dan beroleh ampun, telah ada manusia yang lalu-lintas, telah hilang haus dan dahaga, sekarang baru saya tahu dan mengerti, bahawa sukacita itu ada juga dijadikan Tuhan di dalam dunia fana ini. Dahulu kalau disebut orang kepada saya untung dan bahaya, tidak lain yang terlintas dalam fikiran saya daripada rumah yang indah, gedung yang permai, wang berbilang, emas bertahil, cukup dengan kenderaan dan kehormatan, dijunjung orang ke mana pergi. Sekarang saya telah insaf, bahawa semua itu bukan untuk bahagia, yang sejati ialah jika kita tahu, bahawa kita bukan hidup terbuang di dalam dunia ini, tetapi ada orang yang mencintai kita. Lebih setahun saya menghilangkan diri, tidak ada orang lain yang bertanya hal ehwal saya dan saya pun tak bertanya hal ehwal orang lain. Segala kesakitan hidup telah saya tanggungkan. Ada juga orang yang menyatakan kasihan, ada orang yang lalu lintas di hadapan saya, sambil menggelengkan kepala. Tetapi bukanlah mereka mengasihi jiwa saya, mereka mengasihi tubuh kasar saya yang kurus tak makan atau ditimpa penyakit. Semuanya tiada erti buat saya. Sekarang barulah saya tahu diri saya ada harganya buat hidup, sebab ada orang yang mencintai saya, iaitu orang yang saya cinta. Dahulu saya telah putus asa hendak hidup, kadang-kadang terlintas di dalam hati saya hendak membunuh diri. Akan sekarang, wahai tuan, saya hendak hidup, hendak merasai kelazatan cahaya matahari sebagai orang lain pula, sebab pengetahuan hidupku telah ada. ************ ********* ************ Habislah cerita sahabatku Hamid hingga itu, mukanya kelihatan berseri-seri, sebab simpanan di dadanya meluap selama ini telah dapat ditumpahkannya kepada orang yang dapat dipercayainya. Waktu itu saya menjawab sambil bergurau sedikit: " InsyaAllah, habis mengerjakan haji saya akan lekas kembali pulang, mudah-mudahan kita dapat pulang bersama-sama." Iapun menjawap sambil tersenyum " Mudah-mudahan………" Bersambung....
SURAT-SURAT
Sepuluh hari sebelum orang-orang haji berangkat ke `Arafah mengerjakan wuquf jemaah-jemaah
telah kembali dari ziarah besar ke Madinah. Waktu itulah pula Salleh kembali ke Mekah. Surat balasan dari isterinya yang datang sepeninggalannya ke Madinah telah kami serahkan ke tangannya. Dalam minggu itu juga datang surat Zainab kepada Hamid. Salinan surat Rosnah. Kandaku tuan! Surat kekanda telah adinda terima, surat yang telah lama adinda harap-harapkan…. Disini ada beberapa perkataan lagi- isteri (yang tak perlu saya salin) Akan hal Zainab ia sekarang sakit-sakit, badannya telah kurus agaknya kerana selalu ingat segala kejadian yang lama-lama itu, adinda, tiada dapat menahan hati, melihat surat kekanda kepadanya. Seketika membaca surat itu, badannya kelihatan gementar, entah kerana cemasnya entah kerana harapannya, dapatlah kekanda maklumi sendiri. Ia sangat harap dan sangat rindu hendak bertemu dengan Hamid, tetapi hatinya menjadi syak wasangka memikirkan badannya yang selalu tiada sihat itu, entah akan bertemu juga entah tidak. Alangkah beruntungnya dua orang bersahabat itu kelak, jika mereka dapat bertemu kembali. Ya, mudah-mudahan Allah yang pengasih lagi penyayang mengkabulkan permohonan hambaNya, Amin! Rosnah. Salinan surat Zainab Abangku Hamid! Baru sekarang adinda beroleh berita di mana abang sekarang. Telah hampir dua tahun hilang saja dari mata, laksana seekor burung yang terlepas dari sangkarnya sepeninggalan yang empunya pergi. Kadang-kadang adinda sesali diri sendiri. Agaknya adinda telah bersalah besar sehingga kekanda pergi tak memberitahu dahulu. Sayang sekali, pertanyaan abang belum adinda jawab dan abang hilang sebelum mulutku sanggup menyusun perkataan penjawabnya. Kemudian itu abang perintahkan adinda menurut perintah orang tua, tetapi adinda syak-wasangka melihatkan sikap abang yang gugup ketika menjatuhkan perintah itu. Wahai abang…. Pertalian kita diikat oleh beberapa macam tanda Tanya dan tekateki, sebelum terjawab semuanya, kita telah berpisah dengan tiba-tiba. Memang demikiankah kehendah takdir? Adinda sentiasa tiada putus pengharapan, adinda tunggu khabar dan berita. Di balik tiap-tiap kalimah daripada suratmu. Abang!....surat yang terkirim dari Medan, ketika abang akan belayar jauh, telah adinda periksa dan adinda selidik; banyak sangat surat itu berisi bayangan, di balik yang tersurat ada yang tersirat. Adinda hendak membalas tetapi kearah manakah surat itu hendak adinda kirimkan, abang hilang tak tentu rimbanya! Hanya kepada bulan purnama di malam hari adinda bisikkan dan adinda pesankan kerinduan adinda hendak bertemu. Tetapi bulan itu tetap tak datang; pada malam yang berikutan dan seterusnya ia kian kusut….. hanya kepada angin petang yang berhembusan di ranting-ranting kayu di dekat rumahku, hanya kepadanya ku bisikkan menyuruh supaya ditolongnya memeliharakan abangku yang berjalan jauh, entah di darat di laut entah sengsara kehausan.
Hanya kepada surat abang itu, surat yang hanya sekali itu adinda terima selama hidup adinda tumpahkan airmata, kerana hanya menumpahkan airmata itulah kepandaian yang paling penghabisan bagi orang perempuan. Tetapi surat itu bisu, meski pun ia telah lapuk dalam lipatan dan telah layu kerana kerap dibaca, rahsia itu tidak juga dapat dibukanya. Sekarang abang, badan adinda sakit-sakit, ajal entah berlaku pagi hari entah besok petang, gerak Allah siapa tahu, besarlah pengharapanku supaya abang dapat pulang, dapat juga hendaknya kita bertemu….. dan jika abang terlambat pulang, agaknya bekas tanah penggalian, bekas air penalkin dan jejak mijan yang dua, hanya yang akan abang dapati. Adikmu yang tulus: Zainab. Wahai, akan dapatkah dilukiskan, dapatkah diperikan bagaimana wajah Hamid ketika membaca surat itu? Dapatkah, mungkinkah dikira-kirakan bagaimana perasaannya di waktu itu? Surat demikian adalah pengharapannya selama ini, pengharapannya dan buah mimpinya semasa ia masih bergaul, memikirkan kerendahan darjatnya, tiadalah disangka-sangkanya bahawa ia akan seberuntung itu, menerima surat dari Zainab, belumlah besar kegembiraan seorang budak jika ia diajak tersenyum oleh penghulunya; belumlah besar sukacita seorang pelayan istana jika ia dianugerahi sebentuk cincin oleh rajanya. Surat tanda cinta dari seorang perempuan, perempuan yang mula-mula dikenal dalam penghidupan seorang pemuda, adalah lebih berharga kepada senyuman seorang penghulu daripada budaknya yang lebih mulia daripada sebentuk cincin yang dianugerahkan raja kepada pelayannya. Satu hati, adalah lebih mahal daripada senyuman, satu jiwa adalah lebih berharga daripada sebentuk cincin. Tetapi malang kerana surat itu diterima Hamid, ketika dia telah jauh dari hadapan Zainab. Apa lagi manusia tidak dapat menentukan nasibnya sendiri.
DI BAWAH LINDUNGAN KAABAH
Pada hari kelapan Zulhijjah perintah daripada syeikh kami menyuruh menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke `Arafah, kerana pada hari kesembilan akan wuquf (Berhenti sehari lamanya) di sana. Berangkat itu ialah tiga hari setelah kami menerima surat tersebut. Akan hal Hamid, bermula menerima surat itu tidaklah berkesan pada mukanya, bahawa dia dipengahruhi oleh isinya, tetapi setelah sehari dua hari, kelihatan ia termenung saja, bertambah daripada biasa, ketika kami tanyai keadaannya, ia mengatakan, bahawa badannya terasa sakit-sakit. Tetapi oleh kerana pergi wuquf ke `Arafah menjadi rukun daripada mengerjakan haji, tak dapat tidak ia pun mesti ikut ke sana. Maka dipasanglah sakdup-sakdup di punggung unta yang beribu-ribu banyaknya. Bersedia hendak membawa orang haji ke `Arafah itu. Kira-kira pukul empat petang, jemaah-jemaah telah berangkat berduyun-duyun menuju ke `Arafah, jalan sempit dan penuh oleh manusia dan kenderaan berbagai-bagai, ada yang mengenderai keldai, kuda dan unta, tetapi yang paling banyak duduk dalam sakdup iaitu dua buah tandu yang dipasang kiri kanan punggung unta. Saya bersama dengan Hamid menumpang dalam satu sakdup. Di `Arafah sangat benar panasnya, sehingga ketika berhenti di tempat itu sehari lamanya, kita ingat-ingat akan berwuquf kelak di padang Mahsyar. Setelah matahari terbenam kami kembali
menuju ke Mina, berhenti sebentar di Muzdalifah memilih batu untuk melempar " Jumrah" di Mina itu kelak. Setelah berdiam di Mina pada hari yang ke sepuluh, ke sebelas, kedua belas, ketiga belas, bolehlah kembali ke Mekah mengerjakan tawaf besar dan Sai`e, setelah itu bercukur, sehabis bercukur baru disebut " haji". Pada perhentian besar di Mina itu, orang-orang yang kaya menyembelih korban untuk fakir dan miskin. Sekarang kembali diceritakan keadaan Hamid. Demamnya yang dibawa dari Mekah bertambah menjadi-jadi, lebih-lebih setelah mendapat hawa yang panas di `Arafah itu. Di sana banyak orang yang mati kerana kepanasan. Hamid tak mahu lagi makan, badannya sangat lelah, sehingga seketika berangkat ke Mina ia tiada sedarkan dirinya, demi melihat hal itu, jantung saya berdebar-debar, saya kasihan kepadanya. Kalau-kalau di tempat itulah dia akan bercerai buat selama-lamanya dengan kami, lebih-lebih melihat mukanya yang sangat pucat dan badannya yang sangat lemah. Setelah selesai penyembelihan besar itu, pada hari yang ke sebelas kami berangkat ke Mekah, iaitu mengerjakan rukun yang agak cepat, tidak menunggu sampai tiga hari. Sebelum mengerjakan tawaf besar itu, lebih dahulu kami singgah ke rumah kami. Kerana penyakit Hamid rupanya bertambah berat, terpaksalah kami mencarikan orang Badwi upahan, yang biasanya menerima upah mengangkat orang sakit mengerjakan tawaf. Sebelum Hamid diangkat ke atas bangku itu, yang diberi hamparan daripada kulit dahan kurma berjalin, khadam syeikh datang terburu-buru menghantarkan sepucuk surat dari Sumatera, setelah kami buka, ternyata datangnya dari Rosnah. Muka Salleh menjadi pucat,jantung saya berdebar-debar membaca isinya yang tiada sangka-sangka, Zainab telah meninggal, surat menyusul, Rosnah. Setelah dibacanya dengan sikap yang sangat gugup Salleh menyimpan surat kawat itu ke dalam sakunya, sambil memandang kepada Hamid dengan perasaan yang sangat terharu. Tiba-tiba dari tempat tidurnya Hamid kedengaran berkata; " Surat apakah yang tuan-tuan terima? Apakah sebabnya tuan-tuan sembunyikan daripadaku? Adakah ia membawa duka atau khabar suka? Jika ia khabar suka, tidakkah patut saya diberi sedikit saja daripada kesukaan itu? Kalau khabar itu mengenani diri saya sendiri lebih baik tuan-tuan terangkan kepada saya lekas-lekas, tidaklah patut tuan-tuan sembunyikan lama-lama jangan dibiarkan saya di dalam sakit menanggung perasaan yang ragu-ragu." " Tenagkanlah hatimu, sahabat! Kehendak Allah telah berlaku, ia telah memanggil orang yang dicintaiNya ke hadratNya." " Oh, jadi Zainab telah dahulu daripadaku? " tanyanya pula. " Ya, demikianlah, sahabat!" Mendengar jawapan itu kepanya tertekun, ia menarik nafas panjang, dari pipinya meleleh dua titik airmata yang panas. Tidak beberapa saat kemudian, datanglah Badwi tersebut membawa tandu yang kami pesan, Hamid pun dipindahkan ke dalam dan diangkat dengan segera menuju Masjidil Haram, saya dan Salleh mengiringkan di belakang menurut Badwi yang berjalan cepat itu. Setelah sampai di dalam masjid, dibawalah dia tawaf keliling Ka`bah tujuh kali. Ketika sampai yang ke tujuh kali diisyaratkannya kepada Badwi yang berdua itu menyuruh menghentikan tandunya di antara pintu
Ka`bah dengan batu hitam, di tempat yang bernama Maltezam, tempat segala doa yang makbul. Orang lain tawaf pula berdesak-desak. Dengan sifat sabar orang-orang Badwi mengangkat tandu ke dekat tempat yang tersebut. Hati saya sangat berdebar melihatkan keadaan itu, saya lihat muka Hamid, di sana sudah nampak terbayang tanda-tanda kematian. Sampai di sana dihulurkannya tangannya, dipegangnya kesoh kuat dengan tangannya yang telah kurus, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi. Saya dekati dia, kedengaran oleh saya dia membaca doa demikian bunyinya: " Ya Rabbi, ya Tuhanku, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, di bawah lindungan Ka`bah, rumah Engkau yang suci dan terpilih ini, saya menadahkan tangan memohon kurnia. Kepada siapa lagi yang saya akan pergi memohon ampun, kalau bukan Engkau ya Tuhanku! Tidak ada suatu tali pun tempat saya bergantung, lain daripada tali Engkau, tidak ada pintu yang akan saya tutup, lain daripada pintu Engkau. Berilah kelapangan jalan buat saya, saya hendak pulang ke hasrat Engkau; saya menuruti orang-orang yang dahulu daripada saya, orang-orang yang bertali hidupnya dengan hidup saya. Ya Rabbi, Engkaulah Yang Maha Kuasa, kepada Engkaulah kami sekalian akan kembali….." Setelah itu suaranya tidak kedengaran lagi; di mukanya terbayang suatu cahaya muka yang jernih dan damai, cahaya keredhaan daripada Ilahi. Di bibirnya terbayang suatu senyuman dan….sampailah waktunya lepaslah ia daripada tanggungan dunia yang amat berat ini, dengan keizinan Tuhannya, di bawah lindungan Ka`bah! Pada hari itu selesailah mayat sahabat yang dikasihi itu dimakamkan di perkuburan Ma`ala yang masyhur.
SURAT ROSNAH YANG MENYUSUL
Dua minggu sudah kejadian itu, datanglah surat Rosnah yang dijanjikannya kepada suaminya itu, demikian bunyinya: " Kekanda yang tercinta!" Adinda kirimkan surat ini menyusul surat kawat yang dahulu. Zainab meninggal. Apakah dari itu lagi yang harus adinda nyatakan? Dia telah menanggung penyakit dengan sabar dan tawakkal, mula-mula adinda hendak sampaikan khabar ini kepada Hamid, sebab sentiasa Hamid menjadi buah mulutnya sampai saatnya yang penghabisan, tiba-tiba kawat kekanda datang pula, Hamid telah menyusul kekasihnya. Demikianlah kedua makhluk yang tidak beruntung nasibnya itu, mudah-mudahan arwahnya mendapat bahagia di akhirat. Adinda harus mengaku, bahawa jarang sekali kita bertemu dengan seorang perempuan sebagai Zainab. Tidak ada orang yang tahu tentang keadaan dirinya, kecuali ibunya dan adinda. Pendengaran yang sampai kepadanya, bahawa Hamid ada di Mekah mengobarkan kembali akan api yang telah hampir padam. Lima hari sebelum ia meninggal dunia, pagi-pagi benar dia sudah bangun dari tempat tidurnya, mukanya lebih jernih dari biasa. Dengan senyum dia berkata, bahawa dia bermimpi melihat
Ka`bah, dantara manusia yang sedang tawaf. Dia melihat Hamid melambaikan tangannya memanggil dia, supaya mendekatkan kepadanya, setelah dia mendekat dia terbangun….. Lepas hari itu, tidak banyak bicara lagi, doktor pun datang juga memeriksai dia, tetapi ketika melihat wajahnya, mengertilah adinda, bahawa ubat yang dibawanya sebenar-benarnya ialah buat ibu Zainab, tidak buat Zainab lagi, sebab di tangga ketika dia akan pulang, jelas benar oleh adinda doktor itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Pada malam 9 Zulhijjah panasnya naik daripada biasa. Kira-kira pukul dua tengah malam, dipandangnya adinda tenang-tenang, kemudian dilihatnya pula buku album yang terletak di meja tulisnya; adinda pun mengertilah apa yang dimaksudkannay. Adinda ambil album itu dan adinda buka. Demi dilihatnya gambar Hamid, jatuhlah dua titis airmata yang bulat dari mata yang telah cekung itu. Setelah itu diambilnya tangan ibunya, dibawanya ke dada. Maka dengan beransur-ansur, laksana lampu yang kehabisan minyak, bercerailah badannya dengan sukmanya. Kekanda, demikianlah kematian zainab, dan sekarang suatu pula yang menjadikan was-was adinda, iaitu keadaan ibunya, bagaimanakah kelak perasaan perempuan itu kerana kehilangan anaknya. Sekianlah dan buat semangat orang yang telah mati, adinda kirimkan salamku dan moga kekanda lekas pulang. Adindamu Rosnah
PENUTUP
Kian lama kian sunyilah tanah Mekah. Bukit-bukit yang telah gondola itu tegak dengan teguhnya laksana pengawal yang menyaksikan dan menjagai orang haji yang beransur pulang ke kampong masing-masing. Kedai-kedai kian sudah tutup, sebab 6 bulan pula lamanya pasar akan sepi. Tidak putus-putus unta berarak-arak diiringkan oleh gembalanya bangsa Badwi sambil bernyanyi-nyanyi. Sehari sebelum kami meninggalkan Mekah, pergilah kami berziarah ke perkuburan Ma,ala tempat Hamid dikuburkan. Di sana masih bertemu kesannya, meskipun agak sukar mencarinya, sebab telah banyak pula orang lain yang berkubur. Saya hadapkan muka saya ke pusara itu dan saya berkata: " Penghidupanmu yang tiada mengenal putus asa, kesabaran dan ketenangan hatimu menanggung sengsara, dapatlah menjadi tamsil dan ibarat kepada kami. Engkau telah mengambil jalan yang lurus dan jujur di dalam memupuk dan mempertahankan cinta. " Allah adalah Maha adil, jika sempit bagimu dunia ini berdua, maka alam akhirat adalah lebih lapang dan luas, di sanalah kelak makhluk menerima balasan dari kejujuran dan kesabarannya; di sanalah penghidupan yang sebenarnya, bukan mimpi dan bukan khayalan. " Kami pun dalam menunggu titah pula, sebab ada masanya datang dan ada masanya pergi. " Selamatlah, moga-moga Allah memberi berkat atas jiwamu dan jiwa Zainab." Pukul empat petang kami tawaf keliling Ka`bah " Tawaf Wida" ertinya tawaf selamat berpisah. Sehari itu juga kami akan berangkat ke Juddah. Saudaraku Salleh belayar dengan kapal yang
menuju ke Mesir…… Dan kapalku memecahkan ombak dan gelombang menuju ke tanahair yang tercinta………..
TAMAT
" Dalam kerendahan diri, ada ketinggian budi,
" Dalam kemiskinan harta, ada kekayaan jiwa,
" Dalam kesempitan hidup, ada keluasan ilmu,
" Hidup ini indah jika segalanya kerana Allah S.W.T.
* Penulis : Haji Abdul Malik Karim Abdullah (HAMKA)
* Tajuk : Dipetik dari buku Dibawah Lindungan Kaabah.
* Cetakan : Pustaka Antara
SURAT DARI MESIR
Sahabat! Sudah saya terima surat sahabat yang terkirim dalam bulan yang lalu. Mula-mula saya sangat bersedih hati sebab semenjak kita bercerai di Jeddah, tak pernah saya menerima surat lagi daripada engkau. Tetapi setelah surat itu saya terima saya baca, hilanglah sedih dan duka saya, nyata bahawa engkau tidak melupakan saya. Maksudnya engkau terangkan itu, sangat saya setujui, itulah suatu maksud yang baik, sebab itu adalah suatu hikayat dan kejadian yang mendukakan hati dan merawankan fikiran, yang kerapkali benar terjadi di dalam lingkungan belia-belia kita. Saya setuju maksud sahabat itu, pertama adalah karangan yang engkau maksudkan itu, akan ganti bingkisan (persembahan) kita kepada orang-orang yang menjadi korban itu, hantaran kepada arwah mereka yang suci; kedua ialah untuk menjadi cermin perbandingan orang-orang yang hidup kemudian daripada mereka. Bukan sedikit belia-belia yang telah menanggung sebagai orang yang telah ditanggung oleh kedua orang itu, tetapi sukar orang yang selamat sampai ke akhirnya. Padahal "rindu dendam" atau "cinta berahi" itu laksana Lautan Jawa, orang yang tidak berhati-hati mengayuh perahu memegang kemudi dan menjaga layar, karamlah ia diguling oleh ombak dan gelombang, hilang ditengah samudera yang luas itu, tidak akan tercapai selama-lamanya tanah tepi. Tidak ada bantuan yang dapat saya berikan kepada engkau di dalam pekerjaan itu, hanya bersama ini saya kirimkan surat-surat yang semasa kita masih di Makkah tak sempat saya berikannya kepada engkau. Demi apabila buku ini telah selesai, kirimkanlah kiranya kepadaku barang senaskah, guna menghidupkan kenang-kenanganku pada masa yang telah lampau, semasa itu kita masih dibawah Lindungan Kaabah. Sahabatmu.
MEKKAH PADA TAHUN 1927
Harga getah di Jambi, di seluruh tanahair sedang naik, negeri Mekah baharu sahaja pindah dari tangan Shariff Hussin ke tangan Ibn Sa'ud, Raja Hijaz dan Najad dan daerah takluknya yang kemudian ditukarkan namanya menjadi kerajaan "Arabiah Sa'udiah". Setahun sebelum itu telah naik haji dua orang yang kenamaan dari negeri kita. Keamanan negeri Hijaz, telah tersiar. Kerana itu banyak orang yang berniat menyempurnakan Islam yang kelima itu. Tiap-tiap kapal haji yang berangkat menuju Jeddah penuh sesak memebawa jemaah haji. Konon khabarnya, belumlah pernah orang naik haji seramai tahun 1927 itu, baik sebelum atau pun sesudahnya. Ketika itulah saya naik haji. Dari pelabuhan Belawan saya telah belayar menuju ke Jeddah menumpang kapal "Karimata". Empat belas hari lamanya saya terkatung-katung di dalam lautan besar. Pada hari kelima belas sampailah saya dipelabuhan Jeddah, pantai Laut Merah itu. Dua
hari kemudian saya pun sampai ke Mekah tanah suci kaum Muslimin sedunia. Betapa besar hati saya ketika melihat ka'bah tidaklah dapat saya perikan, kerana dari kecilku sebagai kebiasaan tiap-tiap orang Islam, Ka'bah dan menara Masjidil Haram yang tujuh itu menjadi kenang-kenanganku. Saya injak tanah suci itu dengan persangkaan yang baik, saya hadapi tiap-tiap orang yang mengerjakan ibadat dengan penuh kepercayaan, bahwa mereka pun berasa gembira iaitu sebagaimana yang saya rasai itu saya tidak akan bertemu dengan kejadian-kejadian yang ganjil atau hikayat yang sedih daripada penghidupan manusia. Sebab sangka saya tentu sahaja selain daripada diri saya sendiri, oran-orang yang datang kesana itu adalah orang-orang yang gembira dan yang mampu banyak tertawanya daripada tangisannya. Tetapi rupanya, di mana-mana jua di atas dunia ini; asalkan sahaja ditempati manusia, kita akan bertemu dengan yang tinggi dan yang rendah, kesukaan dan kedukaan, tertawa dan ratapan tangis. Saya telah mendengar di antara azan (bang) yang sayup-sayup sampai di puncak menara yang tujuh, di antara gemuruh doa manusia sedang berkeliling (tawaf) di sekeliling Ka'bah, di antara takbir umat yang sedang pergi balik di antara Safa dan Marwah, saya telah mendengar ratap dan rintih seorang makhluk tuhan, sayu-sayup sampai antara ada dengan tiada hilang-hilang timbul di dalam gemuruh yang hebat itu. Sebagai kebiasaan jemaah yang datang dari Tanah Jawa, saya menumpang di rumah seorang syeikh yang pekerjaan dan pencariannya semata-mata daripada memberi tumpangan bagi orang-orang haji, di hadapan bilik yang telah ditentukan oleh seorang syeikh untuk saya, ada pula sebuah bilik kecil yang muat dua orang. Disana tinggal seorang belia yang yang baharu berusia 32 tahun, badannya kurus lampai, rambutnya hitam berminyak, sifatnya pendiam, suka bermenung seorang diri di dalam biliknya itu. Biasanya sebelum kedengaran azan subuh ia lebih dahulu bangun pergi ke masjid seorang diri. Menurut keterangan syeikh kami belia itu berasal dari Sumatera, datang pada tahun yang lalu, jadi ia adalah seorang yang telah bermukim di Mekah. Melihat kebiasaannya demikian dan sifatnya yang soleh itu, saya menaruh hormat yang besar atas dirinya dan saya ingin hendak berkenalan. Maka dalam dua hari sahaja berhasillah maksud saya itu; saya telah beroleh seorang sahabat yang mulia patut dicontohi. Hidupnya sangat sederhana, tiada lalai daripada beribadat, tiada suka membuang-buang waktu kepada yang tidak berfaedah, lagi pula sangat suka memerhatikan buku-buku agama, terutama kitab-kitab yang menerangkan kehidupan orang-orang yang suci, ahli-ahli tasauf yang tinggi. Bila saya terlanjur mempercakapkan dunia dan hal ehwalnya, dengan sangat halus dan tiada terasa percakapan itu dibelokkannya kepada ke halusan budi-pekerti dan ketinggian kesopanan agama, sehingga akhirnya saya terpaksa tunduk dan memandangnya lebih mulia daripada biasa. Baru dua bulan sahaja semenjak dari awal Ramadhan sampai Syawal, pergaulan saya dengannya, saya telah banyak tertarik olehnya di dalam menuju kesucian, terutama di dalam negeri yang semata-mata untuk beribadat itu. Tetapi pergaulan yang baik itu tiba-tiba telah terusik sebab dengan kapal yang paling akhir telah tiba seorang teman baru dari Padang. Entah kerana kebetulan sahaja atau atau disengaja lebih dahulu, ia telah menjadi jemaah sheikh kami pula. Sahabat saya yang baru tiba ini sangat terkejut melihat bahawa sahabat saya ada di Mekah. Rupanya tidak disangka-sangkanya mereka akan berjumpa disana dan sahabat saya pun rupanya tidak menyangka akan berjumpa dengan sahabat baru itu.
Nama sahabat saya ialah hamid dan nama saudara baru itu Salleh. Salleh menurut keterangannya, hanya dua atau tiga hari sahaja sebelum naik haji akan tinggal di Mekah, ia akan pergi ke Madinah lebih dahulu; dua tiga hari pula sebelum jemaah haji ke Arafah ia akan balik ke Mekah. Setelah selesai mengerjakan haji, ia akan meneruskan perjalanannya ke Mesir, menyambung pelajarannya. Setelah musta'id maka Salleh pun berangkat ke Madinah.Ketibaan sahabat baru itu mengubah keadaan-keadaan dan sifat-sifat Hamid, entah khabar apakah yang agaknya yang baru di bawa darinya dari kampung yang mengganggu kesejahteraan fikiran Hamid. Ia bertambah tekun membaca kita-kitab terutamanya tasauf karangan Imam Al-Ghazali. Terkadang-kadang kelihatan ia termenung seorang diri di atas satah (atap rumah yang mendatar sepeti rumah-rumah di negeri Arab) rumah tempatnya tinggal melihat tenang-tenang kepada qal'ah (bintang-bintang) tua di atas puncak Jabal Hindi. Saya seakan-akan tidak pedulikannya lagi. Sedang saya mengerjakan tawaf keliling ka'bah maka terlihat oleh saya ia bergantung kepada kaswah (kain tabir yang melingkungi Ka'bah) menengadahkan mukanya kelangit, airmatanya menitik dengan derasnya membasahi serban yang membalut dadanya, kedengaran pula ia berdoa: Ya Allah! Kuatkanlah hati hambamu ini!" Sebenarnya saya ini pun seorang yang lemah hati, kesedihan itu telah pindah kedada saya, meski pun saya tak tahu apa yang disedihkannya. Khabar apakah yang agaknya yang telah dibawa oleh Salleh dari kampung? Apakah sebab Hamid bersedih hati demikian rupa? Dunia yang manakah yang telah memutuskan harapannya? Tipudaya siapakah yang telah melukai hatinya, hingga ia menjadi demikian rupa itu? Itu sentiasa menjadi soal kepada saya.
Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya di atas satah, pada sebuah bangku yang bertikar daun kurma berjalin memandang kepada bintang-bintang yang memancarkan cahayanya yang indah di halaman langit, saya beranikan hati saya dan saya dekati dia. Maksud saya kalau dapat hendak membahagi kedukaan itu atau merentang-rentang barang sedikit kedukaan hatinya. " Saudara Hamid!" –kata saya. "Oh saudara, duduklah kemari!" – katanya pula sambil memperbaiki duduknya dan mempersilakan saya. Setelah sama-sama duduk, ia pun menanyakan keramaian orang haji dan kami pun memperkatakan keadaan pada tahun ini. Tiap-tiap perkataan terhadap kepada tanahair, pembicaraan diputarnya kepada yang lain, serupa ia tak suka. Maka akhirnya hati saya tiada tahan lagi, saya pun berkata: " Sudah lama saya perhatikan hal ehwal kamu, saudara, rupanya engkau dalam dukacita yang amat sangat. Agaknya engkau kurang percaya kepada saya, sehingga engkau tak mahu menyatakan kedukaan itu dengan saya. Sebagai seorang kawan, yang wajib berat sama memikul dan ringan sama menjinjing apa lagi jauh dari tanahair, sewajibnyalah saya engkau beritahu, apakah yang menyusahkan hati engkau sekarang, sehingga banyak perubahanmu daripada yang biasa?" Ia memandang kepada saya dengan tenang. " Katakanlah kepada saya, wahai sahabat!" –ujar saya pula.
" Saya akan menolong engkau sekadar tenaga yang ada pada saya.Kerana meski pun kita belum lama bergaul, saya telah tahu bahawa engkau adalah seorang yang budiman, saya tidak akan mensiakan kepercayaan engkau kepada diri saya." " Ini satu rahsia tuan!" – katanya. " Saya akan pikul rahsia itu jika engkau percayakan kepada saya dan saya akan masukkan ke dalam perbendaharaan hati saya dan kemudian saya kunci pintunya erat-erat. Kunci itu akan saya lemparkan jauh-jauh sehingga seorang pun tak dapat mengambilnya kedalam lagi. Mendengar perkataan saya itu mukanya kembali tenang dan ia pun berkata:" Jika telah demikian tuan berjanji, tentu tuan tidak akan mensiakan janji itu dan saya telah percaya penuh kepada tuan, kerana kebaikan budi tuan dalam pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada tuan sebab-sebab saya bersedih hati dan akan saya paparkan satu-persatu, sebagaimana berkata-kata dengan hati saya sendiri. Memang, saya harap tuan simpan citra diri saya selama saya hidup, tetapi jika saya lebih dahulu meninggal daripada tuan, sapa tahu ajal di dalam tangan Allah S.W.T,. Saya izinkan tuan menyusun hikayat ini baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan suka meratap memikirkan kemelaratan nasib saya, meskipun mereka tak tahu siapa saya. Moga-moga air matanya akan menjadi hujan yang dingin dan memberi rahmat kepada saya ditanah perkuburan." Air mata saya terpercik mendengarkan perkataan itu. Ia bermenung kira-kira dua atau tiga minit; di antara gemuruh suara manusia yang hampir sunyi di dalam Masjidil Haram itu, di antara doa-doa beribu-ribu makhluk yang sedang berangkat ke hadrat Tuhan sahabatku itu mengumpulkan ingatannya. Awan gelap yang menutup keningnya hilanglah dari sedikit ke sedikit; setelah itu ia menarik nafas panjang, seakan-akan mengumpulkan ingatan yang bercerai-cerai dan ia pun memulai perkataannya.
ANAK YANG KEMATIAN AYAH
Masa saya masih berusia empat tahun, ayah saya telah meninggal, ia telah meninggalkan saya sebelum saya kenal siapa dia dan betapa rupanya, hanya di dinding masih saya dapati gambarnya, gambar semasa ia masih muda, gagah dan manis. Ia telah meninggalkan saya dan ibu di dalam keadaan yang sangat melarat. Rumah tempat kami tinggal hanya sebuah rumah kecil yang telah lama, yang lebih dikenal kalu disebut gobok atau dangau. Kemiskinan kami telah menjadikan ibu putus harapan memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini, kerana tali tempat bergantung sudah putus dan tanah tempat berpijak sudah runtuh. Hanyalah saya yang tinggal, jerat semata, tempat dia menggantungkan pengharapan untuk zaman yang akan datang, zaman yang masih gelap. Meskipun pada masa itu ibu masih muda dan ada juga dua tiga orang dari kalangan saudagar-saudagar atau orang-orang berpangkat yang memintanya menjadi isteri, tetapi semuanya telah ditolaknya dengan perasaan yang sangat terharu. Hatinya belum lupa kepada almarhum ayah, semangatnya boleh dikatakan telah mengikutinya ke kuburan. Pada waktu malam, ketika akan tidur, kerap kali ibu menceritakan kebaikan ayah semasa ia hidup; ia seorang terpandang dalam pergaulan dan amat besar cita-citanya jika saya besar, akan menyerahkan saya masuk sekolah supaya saya menjadi orang yang terpelajar. Masa itu daun sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat, orang pun datanglah berduyun-duyun menghampirkan diri, ini menghampirkan diri, ini mengatakan mamak, itu mendakwa
bersaudara, berkarib famili, rumah-tangga sentiasa dapat kunjungan dari kiri dan kanan. Tetapi setelah perniagaan jatuh dan kemelaratan menjadi ganti segala kesenangan itu, tersisihlah kedua laki-isteri itu dari pergaulan, tersisih dan renggang dari sedikit ke sedikit. Oleh kerana malu ayah pindah ke Kota Padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu, supaya namanya hilang sama sekali dari kalangan kaum kerabat itu. Ibu pun menunjukkan kepada saya beberapa doa dan bacaan, yang menjadi wirid daripada almarhum ayah semasa hidup, menghamparkan penghargaan yang besar-besar kepada Tuhan seru sekalian alam, memohonkan belas kasihanNya. Kerana di dalam umur yang semuda itu ia telah di timpa sengsara yang tiada keputusan, tidaklah sempat saya meniru meneladani teman sama anak-anak. Waktu teman-teman bersukaria bersenda gurau, melepaskan hati yang masih merdeka, saya hanya duduk dalam rumah dekat ibu, mengerjakakan pekerjaan yang dapat saya tolong, Kadang-kadang ada juga disuruh saya bermain-main, tetapi hati saya tiada dapat bergembira seperti teman-teman itu, tetapi kegembiraan bukanlah saduran dari luar, tetapi terbawa oleh sebab-sebab yang boleh mendatangkan gembira itu. Apa lagi kalau saya ingat, bagaimana ia kerap kali menyembunyikan airmata dekat saya, sehingga saya tak sanggup menjauhkan diri daripadanya. Setelah badan saya agak besar, saya lihat banyak anak-anak yang sebaya saya berjaja kuih; maka saya mintalah kepadanya supaya dia sudi pula membuat kuih-kuih itu, saya sanggup menjualkannya dari lorong ke lorong, dari satu beranda rumah orang ke beranda yang lain, mudah-mudahan dapat meringankan agak sedikit tanggungan yang berat itu. Permintaan itu terpaksa dikabulkannya, sehingga saya akhirnya telah menjadi seorang anak penjual kuih yang terkenal. Hatinya kelihatan duka memikirkan nasib saya; anak-anak yang lain waktu pagi masuk bangku sekolah, saya sendiri tidak. Untuk penjualan kuih-kuih itu hanya cukup untuk makan sehari-hari, orang lain pun tak ada tempat meminta Bantu, sakit senang adalah tanggungan sendiri. Umur saya telah masuk enam tahun, setahun lagi saya mesti menduduki bangku sekolah, walaupun sekolah yang semurah-murahnya, sekolah desa, misalnya, tetapi yang akan menolong dan membantu tak ada sama sekali, tetapi ibu kelihatan tidak putus harapan, ia berjanji akan berusaha. Supaya kelak saya menduduki bangku sekolah, membayarkan cita-cita almarhum suaminya yang sangat besar angan-angannya, supaya saya kelak menjadi orang yang berguna dalam pergaulan hidup. Masa setahun lagi ditunggu dengan sabar. Bersambung....
PENOLONG
Enam bulan kemudian. Berhampiran dengan rumah kami ada sebuah gedung besar berpekarangan yang cukup luas; dalam perkarangan itu ada juga ditanam buah-buahan yang lazat seperti sauh dan rambutan.Rumah itu lama tinggal kosong, kerana tuannya seorang Belanda telah balik ke Eropah dengan mendapat pencen. Yang menjaga rumah itu selama ini adalah seorang jongos tua. Khabarnya konon rumah itu akan dijual, sebab tuan itu tidak balik lagi ke negeri ini. Selama itu kerap kali kami datang ke situ meminta buah rambutan dan sauh kepada Pak Leman. Demikian juga nama jongos tua itu. Tiba-tiba rumah itu diperbaiki, kerana telah dibeli oleh seorang saudagar tua yang hendak
berhenti dari berniaga. Ia akan hidup pada hari tua dengan senang, sebagai berehat daripada pekerjaannya yang berat pada masa ia muda memakan hasil daripada rumah-rumah sewa yang banyak di Padang dan di Bukit Tinggi, demikian juga sawah-sawahnya yang luas di sebelah Paya Kumbuh dan Lintau. Setelah rumah itu selesai diperbaiki, pindahlah orang hartawan itu ke sana bersama dengan isteri dan seorang anak perempuannya. Di hadapan rumah itu di atas batu marmar yang licin ada tertulis perkataan; Haji Jaafar. Tiap-tiap pagi saya lalu di hadapan rumah itu menjunjung nyiru berisi goring pisang, mata saya sentiasa memandang ke jendela-jendelanya yang berlangsir kain sutera kuning, hendak melihat keindahan perhiasan rumahnya. Fikiran saya menjalar, memikirkan kesenangan hati orang yang tinggal dalam rumah itu, cukup apa yang dimakannya dan diminumnya; airliur saya meleleh bila saya ingat, bahawa kami di rumah kadang-kadang makan, kadang-kadang tidak. Setelah saya meninggalkan halaman rumah itu, maka dengan suara yang merawankan hati saya panggilkan jualan saya; "Beli goreng pisang! Masih panas!" Lama kelamaan tertariklah perempuan yang setengah tua itu hendak memanggil jualan saya, demikian juga anaknya. Pernah kedengaran oleh saya ia berkata: " Panggillah Nab kesian juga saya!" Perempuan itu suka memakan sirih, mukanya jernih, peramah dan penyayang. Pak Leman yang telah menjadi jongos untuk memelihara perkarangan itu, belum pernah dapat suara keras daripadanya. Anak perempuannya itu masih kecil, sama dengan saya. Apa perintah ibunya diikuti dengan patuh, rupanya ia amat disayangi kerana anaknya hanya seorang itu. Sudah dua tiga kali saya datang ke rumah indah dan bagus itu; setiap kali saya datang bertambah sukanya melihat kelakuan saya dan belas kasihan akan nasib saya. Pada suatu hari perempuan itu bertanya kepada saya; " Di mana engkau tinggal anak, dan siapa ayah bondamu?" " Saya tinggal dekat sahaja di sini mak"-jawab saya. " Itu rumah tempat kami tinggal, di seberang jalan. Ayah saya telah mati dan saya tinggal dengan ibu saya. Beliaulah yang membuat kuih-kuih ini; pagi-pagi saya berjual goreng pisang dan kalau petang biasanya menjual rakit udang (jengket udang) atau godok perut ayam." " Berapakah keuntungan sehari?" tanyanya pula. " Tidak tentu, mak. Kadang-kadang kalau untung baik dapat setali (25 sen), Kadang-kadang kalau kurang dari itu, sekadar cukup untuk kami makan setiap hari…." " Kasihan…." – katanya sambil menarik nafas. Setelah itu ia berkata pula: " Bawalah ibumu nanti petang kemari, katakana mak yang baru pindah ke rumah ini hendak berkenalan dengan ibu." " Saya mak, ibu saya kurang benar keluar dari rumah." " Suruh lah sahaja kemari, katakan mak perlu hendak bertemu." " Baiklah kalau begitu , mak" – jawab saya.
Setelah itu saya pun pulang, sampai di rumah saya katakanlah kepada ibu perkataan orang di gedung besar itu. Mula-mula ibu seakan-akan hendak bertempik, dia agak marah kepada saya, kalau-kalau saya telah berlangsung mulut menerangkan untung nasib diri kepada orang lain. Tetapi setelah mendengar keterangan saya, hatinya pun senang. Pada petangnya takut-takut cemas pergilah dia ke rumah besar itu. Meskipun ibu saya merasa malu-malu dan insaf akan kerendahan darjatnya, Mak Asiah, demikian nama isteri Engku Haji Jafar itu, sekali-kali tiada meninggikan diri, sebagai kebiasaan perempuan-perempuan isteri orang hartawan atau orang berpangkat yang lain. Bahkan ibuku dipandangnya sebagai saudaranya, segala nasib dirinya dan penanggungan ibu didengarnya dengan tenang dan muka yang rawan, kadang-kadang ia pun turut menangis waktu ibu menceritakan hal yang sedih-sedih. Sehingga waktu cerita itu habis, terjadilah di antara keduanya persahabatan yang kental, harga menghargai dan cinta menyintai. Semenjak itu saya sentiasa datang ke rumah itu. Saya sudah beroleh seorang adik yang tidak berapa tahun kecilnya daripada saya, yaitu anak perempuan di gedung besar itu, Zainab namanya. Peribahasa yang halus dari Mak Asiah, adalah didikan juga daripada suaminya, seorang hartawan yang amat peramah kepada fakir dan miskin. Konon khabarnya, kekayaan yang di dapatnya itu adalah daripada usahanya sendiri dan titik peluhnya, bukan waris daripada orang tuanya. Dahulunya dia seorang yang melarat juga, tetapi berkat yakinnya, terbukalah baginya pintu pencarian. Sungguhpun ia telah kara-raya, sekali-kali tidaklah ia lupa kepada keadaannya tempoh dahulu, ia sangat insaf melihat orang-orang yang melarat, lekas memberi pertolongan kepada orang yang berhajat. Pada suatu pagi saya datang mendapatkan ibu saya dengan perasaan yang sangat gembira, membawa khabar suka yang sangat membesarkan hatinya, iaitu esok Zainab akan dihantarkan ke sekolah dan saya akan dibawa sama. Saya akan disekolahkan dengan belanja Haji Engku Jaafar sendiri bersama-sama anaknya. Mendengar perkataan itu bercucuran airmata ibuku kerana sukacitanya, kejadian selama ini yang sangat diharap-harapnya. Esok paginya, saya saya tidak menjunjung nyiru tempat kuih lagi, tetapi telah pergi ke sekolah menjunjung batu tulis. Agaknya dua macam faedah yang akan diambil oleh Engku Haji Jaafar menyerahkan saya, pertama untuk menolong saya, kedua untuk jadi teman anaknya. Saya pun insaf, lebih-lebih setelah beberapa nasihat daripada ibuku. Zainab telah saya pandang sebagai adik kandung, saya jaga daripada gangguan murid-murid yang lain. Lepas dari sekolah kerapkali saya datang dengan ibu ke rumah besar itu, kalau-kalau ada yang patut kami Bantu dan kami tolong, kerana kami telah dipandang sebagai anggota rumah yang besar itu. Umur saya lebih tua daripada Zainab dua tahun. Meskipun saya hanya anak yang beroleh pertolongan daripada ayahnya, sekali-kali tidaklah Zainab menganggap saya sebagai orang lain lagi, tidak pula ia pernah mengangkat diri, agaknya kerana kebaikan didikan ayah-bondanya. Cuma di sekolah, anak-anak orang kaya kerapkali menggelakkan saya anak yang berjual goreng pisang telah bersekolah bersama-sama dengan anak orang hartawan. Dua perkataan yang manis, yang timbul daripada hati yang suci, telah merapatkan kami, perkataan itu ialah abang dan adik. Sampai sekarang, saya masih teringat nikmat kehidupan dalam dunia anak-anak yang kerapkali diratapi oleh ahli-ahli sya`ir, yang hanya datang sekali ke alam manusia selama hidupnya. Waktu
itu bila pulang dari sekolah, saya dan Zainab bersama teman-teman kami yang lain berlari-lari, berkejar-kejaran dan bermain galah dalam perkarangan rumahnya, memanjat pohon rambutan yang sedang ranum, kekadang bercari-carian dan bersorak-sorak. Waktu itu ibuku dan ibunya sedang duduk di beranda belakang; ibuku sentiasa merendahkan diri, melihat kami yang rasa sukacita. Kadang-kadang waktu petang kami duduk di beranda muka, membelek buku gambar, bertengkar dan berkelahi, kemudian damai pula. Hari Minggu kami diizinkan pergi ke tepi laut. Ke muara atau ke tepi Batang Arau, melihat perahu pengail yang sedang di lambung-lambungkan gelombang di tengah lautan yang luas, kain layarnya dipuput oleh angin yang menghantarkannya ke tengah, akan mencari rezekinya. Negeri Pariaman hijau nampaknya dari jauh, ombak memecah dan menderum tiada berhenti memukul pasir tepi itu. Di sana kami berlari-larian mengejar ambai-ambai yang segak dan lekas lari ke sarangnya. Kadang-kadang kami buat unggunan pasir sebagai rumah-rumah atau masjid-masjid, tiba-tiba datang ombak yang agak besar, di hapuskannya unggunan yang kami dirikan itu; anak-anak perempuan lari ke tepi menyinsingkan tepi bajunya, takut tersiram air laut. Waktu orang berlimau, sehari akan puasa, kami dibawa ke atas puncak Gunung Padang, kerana di sanalah ayahku berkubur, dan beberapa famili ibu Zainab. Saya disuruh membawa air wangi dalam botol. Zainab mambawa bunga-bungaan dan ibuku serta ibunya mengiringi dari belakang. Semuanya masih tergambar dalam fikiran saya hari ini, masih saya ingat bahawa persaudaraan kami suci dan ikhlas adanya, dari tahun berganti tahun, sampai kami tamat dari sekolah pertengahan. Amat besar budi Engku Haji Jaafar kepada saya, banyak kepandaian yang telah saya peroleh kerana kebaikan budinya itu. Dari sekolah rendah (H.I.S) saya sama-sama naik dengan anaknya menduduki Mulo. Tetapi setelah tamat dari sana, sekolah kami tak akan disambung lagi, kerana sebenarnya didikan ibuku amak melekat kepada diri saya, iaitu condong kepada mempelajari agama. Zainab pun hingga itu pelajarannya, kerana dalam adat orang hartawan dan bangsawan di Padang, kemajuan anak perempuan itu hanya terbatas hingga Mulo, belum berani mereka melebihi dari kebiasaan umum, melepaskan anak perempuannya belajar jauh-jauh. Setelat tamat dari mulo, menurut adat, Zainab masuk dalam pingitan, ia tidak akan dapat keluar lagi kalau tidak ada satu keperluan yang sangat penting, ini pun harus ditemani oleh ibu atau orang kepercayaannya, sampai datang masanya bersuami kelak. Dan saya, bila sekolah itu tamat, akan berangkat ke Padang Panjang, sebab Engku Haji Jaafar masih sanggup membelanjai saya, apa lagi demikianlah cita-cita ibuku.
APAKAH NAMANYA INI?
Saat yang ditakutkan itu pun telah datang; dengan hati riang, bercampur masyghul, saya terpaksa meninggalkan bangku sekolah. Riang, kerana saya telah beroleh diploma dan masyghul kerana berpisah dengan bangku sekolah dan dengan teman-teman. Ertinya masa gembira, masa menghadapi zaman yang akan datang dengan penuh kepercayaan, telah habis. Setelah guru membahagikan diploma kami masing-masing dengan bersorak-sorak kami meninggalkan perkarangan sekolah, kami bersalam-salaman satu dengan yang lain dan guru memberi kami peringatan, supaya sekolah kami diteruskan bagi siapa yang sanggup Anak-anak Belanda dan beberapa anak saudagar-saudagar yang mampu, dengan megah menyatakan di hadapan teman-temannya, bahawa sekolah itu akan diteruskannya; setelah habis cuti tahunan, mereka akan berangkat ke tanah Jawa mengambung pelajarannya. Saya sendiri, tidaklah saya khabarkan bahawa saya akan menambah pelajaran agama, kerana selama ini teman-
teman mengejekkan saya, mengatakan saya gila agama. Yang berasa sedih sangat, adalah anak-anak perempuan yang masuk pingitan (Terkurung di rumah saja) tamat sekolah bagi mereka ertinya suatu sangkar yang telah sedia buat seekor burung yang bebas terbang. Zainab sendiri, semenjak tamat sekolah, ia pun telah tetap dalam rumah, didatangkan baginya guru dari luar yang akan mengajar berbagai-bagai kepandaian yang perlu bagi anak-anak perempuan, seperti menyulam, merenda, memasak dan lain-lainnya. Petang hari ia menyambung pelajarannya dalam perkara agama. Saya, tidak beberapa bulan setelah tamat sekolah, berangkat ke Padang Panjang, melanjutkan cita-cita ibu saya dan kerana kemurahan Engku Haji Jaafar juga. Sekolah-sekolah agama yang ada di situ mudah sekali saya masuki, kerana lebih dahulu saya telah mempelajari ilmu umum; saya hanya tinggal memperdalam pengertian dalam perkara agama saja, sehingga akhirnya salah seorang guru memberi fikiran, menyuruh saya mempelajari agama di luar sekolah saja, sebab kepandaian saya lebih tinggi dalam hal ilmu umum daripada kawan-kawan yang lain. Demikian lah pelajaran itu telah saya tuntut dengan bersungguh hati, tetapi…. Semenjak mula saya pindah ke Padang Panjang, sentiasa saya merasa keseorangan. Kian lama saya tinggal dalam negeri dingin itu, kian terasa oleh saya bahawa saya sebagai seorang yang terpencil. Keindahan alam yang ada di sekeliling kota dingin itu menghidupkan kenang-kenangan saya kepada hal-hal yang telah lalu. Gunung Merapi dengan kemuncak tandikat waktu matahari akan terbenam dan mempertaruhkan jabatan memberi cahaya kepada bulan, singlang yang sentiasa diliputi dengan kebun-kebun tebunya yang beriak-riak ditiup angin, semuanya membangkitkan perasaan-perasaan yang ganjil, yang sangat mengganggu fikiran saya. Saya berasa sebagai seorang yang kehilangan, padahal jika saya periksa penaruhan saya, peti, meja tulis, kain dan baju semuanya cukup. Teapi badan saya ringan, seakan-akan suatu kecukupan yang telah kurang. Saya Cuma ingat, bahawa jika dengan teman-teman sama sekolah saya pergi melihat keindahan air terjun di Batang Anai atau mendaki Bukit Tuai, atau gua Batu Sungai Anduk, bila masa saya melihat keindahan ciptaan alam itu, saya ingat alangkah senang hati Zainab jika ia turut melihat pula. Kerana saya tahu betul bahawa ia seorang anak perempuan yang dalam perasaannya; waktu sama-sama sekolah, ia sukar benar mendengarkan nyanyian-nyanyian yang sedih, walaupun nyanyian Barat atau Timur. Bila mana lalu dihadapan rumahnya seorang buta bersama-sama cucunya yang kecil, kerapkali ia menitikkan airmata. Bagaimanakah perasaannya kelak jikalau dia ada pula di tempat yang indah itu? Sentiasa saya hitung pertukaran hari ke bulan dan dari bulan ke tahun. Apabila cuti sekolah bagi bulan puasa telah hampir, gembiralah hati saya kerana akan dapat saya mengadap ibu saya memaparkan di hadapannya bahawa ia sudah patut gembira kerana anaknya ada harapan akan menjadi orang alim dan dapat pula bersimpuh di hadapan Engku Haji Jaafar yang dermawan, bahawa pertolongannya ada harapan akan berhasil, bersimpuh pula di hadapan Mak Asiah kerana dengan pertolongannya saja saya telah menjadi orang baik. Kemudian dari itu akan dapat pula bertemu dengan Zainab. Saya akan nyatakan di hadapannya pengalaman yang telah saya dapat selama pergi menuntut ilmu, dan saya hadiahkan kepadanya gambar dari "Panorama" keliling kota Padang Panjang yang saya ambil gambarnya bersama-sama teman sejawat saya. Tentu akan saya terangkan di hadapannya dengan gembira, dengan besar hati, sehingga ia akan termanggu-
manggu mendengar cerita saya, apa lagi ia amat sukar akan dapat keluar dari lingkungan rumahnya. Apabila sekolah saya tutup, segala segala cita-cita yang telah saya reka selama belajar, dan telah saya susun di jalan antara Padang Panjang dengan Padang semuanya dapat saya jalankan; ibu saya menitik airmata kerana kegirangannya, Engku Haji Jaafar tersenyum mendengar saya mengucapkan terima kasih. Mak Asiah memuji-muji saya sebagai seorang anak yang berbudi, Cuma ketika berhadapan dengan Zainab dalam rumahnya, mulut saya tertutup, saya menjadi seorang yang bodoh atau pengecut. " Bila abang pulang?" Katanya. " Pukul sepuluh pagi tadi." Jawab saya. " Apa khabar?Baik?" " Alhamdulillah………." Setelah itu saya menjadi bingung, tidak tentu lagi apa yang akan saya terangkan kepadanya. Segala rancangan saya terhadap dirinya yang saya reka-rekakan tadi, semuanya hilang. Ia melihat tenang-tenang kepada saya, seakan ada pembicaraan saya yang ditunggunya, tetapi kian lama saya kian gugup, sehingga sudah lalu hampir lima belas minit, tidak ada diantara kami yang bercakap. "Mudah-mudahan kelak selamatlah, dan kerapkali datang kemari kalau masih di rumah"- katanya pula; lalu ia berdiri dari tempat duduknya, kembali ke pekarangan belakang, ke dalam pingitan. Saya pun berdiri saya ambil songkok saya sambil menarik nafas panjang saya pun keluar. Dalam hati, saya teringat hendak menulis surat kepadanya akan ganti diri saya menerangkan segala perasaan hati. Surat itu akan saya tulis dengan tulus ikhlas, tidak bercampur dengan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan hati, baik perkara cinta atau perkara lain-lainnya, apa lagi surat itu tidak akan diketahui oleh orang isinya jika ditulis dalam bahasa Balanda. Tetapi ha…saya tak sampai hati, sebab perbuatan itu hanya sehingga daerah persaudaraan antara adik dan abang, tidaklah mengapa. Tetapi adalah saya ini seorang yang lemah, otak saya tak dapat mempengaruhi dan mengendalikan hati saya, sepandai-pandainya mengatur dan menyusun kata, akhirnya tentu salah satu perkataan di dalam surat itu terpaksa juga membawa erti lain, padahal dalam perkara yang halus-halus anak perempuan amat dalam pemeriksaannya. Cinta itu adalah " jiwa" antara cinta yang sejati dengan jiwa tak dapat dipisahkan, cinta pun mereka sebagaimana jiwa, ia tidak memperbezakan di antara darjat dan bangsa, di antara kaya dan miskin, mulia dan papa demikianlah jiwa saya, diluar dari pada resam basi, terlepas daripada kekang kerendahan saya dan kemuliaannya; saya merasainya, bahawa Zainab adalah diri saya, Saya merasai ingat kepadanya adalah kemestian hidup saya. Rindu kepadanya membukakan pintu angan-angan saya menghadapi zaman yang akan datang. Dahulu saya tidak pedulikan hal itu, tetapi setelah saya besar dan berpisah daripadanya, barulah saya insaf, bahawa kalau bukan di dekatnya, saya berasa kehilangan. Mustahil ia akan dapat menerima cinta saya, kerana dia langit dan saya bumi, bangsanya tinggi dan saya daripada kasih sayang ayahnya. Bila saya tilik diri saya, tidak ada padanya tempat buat
lekat hati Zainab. Jika kelak datang waktunya orang tuanya bermenantu, mustahil pula saya akan temasuk golongan orang yang terpilih untuk menjadi menantu Engku Haji Jaafar, kerana tidak ada yang akan dapat diharapkan dari saya, tetapi tuan…. Kemustahilan itulah yang kerapkali memupuk cinta. Setelah puasa habis, saya kembali ke Padang Panjang. Sebelum berangkat saya datang ke rumahnya menemuinya, menemui ayah dan ibunya. Daripada ayahnya saya dapat nasihat; " Belajarlah sungguh-sungguh, Hamid, mudah-mudahan engkau lekas pintar dalam perkara agama dan dapat hendaknya saya menolong engkau sampai tamat pelajaranmu….." " InsyaAllah Engku"- jawab saya. Setelah itu saya berangkat; seketika saya melengung yang penghabisan ke belakang; kelihatan oleh saya Zainab berdiri di pintu tengah, melihat kepada saya. Di situ timbul pula kembali sifat saya yang pengecut; saya mengadap ke muka dan saya pun pergi…… Bersambung....
SEPERUNTUNGAN
Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka satu musibah besar telah menimpa kami berturut-turut. Pertama ialah kematian sekonyong-konyong dari Engku Haji Jaafar yang dermawan. Ia seorang yang sangat dicintai oleh penduduk negeri, kerana ketinggian budinya dan kepandaiannya dalam pergaulan; tidak ada satu pun perbuatan umum di sana yang tak dicampuri oleh Engku Haji Jaafar. Kematiannya membawa perubahan yang bukan sedikit kepada perhubungan kami dan rumahtangga Zainab. Dia yang telah membuka pintu yang luas kepada saya memasuki rumahnya di zaman hidupnya, sekarang pintu itu mahu tak mahu telah tertutup. Sebagai seorang lain, Pertemuan kami tidak berleluasa seperti dulu lagi. Ah…. zaman semasa anak-anak, dia telah pergi dari kalangan kami dan tak akan kembali lagi. Belum beberapa lama setelah budiman itu menutup matanya,datang pula musibah baru kepada saya. Ibu saya yang tercinta, yang telah membawa saya menyeberangi hidup bertahun-tahun telah ditimpa sakit, sakit yang selama ini telah melemahkan badannya, iaitu penyakit dada. Kerapkali Zainab dan ibunya datang melihat ibuku, dan duduk dekat kepalanya, sedang saya duduk menjaga dengan diam dan sabar. Kerapkali juga Mak Asiah berkata; " Ah luka lama yang belum sembuh sekarang datang pula yang baru. Belum lama saya menjagai suami saya sakit, sekarang saya mesti melihat sahabat saya yang menanggung sakit. Mudah-mudahan ia lekas sembuh." Waktu itu Zainab diam dalam menungnya, di hadapan ibu yang sedang sakit, kerapkali ia melihat kepada saya dengan muka yang tenang, dan agaknya bersertaan dengan nasib yang ditanggungnya sendiri. Tetapi sepatah kata pun tak keluar daripada mulutnya dan saya pun melihat pula, sehingga kedua mata kami bertemu dan dari dalam ruang-ruang mata yang hitam, seakan-akan terbayang berulang-ulang beberapa perkataan yang penting, meskipun lidah tiada sanggup menunjukkan ertinya. Mak Asiah pergi bersama Zainab, di meja mereka letakkan sepinggan bubur yang telah didinginkan, ditutup dengan sebuah piring kecil untuk ibu, kerana dia tak kuat makan nasi. Ketika ia akan pergi, ia berkata:" Jagalah ia baik-baik, jika ia bangun kelak, berilah bubur ini barang sesenduk pun." " Baiklah mak"-kata saya.
Pintu mereka tutupkan baik-baik dan mereka pun pergi. Setelah beberapa saat kemudian ibuku mengembangkan matanya; di dalamnya hanya kelihatan tinggal cahayaa dari kekerasan hati, padahal Kekuatan telah habis sama sekali. Dicarinya saya dengan matanya yang telah kabur, tangannya yang telah tinggal jangat pembalut tulang itu mencapai-capai ke kiri ke kanan mencari tangan saya, dengan segera saya berikan tangan kanan saya, dipegangnya erat-erat dan dibawanya kemulutnya seraya diciumnya, lama sekali; dari matanya titik airmata yang panas. " Hamid"- katanya, rupanya kekuatan kembali sedikit; " Ibu hendak berbicara dengan engkau, penting sekali, nak!" " Lebih baik ibu diamkan dahulu, agaknya ibu terlalu payah." " Tidak, Mid, kekuatan ibu dikembalikan Tuhan untuk menyampaikan bicara ini kepadamu." " Apakah yang ibu maksudkan?" " Sebagai seorang yang telah lama hidup, ibu telah mengetahui suatu rahsia pada dirimu." " Rahsia apa ibu?" " Engkau cinta kepada Zainab!" " Ah, tidak ibu, itu barang yang amat mustahil dan itulah yang sangat anakanda takuti. Anakanda tak cinta padanya dan takut akan cinta, anakanda belum kenal " cinta." Anakanda tahu bahawa jika anakanda menyerahkan cinta kepadanya, takkan ubahnya seperti seorang yang mencurahkan semangkuk air tawar ke dalam lautan yang amat luas; laut tak akan berubah sifatnya kerana semangkuk air itu." " Wahai anakku, dari susunan katamu itu telah dapat ibu membuktikan bahawa engkau sedang diserang penyakit cinta, takut akan kena cinta, itulah dia sifat daripada cinta; cinta itulah yang telah merupakan dirinya menjadi suatu perbuatan, cinta itu kerapkali berupa putus harapan, takut, cemburu, hiba hati terkadang-kadang berani. Di hadapan ibumu yang telah lama merasai pahit dan manis kehidupan tidaklah dapat engkau sembunyikan lagi. Mataku telah kabur, tetapi hatiku masih terang-benderang." " Anakku …… sekarang cintamu masih bersifat angan-angan, cinta itu kadang-kadang hanya menurutkan perintah hati, bukan menurut pendapat otak. Dari belum berbahaya sebelum ia mendalam, kerapkali kalau yang kena cinta tak pandai ia merosakkan kemahuan dan kekerasan hati lelaki. Kalau engkau perturutkan tetap engkau menjadi seorang anak yang berputus asa, apa lagi kalau cinta itu tertolak, terpaksa ditolak oleh keadaan yang ada di sekelilingnya….. " Hapuskanlah perasaan itu dari hatimu, jangan timbul-timbulkan juga. Engkau tentu memikirkan juga, bahawa emas tak setara dengan loyang, sutera tak sebangsa dengan benang." " Ayahnya, orang yang telah memenuhi cita-cita kita dengan nikmat, sekarang tak ada lagi, ertinya telah putus tali yang memperhubungkan kita dengan rumahtangga orang di sana. Meski pun ibu Zainab seorang yang penuh dengan budi pekerti. Tentu saja kebaikannya kepada kita tidak lagi sebagai suaminya hidup. Apa lagi famili-famili mereka yang bertali darah sudah banyak yang akan turut mengatur keadaan pergaulan rumahtangga itu, iaitu orang-orang baru yang tidak kenal akan kita."
" Memang anak,….. cinta itu " Adil" sifatnya, Allah telah mentakdirkan dia dalam keadilan, tidak memperbeza-bezakan antara raja dengan orang meminta-minta, tiada menyisihkan orang kaya dengan orang miskin, orang mulia dengan orang hina, bahkan kadang-kadang tidak juga berbeza baginya antara bangsa dengan bangsa, tetapi aturan pergaulan hidup, tiada membiarkan yang demikian itu berlaku, orang sebagai kita ini telah dicap dengan darjat " Bawah" atau " Kebanyakkan" sedang mereka diberi nama " cabang atas"; cabang atas ada kalanya kerana pangkat dan ada kalanya kerana harta benda. Cincin emas orang sayang hendak memberi bermatakan kaca, tentu dicarikan orang, biar lama, permata intan berlian, atau zamrud dan nilam yang telah diasah oleh orang rantai perintang-perintang hatinya, kerana lama menanggung dalam penjara." " meski pun Zainab suka kepada engkau…. Kerana agaknya batinnya suci daripada perasaan takbur dan mengangkat dirinya, tidaklah langsung kalau ibunya tak suka. Diletakkan ibunya suka, bermuafakat orang itu dahulu dengan kaum kerabat, handai dan taulan. Kalau mereka tak sepakat, waktu itulah kelak kau diserang oleh putus asa, oleh malu, dan kadang-kadang memberi melarat kepada jiwamu. Sebab api masih belum besar tidak engkau padami lebih dahulu." " Tidak ada yang lebih baik untuk melupakan hal itu sebelum ia mendalam, sebab cinta kepada orang yang demikian, adalah cinta arwah ayahmu hendak kembali ke dunia, kerana ia berbesar hati melihat engkau telah besar. Ia tahu dan melihat segala apa yang kejadian dalam dunia ini, dan ia ingin sekali hendak datang. Tetapi sayang…. Alam dunia telah terbatas jauh sekali dengan alam barzakh….." Lama saya termenung mendengarkan perbicaraan ibu itu, pertama kerana amat dalam penyelidikannya kepada faham hidup ini, kedua memikirkan kekuatan jiwanya yang timbul, seakan-akan malaikat yang memimpin dia sedang berbicara, yang tidak saya sangka-sangka akan sejelas itu. Beberapa saat antaranya saya pun menjawab:" Terima kasih, ibu, nasihat ibu masuk benar kedalam hatiku, semuanya benar belaka, sebenarnya sudah lama pula anakanda merasa yang demikian, sehingga dengan hati sendiri anakanda berjanji hendak melupakannya, yang amat ajaib ialah peperangan otak dengan hati. Tetapi bila kelihatan rumahtangga, atau kelihatan rupanya sendiri, dan kadang-kadang bila namanya disebut orang hati ini lupa akan perintah otak, ia kembali berdebar, ia surut kepada kenang-kenangannya yang lama. Inilah yang kerapkali mengalahkan anakanda." " Ah, anakku, pandai benar engkau mewartakan nasibmu kepada ibumu! Mengapa engkau segila itu benar, pada hal agaknya engkau belum mengetahui bagaimana pula perasaan Zainab kepada dirimu?" " Wahai ibu, Cuma anakanda tahu bahawa cintaku mendapat sambutan dengan semestinya, agaknya tidaklah separah ini benar luka hatiku, kerana cinta yang dibalas itulah ubat yang paling mujarab bagi seorang anak muda dalam hidupnya, tak akan lebih pintanya daripada itu, hati anak muda akan besar dan merasa beruntung, jika anakanda ketahui bahawa airmata anakanda yang selama ini telah banyak tercurah tidak bagai air yang tenggelam di pasir; bahawa pengharapan dalam menuju hidup tak terhambat ditengah jalan; bahawa cita-cita hendak memandangi langit tidak di halangi oleh awan. Cinta anakanda kepadanya bukan mencintai tubuhnya dan bentuk badannya, tetapi jiwa anakandalah yang mencintai jiwanya, kecintaan anakanda bukan dipeterikan oleh kebiasaan bergaul dan bukan pula kerana kepandaian menyusun surat-surat kiriman. Kebebasan pergaulan bisa ditutupi dengan perangai yang dibuat-buat dan kepintaran mengarang surat dapat pula menyembunyikan kepalsuan hati. Anakanda menyintai Zainab kerana budinya; di dalam matanya ada terkandung suatu lukisan hati yang suci dan bersih."
" Anakku, sudah tinggi fikiranmu rupanya, sudah dapat engkau menerangkan perasaan hati dengan perkataan yang cukup, sudah menurun pada dirimu kelebihan ayahmu. Ibu tak dapat menyambung perkataan lagi….. perkataanmu hanya ibu sambut dengan airmata. Hanya kepada Tuhan ibu berharap, mudah-mudahan Dia memberikan anugerah dan perlindungan akan dirimu. Dia yang telah menanamkan perasaan itu ke dalam hatimu, Dia pula yang berkuasa mencabutnya. Mudah-mudahan itu hanya suatu khayal, suatu angan-angan yang kerapkali mempengaruhi hati anak muda, yang dapat hilang kerana pergantian siang dan pertukaran malam." " Mudah-mudahan," jawab saya. Demikianlah nasihat kepada saya, setelah itu kekuatannya tak ada lagi. Dari saat ke saat, hanya kelihatan kepayahannya menyelesaikan nafas yang turun naik. Kadang-kadang dilihatnya saya tenang-tenang dan dingangakan mulutnya sedikit minta minum. Ubat-ubatnya tak memberi faedah lagi. Tidak beberapa malam setelah dia memberi nasihat itu, datanglah masa yang ditunggu-tunggunya, masa berpindah daripada alam yang sempit kepada alam yang lapang. Sementara saya asyik meminumkan ubat, di tangan kanan saya terpegang sudu dan di tangan kiri terpegang gelas. Ia melihat kepada saya dengan tenang, alamat berpisah yang akhir. Dari mulutnya keluar kalimah suci, bersamaan dengan kepergian nyawanya ke dalam alam yang baqa', yang di sana tempat manusia lepas daripada segala penyakit. Saya tercengang dan seakan-akan bingung, di tangan kanan saya sudu masih terpegang, di tangan kiri saya berisi ubat; saya lihat ke atas meja, di sana terletak beberapa botol yang telah kosong dan ramuan dukun yang telah layu, limau manis yang dihantarkan oleh Zainab pagi hari itu baru diusiknya seulas, lebihnya masih tinggal terletak di atas meja. Waktu itulah baru saya insaf bahawa itu bukan perkara sudu, gelas, bukan perkara ubat ramuan, tetapi perkara ajal semata-mata….. Sekarang saya sudah tinggal sebatang kara di dunia ini! Bersambung.... TEGAK DAN RUNTUH Telah lalu kejadian itu dan dia telah memberi kesan ke dalam jantung saya; rupa-rupanya kedukaan dan cubaan mesti diturunkan kepada manusia secukup-cukupnya dan sepuas-puasnya, menanglah siapa yang tahan. Sejak kematian itu tidak beberapa kerap lagi saya datang ke rumahnya, saya karam dalam permenungan, memikirkan hidup saya di belakang hari, sebatang kara di dunia ini. Pada suatu petang sedang matahari akan tenggelam ke dasar lautan di Batang Arau, di antara Hujung Gunung Padang, di celah-celah ombak yang memecah ke atas pasir yang putih di Pulau Pandan, di waktu saya sedang berjalan seorang diri di pesisir Batang Arau yang indah, melihat perahu keluar masuk, tiba-tiba...... kelihatan oleh saya sebuah perahu tumpangan datang dari seberang, di atasnya duduk tiga orang perempuan yang agak tua, bertudung kain bugis halus, setelah perahu kecil itu hampir, keluar dari dalamnya perempuan-perempuan itu, seorang di antaranya ialah Mak Asiah sendiri, ia lekas melihat saya, " Oh, engkau Hamid? Mengapa di sini?" Katanya. " Berjalan-jalan emak," jawabku; " Dan emak dari mana?"
" Dari menziarahi kubur bapamu….mengapa engkau tak datang ke rumah semenjak ibumu meninggal?" Kerana Engku Haji Jaafar tiada lagi, akan engkau alangi saja datang ke rumah? " Tidak emak, Cuma kematian yang bertimpa-timpa itu agak mendukacitakan hatiku, itu sebab saya kurang benar keluar rumah. " Tak boleh begitu, Hamid; sebabnya engkaulah yang mesti menyabarkan hati kami. Besok engkau mesti datang ke rumah, ibu tunggu kedatanganmu, banyak yang perlu kita bincangkan." " Baiklah mak." " Saya tunggu, ya?" " Baik, mak!" Setelah itu ia pun pergi di tengah jalan, sebelum mereka naik dari sampan, rupanya pembicaraan mereka terhadap diri saya saja. Kerana tak berapa jauh langkahnya, perempuan-perempuan tua yang lain semuanya menoleh kepada saya sebagai rupa orang menunjukkan belas kasihan. Besoknya janji itu pun saya tepati. Wahai tuan, hari itulah masa yang tak dapat saya lupakan! Saya datang ke rumah itu, rumah tempat saya bersenda gurau dengan Zainab di waktu kecil, rumah itu seakan-akan hilang semangat dan memang kehilangan semangat, kerana bekas-bekas kematian masih kelihatan nyata. Pintu luar terbuka sedikit dan saya ketuk pintunya yang mengadap ke dalam; pintu terbuka…. Zainab yang membukakan. " Abang Hamid!" katanya. Waktu itu kelihatan nyata oleh saya mukanya merah, nampak sangat gembiranya melihat kedatangan saya. Baru sekali itu dan baru saat itu selama hidup saya melihat mukanya demikian, yang tak pernah saya gambarkan dan tuturkan dengan susunan kata, pendeknya wajah yang memberikan saya penuh pengharapan. " Bang Hamid!" katanya menyambung perkataannya, " Sudah lama benar abang tak kemari, lupa agaknya abang kepada kami!" Gugup saya hendak menjawab; saya pintar mengarang khayal dan angan-angan tetapi bila sampai di hadapannya saya menjadi seorang yang bodoh. " Tidak, Zainab" jawabku dengan gugup; " Tetapi….. bukankan kita sama-sama kematian?" " Memang, kematian itulah yang sepatutnya menjadikan abang kerap kemari." Seketika itu mukanya kembali ditekurkannya menghadapi kakinya, tangannya berpegang ke pinggir pintu, rambutnya yang halus menutupi sebahagian keningnya dan sepatah kata pun dia tidak berbicara lagi. " Zainab…" kataku pula. " Sebetulnya tidak saya…. Pernah lupa datang kemari, barangkali engkaulah… agaknya yang … lupa kepadaku."
Mendengar itu ia bertambah menekur, tak berani ia mengangkat muka lagi, dan saya pun gugup hendak menambah perkataan, memang bodoh saya ini, dan pengecut! Tiba-tiba dalam saya menyediakan perkataan yang akan saya katakana pula dalam sedang merenungi kecantikan Zainab, kedengaranlah dari halaman tapak kaki emak Asiah menginjak batu; Zainab mengangkat mukanya seraya berkata: " Itu ibu datang." Saya masih dalam kebingungan, Zainab lalu kehadapan saya mengadap kedatangan ibunya. Ketika sampai ke beranda dia berkata " Sudah lama Mid?" " Baru sebentar, mak" jawabku. Saya disuruh duduk, Zainab dengan segera pergi ke belakang memasak kopi sebagaimana kebiasaannya. " Hampir mak terlupa akan janji kita. Tadi mak pergi ke rumah orang sebelah kerana tiada lama lagi dia akan mengahwinkan anaknya; jadi dari sekarang sedang bersiap-siap menyediakan yang perlu, maklumlah tetangga, perlu bantu-membantu." Saya dengarkan perkataannya, tetapi fikiran saya masih tetap ingat kepada kejadian tadi. Fikiran saya menjalar kemana-mana, memikirkan tegur Zainab dan mukanya yang merah ketika mula-mula melihat saya; hanya suatu kejadian yang tiba-tibakah itu, atau adakah dia merasai apa yang saya rasai? Dalam pada itu Mak Asiah masih tetap membicarakan beberapa perkara menyebut-nyebut jasa suaminya, menyebut kebaikan ibuku. Akhirnya sampai pembicaraan kepada Zainab. " Bagaimanakah fikiranmu Hamid, tentang adikmu Zainab ini?" " Apakah yang emak maksudkan' Tanya saya. " Semua keluarga di darat (darat adalah sebutan dari Padang Halus) telah bermuafakat dengan emak hendak mempertalikan Zainab dengan seorang anak saudara almarhum bapamu, yang ada di darat itu, dia sekarang sedang bersekolah di Jawa. Maksud mereka dengan perkahwinan itu supaya hartabenda almarhum bapanya dapat dijagai oleh familinya sendiri, oleh anak saudaranya, sebab tidak ada saudara yang lain, dialah anak yang tunggal. Pertunangan itu telah dirunding oleh orang yang sepatutnya, jika tiada aral melintang, bulan depan hendak dipertunangkan dahulu, nanti apabila tamat sekolahnya akan dilangsungkan perkahwinan. Hal ini telah mak rundingkan dengan Zainab, tetapi tiap-tiap ditanya dia menjawab belum hendak bersuami, katanya, tanah perkuburan ayahnya masih merah, airmatanya belum kering lagi. Itulah sebabnya engkau disuruh kemari, akan emak lawan berunding, mak masih ingat pertalian engkau dan Zainab masa engkau kecil dan masih sekolah; engkau banyak mengetahui tabiatnya apalagi engkau tidak dipandangnya sebagai orang lain, sukakah engkau Hamid, menolong emak?" Lama saya termenung….. " Mengapa engkau termenung, Hamid? Dapatkan engkau menolong emak, melembutkan hatinya dan memujuk ia supaya mahu? Hamid!.... emak percaya sepenuh-penuhnya kepadamu sebagai Allahyarham bapamu percaya kepada engkau!' " Apakah yang akan dapat saya Bantu mak? Saya seorang yang lemah. Sedangkan ibunya sendiri tak dapat mematah dan melembutkan hatinya apatah lagi saya orang lain, anak semangnya." " Jangan bercakap begitu, Hamid, engkau bukan emak pandang sebagai orang lain lagi, almarhum telah memasukkan engkau ke dalam golongan kami, walaupun beragih tetapi tak bercerai. Maka di atas namanya hari ini, di atas nama Haji Jaafar mak meminta tolong melembutkan hati
adikmu." " Oh itu namanya perintah, saya kabulkan permintaan mak." Mukanya kelihatan gembira, meskipun dia tak sempat memperhatikan bagaimana perubahan muka saya yang telah muram. Kemudian keluarlah Zainab membawa dua cawan kopi dan beberapa piring kuih. Ibunya melihat kepadanya dengan kasih dan mesra, kerana pada diri anaknya itulah tergantung pengharapannya dan penghabisan. " Duduk, Nab, abangmu Hamid hendak berkata-kata sepatah dua kata dengan engkau." Saya masih agak bingung dan Zainab telah duduk dekat ibunya dengan wajah kemalu-maluan. Beberapa minit lamanya tenang saja dalam ruangan itu tak seorang jua pun di antara kami yang berkata; ibunya seakan-akan menunggu supaya perkataan itu lekas dimulai, Zainab kelihatan malu tak mahu melihat muka saya, sedang saya masih termenung memikirkan dari manakah percakapan itu akan saya mulai. " Bicaralah, Hamid, amat banyak masa terbuang," kata ibu dengan tiba-tiba. Sulit sekali untuk memulai pembicaraan itu, sulit menyuruh seorang mengerjakan suatu pekerjaan yang berat hatinya melakukan, pekerjaan yang berlawanan dengan kehendak hatinya sendiri. Tetapi di balik itu, sebagai seorang anak muda yang telah dicurahi orang kepercayaan dengan sepenuhnya, yang sudi mengorbankan jiwa untuk menyimpan rahsia. Akhirnya hati saya dapat saya bulatkan dan mulai berkata: " Begini Zainab…. Sudah lama ayah meninggal, semenjak itu lenganglah rumah ini, tiada seorang pembela pun yang akan dapat menjaganya. Selain dari itu, menurut aturan hidup di dunia, seorang gadis perlulah mengikut perintah orangtuanya, terutama kita orang Timur ini. Buat menunjukkan setia hormatnya kepada orangtuanya, ia perlu menekan perasaan hati sendiri. Dia mesti ingat sebuah saja, iaitu mempergunakan dirinya, baik murah atau mahal, untuk berkhidmat kepada orangtuanya." " Sekarang, kerana memikirkan kemuslihatan rumahtangga dan memikirkan hati ibumu, pada hal hanya sendiri lagi yang dapat engkau khidmati, ia berkehendak supaya engkau mahu dipersuamikan…. dipersuamikan dengan…kemanakan ayahmu." Seakan-akan terlepas dari suatu beban yang maha hebat saya rasanya, setelah selesai perkataan yang sulit itu. Selama saya berbicara Zainab masih tetap menekur ke meja, tanganya mempermain-mainkan sebuah pontong macis, diramas-ramasnya dan dipatah-patahnya, belum sebuah juga perkataan keluar dari mulutnya. Setelah kira-kira lima minit lamanya, barulah mukanya diangkat, airmatanya kelihatan mengalir, mengalir setitik dua titik ke pipinya yang halus dan indah itu. " Bagaimana, Zainab, jawablah perkataanku!" " Belum abang, saya belum hendak kahwin. " Atas nama ibu, atas nama almarhum ayahmu." " Belum abang!"
" Sampai hati abang memaksa aku?" " Abang bukan memaksa engkau, adik… ingatlah ibumu." Mendengar itu dia kembali terdiam, ibunya pun terdiam, ia telah menangis pula. Karam rasanya bumi ini saya pijakkan, gelap tujuan yang akan saya tempuh. Dua kejadian yang hebat telah membayang dalam kehidupan saya sehari itu, tak ubahnya dengan seorang yang bermimpi mendapat sebutir mutiara ditepi lautan besar, sebelum mutiara itu dibawa pulang, tiba-tiba sudah tersedar; meskipun mata dipaksa hendak tidur, mimpi yang tadi telah tinggal mimpi, ia telah tamat sehingga itu tidak akan bertambah-tambah lagi. Selama ini saya masih ragu, adakah Zainab membalas cinta saya; pertemuan saya dengan dia itu memberikan pengharapan sedikit pada saya, tetapi belum pengharapan itu dapat saya yakni tibalah penyerahan ibunya yang berat itu. Hanya hingga itu dapat saya ceritakan kepada tuan apa yang terjadi sehari itu. Setelah itu saya pun pulang ke rumah saya, di jalan pulang saya rasakan badan saya sebagai bayang-bayang tanah serasa bergoyang saya pijakkan. Bersambung....
BERJALAN JAUH
Dua kejadian yang berjuang pada hari itu, cukuplah untuk menentukan tujuan nasib saya; nikmat hati hanya lalu sebagai khayal belaka. Setelah melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan tidak akan kembali lagi. Kepada Tuhan dapatlah saya menghantarkan satu kesyukuran yang bersih, sebab saya telah dapat memberikan suatu pengorbanan untuk seorang perempuan yang lemah, saya telah menolongnya, memujuk anaknya yang keras. Untuk itu perasaan hati sendiri telah saya tekankan; sungguh besar sekali korban yang saya berikan, memang kalau diukur dengan fikiran, saya ini hanya pantas menjadi saudara Zainab, menjadi pembelanya, tetapi cinta mempunyai suatu lapangan yang lebih luas daripada ukuran fikiran itu. Inilah yang tertulis dalam hati, yang sukar dilupakan selamanya. Ada suatu jawapan yang tergantung, yang saya sempat dengar dari mulut Zainab, dan keras persangkaan saya akan dirinya pada hari itu; itulah yang sentiasa menjadi penyakit pada saya, tetapi menjadi ubat juga. Kemudian saya insaf, bahawa alam ini penuh dengan kekayaan. Allah menunjukkan kuasaNya. Tidaklah adil jika semua makhluk dijadikan dalam tertawa, yang akan menangis pun ada pula. Kita mesti mengukur perjalanan alam dengan ukuran yang luas, bukan dengan nasib diri sendiri. Bukankah patut saya syukur dan terima kasih, sebab seorang perempuan tua dapat saya tolong, saya patahkan hati anaknya yang hanya satu tempat menumpahkan segala pengharapannya. Kalau kelak terjadi perkahwinan Zainab dengan kemanakan ayahnya dan mereka hidup beruntung, sehingga Mak Asiah waktu menutup mata tidak merasa bahawa ia masih ada hutang piutang dengan anaknya, bukankah saya telah mengusahakannya? Memang, mula-mula hati itu mesti bergoncang; bukahkan loceng-loceng dirumah juga berbunyi keras dan berdengung jika kena pukul? Tetapi akhirnya, dari sedikit ke sedikit, dengung itu akan berhenti juga. Cuma saja saya mesti berikhtiar, supaya luka-luka yang hebat itu jangan mendalam kembali, saya mesti berusaha, supaya ia beransur-ansur sembuh. Untuk itu saya mesti berusaha, saya mesti meninggalkan Kota Padang, terpaksa tak melihat wajah Zainab lagi, saya berjalan jauh.
Setelah saya siapkan segala yang perlu dan rumahtangga saya pertaruhkan kepada salah seorang sahabat handai yang setia, dengan tak seorang pun yang mengetahui, saya berangkat meninggalkan Kota Padang, kota yang permai dan yang sangat saya cintai itu, dengan menekankan dan membunuh segala perasaan yang sentiasa mengharu hati, saya tumpangi kereta yang berangkat ke Siantar. Di kiri kanan saya banyak penumpang lain yang akan menuju ke kota Medan, setelah saya sampai ke Medan, saya buat surat kepada Zainab, sesudah hati saya, saya beranikan; itulah surat saya yang pertama kali kepadanya. Jika kelak ternyata dia tak cinta kepada saya, syukur, sebab saya tak melihat mukanya yang kesal membaca surat. Tetapi kalau ia nyata ada mempunyai perasaan sebagi yang saya rasai dan surat itu diterimanya dengan sepertinya, tentu sekurang-kurangnya saya akan menerima belas kasihannya, sebagai seorang melarat yang diarak oleh untung nasib saya. Demikian bunyi surat itu masih hafaz oleh saya: " Menyesal sekali, kerana sebelum berangkat tak sempat saya bertemu muka dengan adinda lebih dahulu, maafkanlah adik, kerama amat banyak halangan yang menyebabkan saya tak sempat datang ketika itu, halangan yang tak sapat saya sebutkan. Barangkali agak sedikit tentu adik bertanya juga dalam hati, apa gerangan sebabnya abang Hamid berangkat dengan tiba-tiba. Biarlah hal itu menjadi soal buat sementara waktu, lama-lama tentu akan hilang jua dengan sendiri. Banyak hal-hal yang akan saya terangkan dalam surat ini, tetapi tak sanggup pena saya menulisnya. Hanya dengan surat ini saya bermohon sangat supaya adik menuruti cita-cita ibu. Jika kelak maksud famili sampai dan adik bersuami; berikan kepadanya kesetiaan yang penuh. Akan hal diri saya ini, ingatlah sebagai mengingat seorang yang telah pernah bertemu dalam peri penghidupanmu, seorang sahabat dan boleh juga disebut saudara yang ikhlas dan saya sendiri akan memandang tetap engkau sebagai adikku. Jika pergaulanmu kelak dengan suamimu berjalan dengan gembira dan beruntung, sampaikanlah salam abang kepadanya. Katakan bahawa di suatu negeri yang jauh, yang tak tentu tanahnya, ada seorang sahabat yang sentiasa ingat akan kita. Dan biarlah Allah memberi perlindungan atas kita semuanya. Wassalam abangmu, Hamid, Demikianlah bunyinya surat yang saya kirimkan. Tiada lama saya di Medan, saya menuju ke Singapura, mengembara ke Bangkok, belayar terus memasuki tanah-tanah Hindustan, dan dari Karachi belayar menuju ke Mesir masuk ke Iraq, melalui Sahara Najad dan akhirnya sampailah saya ke tanah suci ini. Sekarang sudah tuan lihat, saya telah ada di sini, di bawah lindungan Ka`bah yang suci, terpisah daripada pergaulan manusia yang lain. Di sinilah saya selalu tafakur memohon kepada Tuhan seru sekalian alam, supaya ia memberi saya kesabaran dan keteguhan hati menghadapi kehidupan. Setiap malam saya duduk beri`tikaf di dalam Masjidil Haram, doa saya telah berangkat ke langit
biru, membumbung ke dalam alam ghaib bersama-sama permohonan segala makhluk yang makbul. Segala ingatan kepada zaman yang lama-lama, dari sedikit beransur-ansur lupa juga. Cuma sekali-sekali ia terlintas difikiran, ketika itu saya menarik nafas panjang, kerana biar pun luka sembuh dengan kunjung, bekasnya mesti ada juga. Tetapi hilang pula dengan segera, bila saya bawa tawaf dan sa`ie(berjalan antara Safa dan Marwah), atau saya bawa bertekun di dalam masjid tengah malam. Sudah hampir datang tamaninah (ketetapan) ke dalam hati saya menurut persangkaan saya mula-mula, tamatlah cerita ini sehingga itu. Bersambung....
BERITA DARI KAMPUNG
Setelah setahun saya di sini dan waktu mengerjakan haji telah datang. Tuan sendiri yang mula-mula saya kenal semenjak orang-orang yang akan mengerjakan haji dari tanahair kita. Kemudian sebagai tuan maklum, datanglah pula saudara kita Salleh ini. Salleh adalah salah seorang teman saya semasa kami bersekolah agama di Padang dan Padang Panjang; oleh kerana sekolahnya di Padang telah tamat, dia hendak meneruskan pelajarannya ke Mesir, ia singgah di Mekah ini untuk mencukupkan rukun. Sekarang ia berangkat ke Medinah, supaya sehabis haji dapat ia menumpang kapal yang membawa orang Mesir kembali yang sewanya lebih murah dari kapal-kapal lain. Dengan kebetulan sekali, dia telah memilih syeikh kita menjadi tempatnya, menumpang, sehingga sahabat lama itu bertemu kembali, setelah kami bercerai selama itu. Wahai tuan….. kedatangannya telah menghidupkan ingatan kembali kepada yang lama-lama, dia menceritakan kepadaku, bahawa dia telah beristeri dan isterinya telah sudi melepaskan die belajar sejauh itu. Padahal mereka baru saja berkahwin. Dipujinya isterinya sebagai seorang perempuan yang setia, yang teguh hatinya melepaskan suaminya berjalan jauh, kerana untuk menambah pengetahuannya. Setelah beberapa hari dia datang, dibawanya saya ke Maala di atas sebuah bangku di halaman qahwa ia membicarakan akan suatu hal yang sangat menggerakkan fikiran saya. Sambil meminum syahi (teh) Arab yang panas dan enak, ia mulai berkata: " Hamid! Tempoh hari sudah saya katakan, bahawa saya telah beristeri, isteri saya itu ialah Rosnah..ingatkah engkau akan Rosnah, sahabat karib Zainab?" Saya pucat mendengar nama Zainab disebutnya. Kerana sudah lama benar saya tiasa mendengar nama itu disebut orang, kecuali saya sendiri, perubahan muka saya itu dilihat oleh Salleh sambil tersenyum duka. " Kerapkali isteriku disuruhnya datang kerumahnya" katanya meneruskan ceritanya. " Kerana hubungan persahabatan mereka itu yang karib. Rupanya Zainab telah sudi membukakan rahsia-rahsianya yang sulit kepada isteri saya. Yang paling hebat, ialah seketika pada suatu hari isteri saya datang ke rumahnya, didapatinya Zainab merenung sebuah album, di dalam album itu terkembang sehelai surat kecil yang telah lusuh dan lunak, kerapkali dibaca dan dibuka lipatannya. " Setelah adinda kelihatan olehnya" kata isteriku," album itu ditutupnya dengan segera dan surat itu disimpannya baik-baik ke dalam laci mejanya, setelah itu dia kelihatan kepada adinda dengan tenang, wajahnya muram, matanya berbekas tangis dan dia menarik nafas panjang".
" Tiada tahan rupanya hati isteriku melihat kejadian itu, maklumlah kaum perempuan itu seperasaan, lalu ia berkata: " Zainab!.... mengapa engkau menangis pula, sahabat? Tidakkah di rumah yang sepermai ini sarang orang yang berdukacita.Di rumah yang indah-indah dan gedung yang permai, yang di kiri kanannya dikelilingi oleh kebun-kebun yang subur, cukup dengan orang-orang gajian yang setia, tiadalah patut terdapat orang yang mengalirkan airmata. Disana tidaklah ada kesedihan dan kedukaan." Zainab menjawab: " Salah sekali persangkaanmu, sahabat! Bahawasanya airmata tidaklah ia memilih tempat untuk jatuh, tidak pula memilih waktu untuk turun. Airmata adalah kepunyaan bersyarikat, dipunyai oleh orang-orang yang melarat yang tinggal di dangau-dangau yang buruk, oleh tukang sabit rumput yang masuk ke padang yang luas dan ke tebing yang curam, dan juga oleh penghuni gudang-gudang yang permai dan istana-istana yang indah. Bahkan di situlah lebih banyak orang menelan ratap dan memulas tangis. Luka jiwa yang mereka hidupkan, dilingkung oleh tembok dinding yang tebal dan tinggi, sehingga yang kelihatan oleh orang di luar penuh dengan kepahitan." " Kesedihan orang lain lebih merdeka dan lebih puas, dapat ia menerangkan fahamnya yang tertumbuk kepada alam yang sekelilingnya, dapat pula mereka lupakan dan menghilangkan. Tetapi di rumahtangga yang sebagai ini, kedukaan akan dirasakan sendiri, airmata akan dicucurkan seorang, rumah dan gedung menjadi kubur kesedihan yang tiada berhujung". Airmata Zainab kembali jatuh. " Mengapa engkau menangis juga, sahabatku! Kesedihan apakah yang engkau tanggungkan? Teringatkah engkau kepada ayahmu? Kalau demikian, engkau salah, Zainab! Lupa engkau agaknya, bahawa kedukaan itu tumbuh diapit oleh dua rumpun kesukaan." " Bukan demikian, sahabat!" jawabnya. " Buat diriku sendiri, Tuhan telah mentakdirkan berlainan dari orang. Kedukaanku tumbuh di antara dua kedukaan pula. Dahulu saya telah berduka, sekarang berdukacita dan kelak akan terus berluka hati." " Engkau mengesali nasib, Zainab!" " Menyesali nasib saya tidak, menyedar untung saya bukan, melainkan yang sebetulnyalah yang saya katakan." " Zainab…. Kalau tidak akan merbahaya benar, nyatakanlah kepadaku, apa yang menjadi sebab dukacitamu sebesar itu benar. Kerana sudah agak lama saya melihat mukamu muram, sehingga airmata saya sendiri kerapkali bersyarikat, tercurah untuk kesedihanmu, sahabat! Saya akan meratap menuruti ratap engkau, kerana tidak ada kepandaian kita kaum perempuan selain dari menangis." Laksana seorang anak yang memohon dikasihani, dipeluknya Rosnah, seketika lamanya kedua sahabat itu berpeluk-pelukan, bertangis-tangis tiada berkata-kata. " Sudahlah, zainab, ingatlah akan dirimu, kelak engkau, demikian pun saya, ditimpa oleh penyakit lain. Ceritakanlah kepada saya hal yang engkau rahsiakan itu, mudah-mudahan kerana sesudah ada tempat menerangkan, tanggungan itu supaya ringan sedikit, sebab beban untuk sendiri telah dibahagi dua." Mula-mula termenung, setelah beberapa saat lamanya ia pun berkata: Bersambung....
HARAPAN DALAM PENGHIDUPAN "
Ingatkah engkau, Ros, bahawa duhulu ada tinggal berhampiran rumahku ini seorang anak muda bernama Hamid?" " Masihkah aku tak ingat, anak muda yang baik budi dan beroleh pertolongan daripada almarhum ayahmu." " Ah, Ros, saya amat kasihan kepada orang muda itu, dia seorang muda yang hidup miskin, mendapat bantuan daripada ayahku, semasa usianya baru 4 tahun ayahku yang membantunya, dan seketika sekolahnya akan lanjut, ayahku meninggal pula,
kemudian meningal ibunya. Rupanya kerana ia sentiasa dirundung malang, sangatlah dukacita hatinya, berbulan-bulan khabar tidak berita pun tidak, budinya baik sekali, pekertinya tinggi dan mulia; memang dalam kalangan orang-orang yang dirudung malang itu kerapkali timbul budi pekerti yang mulia, timbul dengan baik dan suburnya, bukan kerana latihan manusia. " Bertahun-tahun lamanya kami hidup seperti adik beradik; maka pada dirinya saya dapati beberapa sifat yang tinggi dan terpuji, yang agaknya tidak ada pada pemuda-pemuda lain, baik dalam kalangan bangsawan atau hartawan sekalipun. Sampai kepada saat yang paling akhir daripada kehidupan ayahku, belum pernah ia menunjukkan suatu perangai yang patut dicela, sehingga ibu-bapaku amat memuji akan dia. Ia tahu benar akan kewajipannya. Wahai Ros, saya tertarik benar kepadanya dan kepada tabiatnya. Ia suka sekali bersunyi-sunyi, memisahkan diri daripada pergaulan ramai, laksana seorang pendita bertapa yang benci akan dunia lata ini. Kerapkali ia pergi bermenung ke tepi pantai samudera Hindi yang luas itu, memerhatikan pergelutan ombak dan gelombang, seakan-akan fikirannya terpaku telah terpaku kepada keindahan alam ini. Bila dia pulang ke rumah ibunya yang dicintai, ia menunjukkan khidmatnya dengan sepertinya bila dia bertemu dengan saya, buah katanya tiada keluar dari lingkar kesopanan, tahu ia menimbang hati dan menjaga kata. Sebagai yang kau tahu, kita pun tamat dari sekolah, maka adat-istiadat telah mendinding pertemuan kita dengan lelaki yang bukan muhrim bukan saudara atau famili karib, waktu itulah saya merasai kesepian yang sangat. Saya merasa kehilangan seorang teman yang sangat saya takjupi. Keadaan memisahkan saya dengan dia, tiada dapat lagi saya mendengarkan buah tuturnya yang lemah lembut. Waktu itulah saya insaf, bahawa saya sudah ditimpa suatu perasaan yang ganjil, saya lengang dan sunyi, ingatan saya sebentar-sebentar kembali kepada Hamid saja. " Engkaukan tahu, Ros, Hamid tidak begitu gagah, tidak sepantas dan segalak pemuda lain, tetapi hati kecilku amat kasihan kepadanya, agaknya, hidupnya yang sederhana itulah yang telah memaut hati sanubariku. Saya sangat hiba kepadanya kerana saya merasa tak ada orang lain yang akan menghibai dirinya. Hairan Ros, saya telah karam di dalam khayal, di dalam angan-angan. Kadang-kadang saya singkirkan dia dari fikiran, kerana timbul memikirkan takburku memikirkan darjatku, saya merasai ketinggian dan kemuliaan diriku, lebih daripada kedudukan darjat Hamid dan saya takut terjatuhnya ke dalam jurang cinta, tetapi orang mengkhabarkan bahawa takut itupun setengah daripada rupa cinta juga." Maka di antara awan yang gelap gelita dan angin badai yang berhembus semenjak pertengahan malam, tiba-tiba cahaya fajar pun naiklah, itulah kenang-kenangan dan pengharapan, daripada cinta dan rindu dendam. Sebenarnya Ros…..saya cinta kepada Hamid. Biar engkau tertawakan daku, sahabat, biar mulutmu tersenyum simpul, saya akan tetap berkata, bahawa saya cinta kepada Hamid. Ia tidak berpembela, tidak ada orang yang akan sudi menyerahkan diri menjadi isterinya, kerana dia miskin, tidak ada gadis yang akan sudi mempedulikan dia, kerana rupanya tak gagah. Itulah sebabnya dia saya cintai, hartaku ada sedikit, cukup untuk membantu cita-citanya, kerana saya lihat dia akan menjadi seorang ahli seni jika ada yang membantu. Buat saya dialah orang yang paling pantas dan cekap. Meskipun bagi orang lain agaknya tidak. Saya leluasa melihatnya lalu lintas di halaman rumah, meskipun dia tak melihat saya. Jika sekali-sekali dia datang mengunjungi ibuku, aku dengarkan perkataannya yang penuh dengan ilmu dan pengetahuan itu baik-baik. Pada suatu hari, hari yang tak dapat saya lupakan, ia datang kerumah ini menemui ibuku. Ketika itu ibu tiada di rumah, tiba-tiba saya bertemu muka dengan dia. Rupanya ada perkataan yang
hendak dikatakannya, mulutnya masih gugup dan tak lancar, rasa-rasa terdengar olehku sekarang: " Zainab, sebenarnya tidaklah pernah saya lupa hendak datang kemari, barangkali engkaulah yang agak lupa kepadaku." Alangkah nikmatnya rasa hatiku mendengar perkataannya itu, tetapi belum sempat saya menyusun kata untuk menjawab, ibu datang, perkataan kami terhenti sehingga itu. Badanku serasa bayang-bayang perkataannya menjadi teka-teki bagi hatiku, adakah tutur katanya itu daripada rasa pertalian adik dan abang saja atau daripada kesucian cinta? " Agaknya, engkau pandang rendah saya ini, Ros, mencintai seorang yang tiaa bersekedudukan dengan diri sendiri, dan jauh tak tentu tempatnya." " Waktu itu isteriku menjawab," kata salleh, ujarnya: " Tidak Nab, cinta itu adalah perasaan yang mesti ada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci, Cuma tanahnya lah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipuan, langkah serong dan lain-lain perangai yang tercela. Tetapi kalau ia jatuh ke tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budipekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. Saya tiada hendak menghinakan engkau kerana jatuh cinta padanya, wahai sahabatku Zainab, dan saya banyak pula membaca dalam buku-buku, bahawa biasa cinta yang suci bersih itu tidaklah tumbuh dengan sendirinya, kerana jiwa itu bertemu dengan batin, dalam azal (baka) kejadian Allah sebelum badan kasar manusia ini berkenalan. Itulah kuasa ghaib yang perlu kita percayai. Sebab itu saya percaya bahawa cintamu tak jatuh ke pasir tentu saja Hamid mencintai engkau pula; tidaklah jiwa engkau tertarikh mengingat akan dia, kalau kiranya jiwanya tak mengingat engkau pula. Hati orang yang bercinta mempunyai mata, ia dapat melihat barang yang tak dilihat oleh orang lain." " Ah" jawab Zainab " Itu Cuma kira-kira dan agak-agak belaka, agak-agak dan kira-kira tak dapat dipercayai, masakan orang yang berpisah sangat jauh, tak berhubungan surat sedikit jua pun akan ingat kepada orang yang ditinggalkannya." " Jangan begitu, Zainab, engkau tiada percaya percakapanku, kerana hatimu terlalu dipengaruhi oleh angan-anganmu. Percayalah bahawa Hamid ingat pula akan engkau." " Wahai……kesana rumit..ke sini rumit, Ros; saya percayai bahawa dia ingat kepadaku sebagaimana saya ingat kepadanya, entah agaknya saya menggantang-gantang asap. Tidak saya percayai, hati saya bertambah luka. Saya tahu mengingat orang jauh itu penyakit, tetapi saya pun takut penyakit itu akan hilang dari hati saya….aduh gusti Allah!!" Setelah itu terhenti sendiri percakapan kedua sahabat itu. Yang kedengaran hanya sedu-seduan dua orang seperasaan dan yang kelihatan ialah orang yang keluh kesah putus asa." Sekianlah cerita yang dibawa oleh sahabat kita Salleh itu. Tidak berapa lama ia menerima riwayat ganjil itu dari isterinya, ia pun berangkat. Rupanya dengan takdir Tuhan, kami pun bertemu di tanah suci ini, pertemuan yang tidak di sangka-sangka sedikit pun. " Barangkali terganggu perjalanan jiwamu menuju bakti kesucian kerana mendengar berita yang saya bawa itu" kata Salleh. " Tetapi saya sebagai orang yang tiada tahan memegang rahsia sehingga terkatakan juga olehku kepada engkau, dan beruntung engkau Hamid…..Berbahagia sekali." " Apakah keuntungan dan bahagianya cinta yang tak berpengharapan? " Tanya saya dengan tiba-tiba kepadanya.
" Bukanlah cinta itu sudah satu keuntungan dan satu pengharapan Hamid?" Tanyanya pula….. Setelah itu saya menerangkan berita itu, tidak berapa hari kemudian Salleh mengirimkan sepucuk surat buat isterinya Rosnah menerangkan pertemuan kami dengan tiba-tiba itu….. Tuan!….telah bertahun-tahun saya berjalan di dalam gelap gelita. Tidak tentu arah yang saya tempuh, tidak kelihatan suatu bintang di halaman langit akan saya jadikan pedoman dalam menuju perjalanan itu demi setelah sampai berita yang demikian. Seakan-akan kegelapan itu terang sedikit ke sedikit, sebab dari Timur melintang cahaya fajar, cahaya yang saya nanti-nanti, cahaya itu lebih benderang dari cahaya suria, lebih nyaman dari cahaya bulan dan lebih dingin dari cahaya kelap-kelip bintang-bintang. Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu padang belantara yang jauh laksana seorang bersalah besar yang dibuang negeri, tiada manusia yang datang menengok, tidak ada famili yang melihat, ditimpa oleh haus dan dahaga, sekarang saya telah lepas dari pembuangan, saya telah dibolehkan pulang dan beroleh ampun, telah ada manusia yang lalu-lintas, telah hilang haus dan dahaga, sekarang baru saya tahu dan mengerti, bahawa sukacita itu ada juga dijadikan Tuhan di dalam dunia fana ini. Dahulu kalau disebut orang kepada saya untung dan bahaya, tidak lain yang terlintas dalam fikiran saya daripada rumah yang indah, gedung yang permai, wang berbilang, emas bertahil, cukup dengan kenderaan dan kehormatan, dijunjung orang ke mana pergi. Sekarang saya telah insaf, bahawa semua itu bukan untuk bahagia, yang sejati ialah jika kita tahu, bahawa kita bukan hidup terbuang di dalam dunia ini, tetapi ada orang yang mencintai kita. Lebih setahun saya menghilangkan diri, tidak ada orang lain yang bertanya hal ehwal saya dan saya pun tak bertanya hal ehwal orang lain. Segala kesakitan hidup telah saya tanggungkan. Ada juga orang yang menyatakan kasihan, ada orang yang lalu lintas di hadapan saya, sambil menggelengkan kepala. Tetapi bukanlah mereka mengasihi jiwa saya, mereka mengasihi tubuh kasar saya yang kurus tak makan atau ditimpa penyakit. Semuanya tiada erti buat saya. Sekarang barulah saya tahu diri saya ada harganya buat hidup, sebab ada orang yang mencintai saya, iaitu orang yang saya cinta. Dahulu saya telah putus asa hendak hidup, kadang-kadang terlintas di dalam hati saya hendak membunuh diri. Akan sekarang, wahai tuan, saya hendak hidup, hendak merasai kelazatan cahaya matahari sebagai orang lain pula, sebab pengetahuan hidupku telah ada. ************ ********* ************ Habislah cerita sahabatku Hamid hingga itu, mukanya kelihatan berseri-seri, sebab simpanan di dadanya meluap selama ini telah dapat ditumpahkannya kepada orang yang dapat dipercayainya. Waktu itu saya menjawab sambil bergurau sedikit: " InsyaAllah, habis mengerjakan haji saya akan lekas kembali pulang, mudah-mudahan kita dapat pulang bersama-sama." Iapun menjawap sambil tersenyum " Mudah-mudahan………" Bersambung....
SURAT-SURAT
Sepuluh hari sebelum orang-orang haji berangkat ke `Arafah mengerjakan wuquf jemaah-jemaah
telah kembali dari ziarah besar ke Madinah. Waktu itulah pula Salleh kembali ke Mekah. Surat balasan dari isterinya yang datang sepeninggalannya ke Madinah telah kami serahkan ke tangannya. Dalam minggu itu juga datang surat Zainab kepada Hamid. Salinan surat Rosnah. Kandaku tuan! Surat kekanda telah adinda terima, surat yang telah lama adinda harap-harapkan…. Disini ada beberapa perkataan lagi- isteri (yang tak perlu saya salin) Akan hal Zainab ia sekarang sakit-sakit, badannya telah kurus agaknya kerana selalu ingat segala kejadian yang lama-lama itu, adinda, tiada dapat menahan hati, melihat surat kekanda kepadanya. Seketika membaca surat itu, badannya kelihatan gementar, entah kerana cemasnya entah kerana harapannya, dapatlah kekanda maklumi sendiri. Ia sangat harap dan sangat rindu hendak bertemu dengan Hamid, tetapi hatinya menjadi syak wasangka memikirkan badannya yang selalu tiada sihat itu, entah akan bertemu juga entah tidak. Alangkah beruntungnya dua orang bersahabat itu kelak, jika mereka dapat bertemu kembali. Ya, mudah-mudahan Allah yang pengasih lagi penyayang mengkabulkan permohonan hambaNya, Amin! Rosnah. Salinan surat Zainab Abangku Hamid! Baru sekarang adinda beroleh berita di mana abang sekarang. Telah hampir dua tahun hilang saja dari mata, laksana seekor burung yang terlepas dari sangkarnya sepeninggalan yang empunya pergi. Kadang-kadang adinda sesali diri sendiri. Agaknya adinda telah bersalah besar sehingga kekanda pergi tak memberitahu dahulu. Sayang sekali, pertanyaan abang belum adinda jawab dan abang hilang sebelum mulutku sanggup menyusun perkataan penjawabnya. Kemudian itu abang perintahkan adinda menurut perintah orang tua, tetapi adinda syak-wasangka melihatkan sikap abang yang gugup ketika menjatuhkan perintah itu. Wahai abang…. Pertalian kita diikat oleh beberapa macam tanda Tanya dan tekateki, sebelum terjawab semuanya, kita telah berpisah dengan tiba-tiba. Memang demikiankah kehendah takdir? Adinda sentiasa tiada putus pengharapan, adinda tunggu khabar dan berita. Di balik tiap-tiap kalimah daripada suratmu. Abang!....surat yang terkirim dari Medan, ketika abang akan belayar jauh, telah adinda periksa dan adinda selidik; banyak sangat surat itu berisi bayangan, di balik yang tersurat ada yang tersirat. Adinda hendak membalas tetapi kearah manakah surat itu hendak adinda kirimkan, abang hilang tak tentu rimbanya! Hanya kepada bulan purnama di malam hari adinda bisikkan dan adinda pesankan kerinduan adinda hendak bertemu. Tetapi bulan itu tetap tak datang; pada malam yang berikutan dan seterusnya ia kian kusut….. hanya kepada angin petang yang berhembusan di ranting-ranting kayu di dekat rumahku, hanya kepadanya ku bisikkan menyuruh supaya ditolongnya memeliharakan abangku yang berjalan jauh, entah di darat di laut entah sengsara kehausan.
Hanya kepada surat abang itu, surat yang hanya sekali itu adinda terima selama hidup adinda tumpahkan airmata, kerana hanya menumpahkan airmata itulah kepandaian yang paling penghabisan bagi orang perempuan. Tetapi surat itu bisu, meski pun ia telah lapuk dalam lipatan dan telah layu kerana kerap dibaca, rahsia itu tidak juga dapat dibukanya. Sekarang abang, badan adinda sakit-sakit, ajal entah berlaku pagi hari entah besok petang, gerak Allah siapa tahu, besarlah pengharapanku supaya abang dapat pulang, dapat juga hendaknya kita bertemu….. dan jika abang terlambat pulang, agaknya bekas tanah penggalian, bekas air penalkin dan jejak mijan yang dua, hanya yang akan abang dapati. Adikmu yang tulus: Zainab. Wahai, akan dapatkah dilukiskan, dapatkah diperikan bagaimana wajah Hamid ketika membaca surat itu? Dapatkah, mungkinkah dikira-kirakan bagaimana perasaannya di waktu itu? Surat demikian adalah pengharapannya selama ini, pengharapannya dan buah mimpinya semasa ia masih bergaul, memikirkan kerendahan darjatnya, tiadalah disangka-sangkanya bahawa ia akan seberuntung itu, menerima surat dari Zainab, belumlah besar kegembiraan seorang budak jika ia diajak tersenyum oleh penghulunya; belumlah besar sukacita seorang pelayan istana jika ia dianugerahi sebentuk cincin oleh rajanya. Surat tanda cinta dari seorang perempuan, perempuan yang mula-mula dikenal dalam penghidupan seorang pemuda, adalah lebih berharga kepada senyuman seorang penghulu daripada budaknya yang lebih mulia daripada sebentuk cincin yang dianugerahkan raja kepada pelayannya. Satu hati, adalah lebih mahal daripada senyuman, satu jiwa adalah lebih berharga daripada sebentuk cincin. Tetapi malang kerana surat itu diterima Hamid, ketika dia telah jauh dari hadapan Zainab. Apa lagi manusia tidak dapat menentukan nasibnya sendiri.
DI BAWAH LINDUNGAN KAABAH
Pada hari kelapan Zulhijjah perintah daripada syeikh kami menyuruh menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke `Arafah, kerana pada hari kesembilan akan wuquf (Berhenti sehari lamanya) di sana. Berangkat itu ialah tiga hari setelah kami menerima surat tersebut. Akan hal Hamid, bermula menerima surat itu tidaklah berkesan pada mukanya, bahawa dia dipengahruhi oleh isinya, tetapi setelah sehari dua hari, kelihatan ia termenung saja, bertambah daripada biasa, ketika kami tanyai keadaannya, ia mengatakan, bahawa badannya terasa sakit-sakit. Tetapi oleh kerana pergi wuquf ke `Arafah menjadi rukun daripada mengerjakan haji, tak dapat tidak ia pun mesti ikut ke sana. Maka dipasanglah sakdup-sakdup di punggung unta yang beribu-ribu banyaknya. Bersedia hendak membawa orang haji ke `Arafah itu. Kira-kira pukul empat petang, jemaah-jemaah telah berangkat berduyun-duyun menuju ke `Arafah, jalan sempit dan penuh oleh manusia dan kenderaan berbagai-bagai, ada yang mengenderai keldai, kuda dan unta, tetapi yang paling banyak duduk dalam sakdup iaitu dua buah tandu yang dipasang kiri kanan punggung unta. Saya bersama dengan Hamid menumpang dalam satu sakdup. Di `Arafah sangat benar panasnya, sehingga ketika berhenti di tempat itu sehari lamanya, kita ingat-ingat akan berwuquf kelak di padang Mahsyar. Setelah matahari terbenam kami kembali
menuju ke Mina, berhenti sebentar di Muzdalifah memilih batu untuk melempar " Jumrah" di Mina itu kelak. Setelah berdiam di Mina pada hari yang ke sepuluh, ke sebelas, kedua belas, ketiga belas, bolehlah kembali ke Mekah mengerjakan tawaf besar dan Sai`e, setelah itu bercukur, sehabis bercukur baru disebut " haji". Pada perhentian besar di Mina itu, orang-orang yang kaya menyembelih korban untuk fakir dan miskin. Sekarang kembali diceritakan keadaan Hamid. Demamnya yang dibawa dari Mekah bertambah menjadi-jadi, lebih-lebih setelah mendapat hawa yang panas di `Arafah itu. Di sana banyak orang yang mati kerana kepanasan. Hamid tak mahu lagi makan, badannya sangat lelah, sehingga seketika berangkat ke Mina ia tiada sedarkan dirinya, demi melihat hal itu, jantung saya berdebar-debar, saya kasihan kepadanya. Kalau-kalau di tempat itulah dia akan bercerai buat selama-lamanya dengan kami, lebih-lebih melihat mukanya yang sangat pucat dan badannya yang sangat lemah. Setelah selesai penyembelihan besar itu, pada hari yang ke sebelas kami berangkat ke Mekah, iaitu mengerjakan rukun yang agak cepat, tidak menunggu sampai tiga hari. Sebelum mengerjakan tawaf besar itu, lebih dahulu kami singgah ke rumah kami. Kerana penyakit Hamid rupanya bertambah berat, terpaksalah kami mencarikan orang Badwi upahan, yang biasanya menerima upah mengangkat orang sakit mengerjakan tawaf. Sebelum Hamid diangkat ke atas bangku itu, yang diberi hamparan daripada kulit dahan kurma berjalin, khadam syeikh datang terburu-buru menghantarkan sepucuk surat dari Sumatera, setelah kami buka, ternyata datangnya dari Rosnah. Muka Salleh menjadi pucat,jantung saya berdebar-debar membaca isinya yang tiada sangka-sangka, Zainab telah meninggal, surat menyusul, Rosnah. Setelah dibacanya dengan sikap yang sangat gugup Salleh menyimpan surat kawat itu ke dalam sakunya, sambil memandang kepada Hamid dengan perasaan yang sangat terharu. Tiba-tiba dari tempat tidurnya Hamid kedengaran berkata; " Surat apakah yang tuan-tuan terima? Apakah sebabnya tuan-tuan sembunyikan daripadaku? Adakah ia membawa duka atau khabar suka? Jika ia khabar suka, tidakkah patut saya diberi sedikit saja daripada kesukaan itu? Kalau khabar itu mengenani diri saya sendiri lebih baik tuan-tuan terangkan kepada saya lekas-lekas, tidaklah patut tuan-tuan sembunyikan lama-lama jangan dibiarkan saya di dalam sakit menanggung perasaan yang ragu-ragu." " Tenagkanlah hatimu, sahabat! Kehendak Allah telah berlaku, ia telah memanggil orang yang dicintaiNya ke hadratNya." " Oh, jadi Zainab telah dahulu daripadaku? " tanyanya pula. " Ya, demikianlah, sahabat!" Mendengar jawapan itu kepanya tertekun, ia menarik nafas panjang, dari pipinya meleleh dua titik airmata yang panas. Tidak beberapa saat kemudian, datanglah Badwi tersebut membawa tandu yang kami pesan, Hamid pun dipindahkan ke dalam dan diangkat dengan segera menuju Masjidil Haram, saya dan Salleh mengiringkan di belakang menurut Badwi yang berjalan cepat itu. Setelah sampai di dalam masjid, dibawalah dia tawaf keliling Ka`bah tujuh kali. Ketika sampai yang ke tujuh kali diisyaratkannya kepada Badwi yang berdua itu menyuruh menghentikan tandunya di antara pintu
Ka`bah dengan batu hitam, di tempat yang bernama Maltezam, tempat segala doa yang makbul. Orang lain tawaf pula berdesak-desak. Dengan sifat sabar orang-orang Badwi mengangkat tandu ke dekat tempat yang tersebut. Hati saya sangat berdebar melihatkan keadaan itu, saya lihat muka Hamid, di sana sudah nampak terbayang tanda-tanda kematian. Sampai di sana dihulurkannya tangannya, dipegangnya kesoh kuat dengan tangannya yang telah kurus, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi. Saya dekati dia, kedengaran oleh saya dia membaca doa demikian bunyinya: " Ya Rabbi, ya Tuhanku, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, di bawah lindungan Ka`bah, rumah Engkau yang suci dan terpilih ini, saya menadahkan tangan memohon kurnia. Kepada siapa lagi yang saya akan pergi memohon ampun, kalau bukan Engkau ya Tuhanku! Tidak ada suatu tali pun tempat saya bergantung, lain daripada tali Engkau, tidak ada pintu yang akan saya tutup, lain daripada pintu Engkau. Berilah kelapangan jalan buat saya, saya hendak pulang ke hasrat Engkau; saya menuruti orang-orang yang dahulu daripada saya, orang-orang yang bertali hidupnya dengan hidup saya. Ya Rabbi, Engkaulah Yang Maha Kuasa, kepada Engkaulah kami sekalian akan kembali….." Setelah itu suaranya tidak kedengaran lagi; di mukanya terbayang suatu cahaya muka yang jernih dan damai, cahaya keredhaan daripada Ilahi. Di bibirnya terbayang suatu senyuman dan….sampailah waktunya lepaslah ia daripada tanggungan dunia yang amat berat ini, dengan keizinan Tuhannya, di bawah lindungan Ka`bah! Pada hari itu selesailah mayat sahabat yang dikasihi itu dimakamkan di perkuburan Ma`ala yang masyhur.
SURAT ROSNAH YANG MENYUSUL
Dua minggu sudah kejadian itu, datanglah surat Rosnah yang dijanjikannya kepada suaminya itu, demikian bunyinya: " Kekanda yang tercinta!" Adinda kirimkan surat ini menyusul surat kawat yang dahulu. Zainab meninggal. Apakah dari itu lagi yang harus adinda nyatakan? Dia telah menanggung penyakit dengan sabar dan tawakkal, mula-mula adinda hendak sampaikan khabar ini kepada Hamid, sebab sentiasa Hamid menjadi buah mulutnya sampai saatnya yang penghabisan, tiba-tiba kawat kekanda datang pula, Hamid telah menyusul kekasihnya. Demikianlah kedua makhluk yang tidak beruntung nasibnya itu, mudah-mudahan arwahnya mendapat bahagia di akhirat. Adinda harus mengaku, bahawa jarang sekali kita bertemu dengan seorang perempuan sebagai Zainab. Tidak ada orang yang tahu tentang keadaan dirinya, kecuali ibunya dan adinda. Pendengaran yang sampai kepadanya, bahawa Hamid ada di Mekah mengobarkan kembali akan api yang telah hampir padam. Lima hari sebelum ia meninggal dunia, pagi-pagi benar dia sudah bangun dari tempat tidurnya, mukanya lebih jernih dari biasa. Dengan senyum dia berkata, bahawa dia bermimpi melihat
Ka`bah, dantara manusia yang sedang tawaf. Dia melihat Hamid melambaikan tangannya memanggil dia, supaya mendekatkan kepadanya, setelah dia mendekat dia terbangun….. Lepas hari itu, tidak banyak bicara lagi, doktor pun datang juga memeriksai dia, tetapi ketika melihat wajahnya, mengertilah adinda, bahawa ubat yang dibawanya sebenar-benarnya ialah buat ibu Zainab, tidak buat Zainab lagi, sebab di tangga ketika dia akan pulang, jelas benar oleh adinda doktor itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Pada malam 9 Zulhijjah panasnya naik daripada biasa. Kira-kira pukul dua tengah malam, dipandangnya adinda tenang-tenang, kemudian dilihatnya pula buku album yang terletak di meja tulisnya; adinda pun mengertilah apa yang dimaksudkannay. Adinda ambil album itu dan adinda buka. Demi dilihatnya gambar Hamid, jatuhlah dua titis airmata yang bulat dari mata yang telah cekung itu. Setelah itu diambilnya tangan ibunya, dibawanya ke dada. Maka dengan beransur-ansur, laksana lampu yang kehabisan minyak, bercerailah badannya dengan sukmanya. Kekanda, demikianlah kematian zainab, dan sekarang suatu pula yang menjadikan was-was adinda, iaitu keadaan ibunya, bagaimanakah kelak perasaan perempuan itu kerana kehilangan anaknya. Sekianlah dan buat semangat orang yang telah mati, adinda kirimkan salamku dan moga kekanda lekas pulang. Adindamu Rosnah
PENUTUP
Kian lama kian sunyilah tanah Mekah. Bukit-bukit yang telah gondola itu tegak dengan teguhnya laksana pengawal yang menyaksikan dan menjagai orang haji yang beransur pulang ke kampong masing-masing. Kedai-kedai kian sudah tutup, sebab 6 bulan pula lamanya pasar akan sepi. Tidak putus-putus unta berarak-arak diiringkan oleh gembalanya bangsa Badwi sambil bernyanyi-nyanyi. Sehari sebelum kami meninggalkan Mekah, pergilah kami berziarah ke perkuburan Ma,ala tempat Hamid dikuburkan. Di sana masih bertemu kesannya, meskipun agak sukar mencarinya, sebab telah banyak pula orang lain yang berkubur. Saya hadapkan muka saya ke pusara itu dan saya berkata: " Penghidupanmu yang tiada mengenal putus asa, kesabaran dan ketenangan hatimu menanggung sengsara, dapatlah menjadi tamsil dan ibarat kepada kami. Engkau telah mengambil jalan yang lurus dan jujur di dalam memupuk dan mempertahankan cinta. " Allah adalah Maha adil, jika sempit bagimu dunia ini berdua, maka alam akhirat adalah lebih lapang dan luas, di sanalah kelak makhluk menerima balasan dari kejujuran dan kesabarannya; di sanalah penghidupan yang sebenarnya, bukan mimpi dan bukan khayalan. " Kami pun dalam menunggu titah pula, sebab ada masanya datang dan ada masanya pergi. " Selamatlah, moga-moga Allah memberi berkat atas jiwamu dan jiwa Zainab." Pukul empat petang kami tawaf keliling Ka`bah " Tawaf Wida" ertinya tawaf selamat berpisah. Sehari itu juga kami akan berangkat ke Juddah. Saudaraku Salleh belayar dengan kapal yang
menuju ke Mesir…… Dan kapalku memecahkan ombak dan gelombang menuju ke tanahair yang tercinta………..
TAMAT
" Dalam kerendahan diri, ada ketinggian budi,
" Dalam kemiskinan harta, ada kekayaan jiwa,
" Dalam kesempitan hidup, ada keluasan ilmu,
" Hidup ini indah jika segalanya kerana Allah S.W.T.
* Penulis : Haji Abdul Malik Karim Abdullah (HAMKA)
* Tajuk : Dipetik dari buku Dibawah Lindungan Kaabah.
* Cetakan : Pustaka Antara
Langgan:
Entri (Atom)